Suara Perempuan Nusantara Tegas Tolak Tambang Pasir Laut dan Reklamasi

Klikhijau.com - Bertempat di Baruga Anging Mammiri, Rumah Jabatan Walikota Makassar, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan bersama dengan BothENDS dan GAGGA gelar diskusi publik....

Suara Perempuan Nusantara Tegas Tolak Tambang Pasir Laut dan Reklamasi
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Bertempat di Baruga Anging Mammiri, Rumah Jabatan Walikota Makassar, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan bersama dengan BothENDS dan GAGGA gelar diskusi publik.

Diskusi publik yang digelar pada Rabu, 27 Desember 2023 ini merupakan rangkaian dari Pertemuan Perempuan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Nusantara  yang diselenggarakan mulai tanggal 27 sampai 29 September 2023 lalu di Hotel Almadera Makassar.

Acara diskusi ini  dihadiri oleh berbagai perempuan yang berasal dari beragam daerah, yakni Pulau Kodingareng, Pulau Pari, Pesisir Pasar Seluma, Pesisir Semarang, Kalukubodoa, Bantaeng, Galesong, dan Bulukumba.

Tema yang diangkat pada diskusi ini adalah “Cerita Dari Laut: Daya Rusak Tambang Pasir Laut terhadap Lingkungan dan Hak Asasi Manusia (HAM).”

Pembicara yang hadir dalam kegiatan ini, yakni Zakia, Perempuan  Pulau Kodingareng, Makassar, Asmania, Perempuan Pulau Pari, Jakarta, Aklima Perempuan Pesisir Pasar Seluma, Bengkulu, dan Nur Chayati, Perempuan Pesisir,  Semarang Jawa Tengah.

Sedangkan penanggap diskusi publik ini berasal dari Komisioner Komnas Perempuan, Dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, dan Manajer Kampanye Pesisir dan Laut Eksekutif Nasional WALHI.

Harapan, tak ada reklamasi

Zakia, Perempuan Pulau Kodingareng, mengawali diskusi ini dengan menjelaskan bahwa meskipun aktivitas penambangan pasir laut sudah selesai beroperasi, namun dampaknya masih dirasakan sampai sekarang.

"Ombak yang semakin besar, banjir tiap mmusim penghujan, hingga air laut masih keruh ketika arus kencang. Ini semua berdampak sama perekonomian keluarga kami karena susah melaut. Akhirnya, banyak dari keluarga nelayan di Pulau Kodingareng keluar meninggalkan pulau untuk mencari penghidupan. Padahal mereka belum pernah sama sekali meninggalkan pulaunya," ujarnya.

Perwakilan perempuan selanjutnya dari Pulau Pari, Jakarta, Asmania. Asmania, dalam pernyataan awalnya menjelaskan bahwa jarak dari Pulau Pari ke Jakarta hanya sekitar dua jam. Namun, sampai sekarang permasalahan kami belum selesai semenjak tahun 2014.

"Beberapa masalah yang kini tengah dihadapi oleh kami dari masyarakat Pulau Pari, seperti abrasi yang sangat parah dan nyata. Bahkan, pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu saat ini juga terdampak penambangan pasir laut asal Belanda (Kapal MV Vox Maxima). Namun, kami tidak pernah berhenti berjuang. Saat ini, kami telah melakukan gugatan iklim ke Pengadilan Swiss dan juga mulai menanam mangrove untuk menjaga pulau kami dari abrasi," terangnya

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2