Makadamia, Penghasil Kacang Termahal yang Jadi Tanaman Pemulih Hutan

oleh -36 kali dilihat
Buah makadamia-foto/Pixabay

Klikhijau.com – Makadamia (Macadamia integrifolia) memang bukanlah tanaman asli Indonesia. Asalnya dari Australia. Ia telah dibudidayakan di banyak negara di dunia.

Di Indonesia makadamia baru diperkenalkan pada tahun 1950 sebagai tanaman koleksi di kebun raya Cibodas.

Tanaman ini merupakan tanaman pangan. Secara ekonomis perannya sangat penting. makadamia adalah penghasil buah kacang. Kacang yang dihasilnya termasuk jenis kacang termahal di dunia.

Penobatan kacang makadamia sebagai termahal karena memiliki rasa yang lezat, bergizi tinggi, serta  baik  untuk  kesehatan  karena  dapat  menyembuhkan berbagai penyakit (Silalahi,dkk 2022).

KLIK INI:  Tentang Pohon Gaharu, Manfaat, Morfologi, dan Penyebarannya

Tanaman ini mulai menyebar luas di Indonesia setelah disebarluaskan kepada beberapa PT. Perkebunan lainnya.

Tujuan penyebaran itu untuk melihat perkembangannya pada beberapa tempat. Pada tahun 1990 Tanaman ini mulai dibudidayakan secara serius di Perkebunan Blawan, Bondowoso, Jawa Timur.

Adaptasi yang mengejutkan

Adaptasi makadamia cukup mengagetkan, sebab mampu beradaptasi pada lahan dengan ketersediaan unsur hara rendah, suhu tinggi, kelembaban rendah, dan intensitas cahaya tinggi.

Hal menarik dari tanaman ini  karena tidak memerlukan perawatan intensif, tidak banyak gugur daun, tahan kebakaran dan mudah bertunas kembali setelah terbakar.

Ia menyukai tumbuh di sekitar bebatuan serta mampu mengikat air, yang dicerminkan dari kondisi kelembaban tanah yang lebih tinggi.

Batangnya memiliki kulit beralur dan tebal. Percabangannya banyak. Jika ada batang yang patah atau terpotong, akan muncul tunas (trubusan) baru.

Tanaman ini memiliki tajuk lebar dan padat. Itulah yang  menghambat masuknya cahaya serta mengurangi curah hujan yang jatuh.

KLIK INI:  Melirik Potensi Wortel sebagai Tanaman Pangan Sekaligus Tanaman Hias

Habitatnya cocok pada daerah dengan ketinggan lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut (Mdpl) dan suhu optimum ≤ 32ºC

Tanaman ini, biasanya menjadi tanaman penaung pada lahan perkebunan kopi. Karena ia memiliki daun yang lebat.

Makadamia merupakan tanaman tahunan dengan batang yang keras, tipe percabangan monopodial, ketinggian tanaman bisa mencapai 20 meter.

Sistem perakaran tanaman ini adalah tunggang, dan termasuk ke dalam jenis akar tunggang yang tidak bercabang atau sedikit bercabang.

Bentuk akar tunggangnya berbentuk benang, karena akar tunggangnya kecil panjang seperti akar serabut dan sedikit sekali bercabang.

Batangnya keras berkayu (lignosus). Ia  memiliki batang yang pada bagian bawahnya lebih besar dan ke ujung semakin mengecil.

KLIK INI:  Usai Ditetapkan KLHK sebagai Flora Dilindungi, Ini Sanski Perusak Pohon Sialang!

Pada permukaan dari batangnya beralur (sulcatus), yaitu terdapat alur-alur yang jelas pada arah membujur, serta memiliki arah tumbuh batang yang tegak lurus yaitu arah tumbuhnya adalah tegak lurus ke atas.

Percabangannya termasuk pada percabangan monopodial, yaitu batang pokok selalu tampak jelas karena lebih besar dan panjang dibanding cabang-cabang pohon.

Makadamia, memiliki tipe arah cabang condong ke atas karena cabangnya membentuk sudut 45º dari batang pokok. Pangkal pada batangnya merupakan alat bagi tumbuhan untuk mempertahankan kehidupan tumbuhan itu sendiri pada masa buruk.

Ia termasuk pada tumbuhan menahun karena tanaman ini dapat mencapai usia tanaman bertahun-tahun. Hal ini dapat dibuktikan bahwa untuk perkembangan tanaman ini perlu waktu 7 – 8 tahun untuk menghasilkan buah.

