Rumah Pohon Alea

Bira tengah diguyur hujan. Tidak deras namun cukup membuat kuyup. Di perjalanan pulang dari pantai, sepasang kekasih yang berboncengan memarkir motornya di bawah sebuah pohon yang rindang. Awalnya mer...

Rumah Pohon Alea
Bacakan Artikel
Ilham Aidil

Pengajar PIBA UIN Alauddin Makassar

Bira tengah diguyur hujan. Tidak deras namun cukup membuat kuyup. Di perjalanan pulang dari pantai, sepasang kekasih yang berboncengan memarkir motornya di bawah sebuah pohon yang rindang. Awalnya mereka mampir di teras warung makan.

Namun, tidak tahan dengan udara dingin dan suara ritmis hujan di luar, mereka masuk ke warung dan memesan indomie telur dan teh panas.

Aroma pantai dan suara ombak meriak di sisi pantai. Pengunjung bisa melihatnya dari atas. Selain pantai juga dapat melihat cottage, perahu dan pohon-pohon kelapa yang berjejer.

Sementara mereka berdua makan, mereka menyaksikan pemandangan di luar sana sebelum berbicara satu sama lain.

“Setelah wisuda sarjana, apa yang akan kamu lakukan, Rif?”, tanya Alea.

“Saya sementara merintis perpustakaan alam dan saya ingin melanjutkannya, Alea. Saya ingin membagi pengalaman dan ilmu di desa saya. Membangun sebuah perpustakaan, rumah pohon dan taman-taman kecil di sebuah bukit di desa saya.”

“Tapi tidak adakah mimpimu yang jauh lebih real, Rif? Misal menjadi karyawan perusahaan swasta atau apa saja yang bisa menghasilkan sesuatu.”

“Untuk sementara tidak Alea. Saya menyukainya.”

“Bagaiamana denganmu Alea?”

Suasana menjadi hening sejenak.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2