Rumah Pohon Alea

oleh -101 kali dilihat
Pohon Kenangan Ibu
Ilustrasi pohon/foto-lovepik
Ilham Aidil
Latest posts by Ilham Aidil (see all)

Bira tengah diguyur hujan. Tidak deras namun cukup membuat kuyup. Di perjalanan pulang dari pantai, sepasang kekasih yang berboncengan memarkir motornya di bawah sebuah pohon yang rindang. Awalnya mereka mampir di teras warung makan.

Namun, tidak tahan dengan udara dingin dan suara ritmis hujan di luar, mereka masuk ke warung dan memesan indomie telur dan teh panas.

Aroma pantai dan suara ombak meriak di sisi pantai. Pengunjung bisa melihatnya dari atas. Selain pantai juga dapat melihat cottage, perahu dan pohon-pohon kelapa yang berjejer.

Sementara mereka berdua makan, mereka menyaksikan pemandangan di luar sana sebelum berbicara satu sama lain.

KLIK INI:  Akar Leluhur

“Setelah wisuda sarjana, apa yang akan kamu lakukan, Rif?”, tanya Alea.

“Saya sementara merintis perpustakaan alam dan saya ingin melanjutkannya, Alea. Saya ingin membagi pengalaman dan ilmu di desa saya. Membangun sebuah perpustakaan, rumah pohon dan taman-taman kecil di sebuah bukit di desa saya.”

“Tapi tidak adakah mimpimu yang jauh lebih real, Rif? Misal menjadi karyawan perusahaan swasta atau apa saja yang bisa menghasilkan sesuatu.”

“Untuk sementara tidak Alea. Saya menyukainya.”

“Bagaiamana denganmu Alea?”

Suasana menjadi hening sejenak.

Dua orang anak kecil berjalan mengitari meja Alea dan Arif. Mereka bermain kejar-kejaran di antara lorong-lorong meja. Salah satunya gadis kecil, ia terjatuh di dekat Alea. Ia berteriak dan menangis memanggil mamanya. Alea meraihnya dan membantunya untuk bangun gadis kecil itu.

“Lain kali, hati-hati ya dek.”

Gadis kecil itu mengangguk sambil menyeka air matanya.

“Mungkin setelah ini, saya ingin melanjutkan kuliah S2 di Jawa,”

“Kenapa mesti di Jawa?”

“Ayah menginginkan saya untuk lanjut di sana, ia punya kenalan dan keluarga ayah yang bisa membantu saya selama berada di sana.”

KLIK INI:  Meresapi Puisi Alam dari Penerima Nobel Sastra, Louise Glück yang Menyentuh

Separuh napas seperti sesak di antara mereka. Arif mencoba menarik senyum tipis.

“Kamu orang yang teratur, teliti dan tidak mudah putus asa Alea. Namun, begitu kau tetap memiliki hati yang lembut.”

“Dulu kamu memperagakan cinta dengan menolakku berkali-kali Alea dengan cara yang halus. Kelabat kenangan lima tahun lalu seperti hadir di antara kita. Saya tersenyum membayangkannya kembali. Sungguh saya tidak akan melupakannya. Kamu mengerti maksud saya kan Alea?”

“Saya seperti tidak menemukan jawaban yang tepat untuk itu Arif”

“Sudah saya duga Alea. Selain hatimu yang halus dan selembut sutra. Caramu untuk mengatakan sesuatu juga halus dan terukur. Aku harap itu bukan kata perpisahan,”

“Namun sebelum semua itu terjadi, saya ingin mengajakmu ke rumah pohon yang telah saya rintis sejak tahun lalu Alea. Sudah lama saya bermukim di kota, mungkin sudah saatnya juga saya menetap di desa kembali. Melihat camar-camar yang terbang melintasi awan, kabut-kabut yang mengelilingi desa saya, dan pohon-pohon yang merindanginya,”

“Liburan ini akan segera berakhir. Kamu hanya membawa dua lembar pakaian ganti dan celana dalam. Saya ingin kamu mampir di rumah saya dulu lalu menuju rumah pohon saya, Alea.”