Untuk daunnya, tanaman ini memiliki bagian upih daun (vagina), tangkai daun (petiola) dan helaian daun (lamina) disebut daun lengkap.

KLIK INI:  Membincangkan 4 Spesies Baru Kepiting yang Ditemukan di Indonesia

Sementara bunganya termasuk ke dalam golongan bunga majemuk tak terbatas, karena pada bagian ujung ibu tangkai perbungaan tidak terdapat bunga, jadi ibu tangkainya dapat tumbuh terus menerus sampai sesuai ukuran maksimalnya.

Secara keseluruhan, susunan perbungaan tanaman ini adalah bulir majemuk. Ibu tangkai bunganya bercabang cabang. Setiap cabangnyanya merupakan rangkaian bunga yang tersusun dalam bulir. Jadi, bunga tanaman ini terletak tidak langsung pada ibu tangkainya.

Dalam satu buah terdiri dari satu biji. Dinding buahnya tebal berdaging. Dinding buahnya terdiri dari tiga lapisan, yaitu epicarpium atau kulit luar,  mesocarpium atau kulit tengah, dan endocarpium atau kulit dalam. Karena itu, buahnya  termasuk buah sejati tunggal berdaging tipe drupe.

KLIK INI:  Hutan Gunung Halimun Salak Dapat Penghuni 30 Ekor Kukang Jawa
Dijadikan pemulih hutan lindung

Dilansir dari situs KLHK, hutan lindung di kawasan Sirampog, Brebes, Jawa Tengah pernah mengalami degradasi sehingga memicu banjir bandang.

Namun, kini, daerah aliran sungai (DAS) di mana hutan lindung tersebut berada mulai berduri dengan menanam puluhan ribu bibit makadamia. Makadamia tersebut  sekarang sudah belajar berbuah.

Kepala Dinas LHK Brebes, Laode Vindar mengungkapkan, kawasan hutan khususnya Igerklanceng hingga Paguyangan dulunya digunduli dan ditanami tanaman semusim seperti bawang dan kol. Kondisi inilah yang jadi pemicu longsor dan pada 4 tahun lalu terjadi banjir bandang.

“Terima kasih BPDAS Pemali Jratun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang telah menginisiasi pemulihan DAS dan memberikan ribuan bibit produktif gratis seperti Makadamia, Alpukat, dan Aren untuk ditanam bersama masyarakat,” kata Laode usai Penanaman di Acara Gerakan Nasional Pemulihan DAS di Desa Igerklanceng, Kec. Sirampog, Kab. Brebes, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

KLIK INI:  Tumbuhan Eceng Gondok dan 5 Keunikan Tersembunyi di Baliknya!

Sementara itu, Kepala BPDAS (Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai) Pemali Jratun Rochimah Nugrahini mengatakan penanaman ini dilakukan untuk memitigasi bencana dengan memulihkan DAS.

“Pada tahun 2019, kami melakukan sosialisasi ke masyarakat untuk memulihkan hutan lindung dengan menanam bibit Makadamia. Mereka tertarik dan meminta bibitnya untuk ditanam. Total ada 25 ribu bibit yang ditanam, 99 persen tumbuh dengan baik dan sudah mulai belajar berbuah,” jelas Rochimah.

“Pohon Makadamia ini tidak hanya berfungsi memulihkan hutan lindung, tetapi juga membawa manfaat ekonomi, karena kacang makadamia ini harganya cukup mahal,” lanjutnya.

KLIK INI:  Menjamin Ketahan Pangan, 6 Desa di Manggarai Komitmen Kembangkan Sorgum

Saur, salah satu perwakilan petani, berharap nanti ada yang menampung kacang Makadamia kalau sudah panen.

“Kalau bisa ada perjanjian, sehingga petani ada jaminan,” harap Saur.

Sedangkan Sonny Y. Soeharso, Staf Khusus Menteri LHK Bidang Pendidikan Publik Kelestrian Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup mengajak para pihak untuk bersinergi dan berkolaborasi menjaga alam dan merawat pohon yang sudah ditanam.

“Mari kita bergandeng tangan, bergotong royong, untuk menjaga alam demi anak cucu kita! Hutan lestari, rakyat sejahtera,” ajaknya.

KLIK INI:  Sehari Sebelum Hari Bumi, Sang Penguasa Langit Jawa Terlahir ke Bumi