Mencurigai 3 Faktor Utama Penyebab Penurunan Populasi Kunang-Kunang

oleh -17 kali dilihat
Kunang-kunang
Kunang-kunang/foto-fireflyexperience.org

Klikhijau.com – Kunang-kunang adalah adalah serangga yang romantis dan puitik. Mereka tidak bisa ditemukan di sembarang waktu. Hanya pada malam hari saja.

Serangga dapat mengeluarkan cahaya ini namanya banyak kita temukan  digunakan dalam puisi, cerpen, novel atau bahkan lagu. Bahkan serial Legend of the Seeker menjadikan kunang-kunang sebagai inpirasi pada salah satu adegannya.

Adegan tersebut menceritakan sebuah tulisan hanya bisa terbaca melalui cahaya dari makhluk yang menyerupai kunang-kunang. Mereka menghuni hutan.

Bagi anak-anak yang lahir di tahun 80 atau 90-an dan tinggal di kampung yang dihuni banyak pohon. Kunang-kunang tidak akan lepas dari kenangan masa kecilnya. Apalagi saat lampu belum masuk ke kampung mereka.

KLIK INI:  Benarkah Akses Penduduk Perkotaan ke Ruang Hijau Semakin Berkurang?

Namun, semakin ke sini. Keberadaan serangga berkerlap kerlip ini semakin susah ditemukan. Populasinya semakin tergerus.

Sebuah studi para peneliti di University of Kentucky , Bucknell University , Pennsylvania State University , dan Departemen Pertanian AS (USDA). Mencoba mengulik apa penyebab populasi kunang-kunang menurun.

Studi tersebut memberikan wawasan baru mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi populasi kunang-kunang, khususnya di seluruh Amerika Utara.

Para peneliti menemukan ada tiga faktor utama yang membuat populasi kunang-kunang semakin menurut, yakni:

KLIK INI:  Tentang Kelahiran Anak Gajah di TNWK dan Cara Terbaik Menjaga Populasi Gajah Tetap Stabil
  • Perubahan iklim

Para peneliti menemukan jika kerentanan kunang-kunang terhadap variabel iklim seperti suhu dan curah hujan.

Kenapa demikian, karena kunang-kunang tumbuh subur di kondisi beriklim sedang. Kunang-kunang menyukai musim panas yang basah dan hangat.

Kondisi tersebut menyediakan lingkungan perkembangbiakan yang ideal dan musim dingin yang dingin dapat mendukung kelangsungan hidup kunang-kunang pada tahap belum dewasa.

Karena itu, dengan adanya perubahan iklim, kemungkinan besar akan menjadi tantangan yang sangat besar dan berat bagi serangga dari ordo Coleoptera itu.

“Perubahan kecil dalam pola iklim, terutama terkait suhu , berdampak signifikan terhadap siklus perkembangbiakan kunang-kunang dan kualitas habitat,” kata penulis utama studi Darin McNeil, asisten profesor ekologi dan manajemen satwa liar di Universitas Kentucky.

KLIK INI:  Selain sebagai Sayuran, Okra Juga Dapat Mengatasi Mikroplastik
  • Polusi cahaya

Polusi cahaya tidak hanya mengancam kelangsungan hidup burung-burung, tetapi juga kunang-kunang.

Para peneliti menemukan bahwa pertumbuhan perkotaan dan polusi cahaya dapat berdampak negatif terhadap spesies ini.

McNeil mengatakan bahwa lampu buatan di malam hari dapat mengganggu populasi kunang-kunang, kemungkinan mempengaruhi tahap dewasa dan larva.

“Larva kunang-kunang, yang hidup di dalam tanah, sangat rentan terhadap perubahan paparan cahaya dan cahaya buatan dapat mengubah siklus perkembangan dan tingkat kelangsungan hidup mereka,” katanya.

KLIK INI:  Bagaimana Membedakan Tanah Subur dan Tanah Tidak Subur?
  • Dunia pertanian

Selain kedua hal di atas, para peneliti juga menyelidiki dampak praktik pertanian sebagai biang kerok dari penurunan populasi kunang-kunang.

Meskipun mereka tidak menemukan efek pestisida langsung, mereka menemukan bahwa daerah pertanian tertentu memiliki kepadatan kunang-kunang tertinggi, kemungkinan karena praktik seperti penggembalaan ternak yang menciptakan kondisi seperti padang rumput yang menguntungkan.

Meski begitu para peneliti memperingatkan terhadap intensifikasi pertanian yang dapat mengurangi sampah organik dan lingkungan lembap yang penting bagi larva kunang-kunang.

KLIK INI:  Perubahan Iklim Menyulap Hutan Kurang Produktif