KLIK INI:  Siang di Hari Kerja
***

Hari ini Minggu, di rumah Ibu Arif sudah menyiapkan masakan. Sayur-sayuran dari belakang rumah dan ikan-ikan segar yang dibeli di pasar. Masakan Ibu Arif sungguh enak. Ibu Arif sangat ramah pada Alea. Mereka menyantapnya dengan lahap dan melupakan percakapan mereka di warung tadi.

Ibu Alea bercerita cukup lama di dapur lalu berpindah ke ruang tamu. Seperti hubungan seorang Ibu dan anak perempuannya. Ibu Arif bercerita bahwa Arif biasanya pulang kampung sekali dalam tiga bulan. Ketika pulang biasanya cuma tiga hari. Paling lama satu minggu.

Bagaimanapun Alea sangat terharu, sudah lama ia merindukan sosok Ibu. Kenangan akan ibunya terlalu berat untuk dilupakannya. Ia kehilangan ibunya saat masih SMA. Ibunya meninggal karena kecelakaan.

Alea tidak dapat menahan diri dan menitikkan air mata di balik kacamatanya. Pelukan Ibu Arif setidaknya meringankan rasa kehilangannya. Tapi Alea tetaplah Alea.

Gadis berbibir merah alami itu tetaplah gadis yang teratur dan terukur untuk semua hal dalam hidupnya termasuk masalah perasaan.

Di bawah langit yang masih berkabut dan mendung. Arif mengajak Alea ke Rumah Pohon di atas sebuah bukit.Tidak jauh dari rumah Arif sendiri. Mereka berjalan kaki menuju ke sana. Menikmati jalan setapak dan sedikit menanjak itu. Suasana yang sejuk.

Dedaunan kelebihan klorofil. Penuh dengan nuansa hijau. Saat tiba di tempat itu sebelum menaiki bukit, Alea tercengang di depan gerbang masuk, yang terbuat dari sisa-sisa kayu yang tidak terpakai lagi. Ia dapati tulisan, “Bukit ini terbuat dari Alea dan Rindu”.

KLIK INI:  Sumpah, Ini Hanya Cerpen Sampah

Alea seperti kehilangan kata-kata. Ia berjalan lebih dahulu menaiki bukit antara hendak ingin menahan senyum ataukah menitikkan air mata. Di atas bukit ia temukan namanya di sebuah rumah pohon. Rumah Pohon Alea.

Rumah pohon yang di dalamnya terdapat buku-buku. Rumah pohon yang selama ini Arif buat diam-diam dan dirahasiakannya ketika ia pulang kampung.

Seperti ada yang membiak di hati Alea.Seolah hari tidak ingin berlalu. Waktu membentang begitu panjang. Alea tidak ingin kebersamaannya dengan Arif terlewatkan begitu saja. Alea berputar-putar mengelilingi area bukit yang sudah tertata dengan baik.

Mereka lalu naik ke rumah pohon, merebahkan diri dan beristirahat sambil menikmati kopi. Sesekali Alea melepaskan kacamatanya yang lembap dan menyekanya dengan ujung kaus.

Beberapa saat mereka menggali keheningan tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Bunga-bunga dikuyup dingin dan hujan. Getaran aneh tiba-tiba hinggap di dada mereka. Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikannya pada hujan dan daun-daun yang tertiup angin.

Dalam hitungan detik tanpa sadar Arif melesatkan sebuah kecupan di bibir Alea yang ranum seperti buah ceri.

***

“Setelah ini kamu akan ke mana, Alea?”

KLIK INI:  Para Pembunuh Bumi

Tentang penulis

Ilham Aidil alumni Bahasa dan Sastra Inggris. Kini aktif mengajar di sekolah dan kampus, dan menulis sesekali di waktu senggang. Senang diajak diskusi.