Toraja di Waktu Senja yang Hujan

“Di sini kita bisa hidup lebih tenang dan menikmati hijaunya perbukitan.” Sepasang suami istri itu memutuskan untuk bertani setelah masa pensiunnya tiba lebih awal. Halim, ia pensiunan dokter sedan...

Toraja di Waktu Senja yang Hujan
Bacakan Artikel
Ilham Aidil

Pengajar PIBA UIN Alauddin Makassar

“Di sini kita bisa hidup lebih tenang dan menikmati hijaunya perbukitan.”

Sepasang suami istri itu memutuskan untuk bertani setelah masa pensiunnya tiba lebih awal. Halim, ia pensiunan dokter sedang istrinya, Ratmi, bekas karyawan bank—perempuan itu usianya lima belas tahun lebih muda dari Halim.

Setelah bertahun-tahun lamanya tinggal di kota, mereka memutuskan kembali ke kampung halamannya. Sudah lelah menghirup udara kota yang sesak dan banjir yang selalu berulang tahun di rumahnya.

Lelaki berusia 56 tahun lewat beberapa hari itu ingin menikmati masa tuanya. Hidup dengan suasana yang baru. Menikmati desau angin dan kesejukan alam Rumbia. Dengan begitu ia merasa bahagia dan jauh dari kesan mewah.

Bersama istrinya, lelaki itu mengolah lahannya yang selama ini tidak terurus. Mereka ingin hidup lebih sederhana. Banyak yang menawarinya untuk jadi kepala desa. Tetapi ia menolak. Tidak ingin pusing lagi dengan kerja-kerja kepala yang menguras banyak pikiran dan mengurus anggaran untuk pembangunan desa.

Barangkali ia ingin seperti Marah Roesli, penulis buku Siti Nurbaya. Tapi siapa menyangka ia banyak menulis Cerpen di media-media lokal, yang selalu ditungguinya setiap akhir pekan. Meski namanya selalu muncul di koran, tetapi tidak ada yang mengenal dirinya. Lebih memilih nama samaran.

Ia suka menikmati kopi dan membaca di pagi hari. Di kota ia masih bisa berlangganan dengan loper koran yang biasa mengantarkannya di pagi hari, tetapi di sini, sebagai gantinya ia membaca buku-buku.

Di rumahnya ada banyak buku-buku yang dikoleksinya selama dua puluh tahun, yang harapannya bisa membuat perpustakaan untuk masyarakat di desanya. Salah satu impiannya yang belum terwujud. Lelaki itu di sela-sela waktunya suka menulis. Bukan sebagai pekerjaan tetap sebagai hobi. Hanya orang gila yang bisa bertahan hidup dengan menulis. Jika ada bisa dihitung jari dan cukup beruntung.

Sambil menyeruput kopi susu dan mencicipi singkong rebus buatan istrinya, Ratmi, lelaki berkacamata itu membaca buku tentang proses tanam jagung. Ia banyak berkonsultasi dengan pendamping lapangan dari perusahaan yang bergerak di bidang pertanian. Tetapi ada beberapa hal yang membuatnya tidak cocok. Penggunaan bahan aktif kimia yang berlebihan pada tanaman, yang bisa merusak tanah dan lingkungan. Ia tidak ingin bertanam hanya untuk mencari keuntungan. Bukan itu yang ia cari. Ia memilih membuat pupuk alami, pengomposan dari daun-daun kering dan kotoran hewan.


Dan juga ia tidak ingin menebang pohon yang sudah bertahun-tahun lamanya itu, ia hanya memanfaatkan lahan yang bisa saja, untuk bercocok tanam tanpa harus mengorbankan pohon-pohon lainnya.

Musim hujan datang terlambat setelah hampir satu semester dihantam badai El Nino. Banyak petani yang mengeluhkan nasib mereka. Ladang tidak dapat ditanami, kering dan tandus. Di sanalah sumber kehidupan para petani. Bagaimana bisa mereka bertahan hidup, jika musim tanam tidak kunjung tiba. Tidak ada yang bisa dinanti sedang asap dapur harus tetap mengepul.  Bantuan sosial tidak bisa menyelamatkan dari lapar lebih lama, itupun sudah dipotong untuk kebutuhan administrasi. Tetapi bagi sebagian petani, masih bisa bertahan, situasi sulit sudah biasa dilewatinya. Masih tetap bisa menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi tanpa harus mengiba pada pemerintah.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2