Kurang Tidur Merampas Kebahagiaan dan Menumbuhkan Kecemasan?

oleh -22 kali dilihat
Mengandung Melatonin, 7 Makanan Ini Bikin Tidurmu Lelap di Malam Hari
Ilustrasi tidur di bantal kesayangan - Foto/Pixabay

Klikhijau.com – Kurang tidur dapat mengundang berbagai penyakit. Bukan hanya membuat tubuh terasa lelah dan lemas, tetapi juga dapat mengurangi daya konsentrasi kita.

Karena itu, untuk membuat tubuh dan pikiran lebih “segar” maka waktu tidur perlu mendapat jatah yang maksimal.

Dampak dari kurang tidur terbaru cukup mencemaskan. Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh American Psychological Association menemukan jika kurang tidur dapat merusak fungsi emosional kita, menurunkan suasana hati yang positif dan menempatkan kita pada risiko lebih tinggi untuk mengalami gejala kecemasan.

Penelitian tersebut yang menyatukan lebih dari 50 tahun penelitian tentang kurang tidur dan suasana hati.

KLIK INI:  Perihal Climate Anxiety yang Rentan Dialami Anak Muda dan Cara mengatasinya

Sayangnya data penelitian tersebut yang berpartisipasi mayoritas  adalah orang dewasa muda. Mereka rata-rata berusia 23 tahun.

Karena itu, menurut para peneliti,  di masa depan harus mencakup sampel usia yang lebih beragam untuk lebih memahami bagaimana kurang tidur mempengaruhi orang-orang pada usia yang berbeda

“Penelitian menemukan bahwa lebih dari 30 persen orang dewasa dan hingga 90 persen remaja tidak mendapatkan cukup tidur,” kata Cara Palmer, PhD

Palmer adalah memimpin penelitian tersebut yang berasal dari Montana State University. Menurutnya, dalam masyarakat kita yang sebagian besar kurang tidur, mengukur dampak kurang tidur terhadap emosi sangat penting untuk meningkatkan kesehatan psikologis.

KLIK INI:  Ingin Diet, Jangan Marah sebab Marah Bisa Bikin Gendut!

“Studi ini mewakili sintesis paling komprehensif dari penelitian eksperimental tentang tidur dan emosi hingga saat ini, dan memberikan bukti kuat bahwa periode terjaga yang diperpanjang, durasi tidur yang lebih pendek, dan terbangun di malam hari berdampak buruk pada fungsi emosional manusia,” ungkapnya.

 Menganalisis data dari 154 penelitian

Dalam penelitian tersebut, Palmer dan rekan-rekannya, termasuk salah satu penulis utama Joanne Bower, PhD, dari East Anglia University, menganalisis data dari 154 penelitian selama lima dekade, dengan total peserta 5.715.

Para peneliti mengganggu tidur partisipan selama satu malam atau lebih. Dalam beberapa percobaan, peserta tetap terjaga untuk waktu yang lama.

Di negara lain, mereka diperbolehkan tidur lebih pendek dari biasanya, dan di negara lain mereka dibangunkan secara berkala sepanjang malam.

Setiap penelitian juga mengukur setidaknya satu variabel yang berhubungan dengan emosi setelah manipulasi tidur, seperti suasana hati peserta yang dilaporkan sendiri, respons mereka terhadap rangsangan emosional, dan ukuran gejala depresi dan kecemasan.

KLIK INI:  Agar Tetap Sehat di Musim Hujan, Ini 9 Tipsnya!

Secara keseluruhan, para peneliti menemukan bahwa ketiga jenis kurang tidur mengakibatkan lebih sedikit emosi positif seperti kegembiraan, kebahagiaan dan kepuasan di antara peserta. Tidak hanya itu, juga ada peningkatan gejala kecemasan seperti detak jantung yang cepat dan peningkatan rasa khawatir.

Palmer juga  mengungkapkan bahwa hal tersebut terjadi bahkan setelah kurang tidur dalam waktu singkat. Misalnya begadang satu atau dua jam lebih lambat dari biasanya atau setelah kurang tidur beberapa jam saja.

“Kami juga menemukan bahwa kurang tidur meningkatkan gejala kecemasan dan menumpulkan gairah sebagai respons terhadap rangsangan emosional.”

Temuan untuk gejala depresi lebih kecil dan kurang konsisten, begitu pula dengan emosi negatif seperti kesedihan, kekhawatiran, dan stres.

KLIK INI:  Berbahaya, Kebiasaan Ini Tak Baik Bagi Kesehatan

“Implikasi dari penelitian ini terhadap kesehatan individu dan masyarakat sangat besar di masyarakat yang sebagian besar kurang tidur. Industri dan sektor yang rentan terhadap kurang tidur, seperti pekerja pertolongan pertama, pilot, dan pengemudi truk, harus mengembangkan dan mengadopsi kebijakan yang memprioritaskan tidur untuk memitigasi risiko terhadap fungsi dan kesejahteraan di siang hari.”

Selain usia, penelitian di masa depan diharapkan pula dapat mencakup pemeriksaan dampak kurang tidur beberapa malam, melihat perbedaan individu untuk mencari tahu mengapa beberapa orang mungkin lebih rentan dibandingkan yang lain terhadap dampak kurang tidur, dan memeriksa dampak kurang tidur di berbagai budaya.

Selain itu, penelitian juga perlu dilakukan di berbagai negara, tidak hanya di Amerika Serikat dan Eropa seperti yang dilakukan dalam penelitian ini.

KLIK INI:  Mendengkur Ternyata Berbahaya, Begini Penjelasannya!

Dari Newswise