Kurang Tidur Berdampak Buruk Pada Perkembangan Otak Anak?

oleh -19 kali dilihat
Ilustrasi anak cerdas
Ilustrasi anak cerdas/foto-starberita.com

Klikhijau.com – Orang tua sudah pasti ingin melihat buah hatinya tumbuh sehat. Banyak orang tua relah melakukan apa saja agar buah hatinya tumbuh dengan sehat, baik fisik maupun mental.

Untuk melihat anak tumbuh sesuai harapan, tentu bukanlah perkara yang mudah. Semua kebutuhan yang mendukung tumbuh kembangnya si kecil perlu disiapkan.

Salah satu hal yang harus terpenuhi pada perkembangan anak adalah tidur yang cukup. Untuk bayi  usia 0 hingga 3 bulan disarankan untuk tidur sebanyak 14-17 jam per hari. Sementara bayi  usia 4-11 bulan disarankan untuk tidur sebanyak 12-15 jam per hari.

Sedangkan untuk batita usia 1-2 tahun disarankan untuk tidur sebanyak 11-14 jam per hari. Dan untuk balita 3-5 tahun disarankan untuk tidur sebanyak 10-13 jam per hari.

KLIK INI:  Psikiater Ungkap 3 Masalah Kesehatan Mental di Tengah Covid-19

American Academy of Sleep Medicine merekomendasikan bahwa anak-anak berusia antara enam dan 12 tahun harus tidur sembilan hingga 12 jam per malam untuk kesehatan yang optimal.

Apa dampaknya jika anak kurang tidur? Menurut sebuah penelitian terbaru dari University of Maryland School of Medicine. Anak yang kurang tidur akan berdampak buruk pada perkembangan otaknya.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Child & Adolescent Health mengungkapkan bahwa kurang tidur di antara anak usia sekolah dasar. Dapat menyebabkan perbedaan yang signifikan di daerah otak yang bertanggung jawab atas ingatan, kecerdasan, dan kesejahteraan.

“Karena masa remaja awal adalah periode penting untuk perkembangan neurokognitif. Kami bertujuan untuk menyelidiki bagaimana kurang tidur memengaruhi kesehatan mental, kognisi, fungsi otak, dan struktur otak anak-anak selama 2 tahun,” tulis para peneliti seperti dilansir dari Earth.

KLIK INI:  Peneliti Jepang: Konsentrasi Obat tidak Terikat Protein Plasma pada Darah
Temuan yang penting

Perubahan perkembangan ini berkorelasi dengan masalah kesehatan mental yang lebih besar, seperti kecemasan dan depresi. Kurang tidur di antara anak-anak juga dikaitkan dengan kesulitan dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.

Studi ini difokuskan pada data dari lebih dari 8.300 orang yang terdaftar dalam studi Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD). Para peneliti menganalisis gambar MRI, rekam medis, dan survei yang diselesaikan oleh peserta dan orang tua mereka pada saat pendaftaran dan selama dua tahun tindak lanjut.

Rekan penulis studi Dr. Ze Wang mengatakan mereka menemukan bahwa anak-anak yang kurang tidur, kurang dari sembilan jam per malam. Pada awal penelitian memiliki materi abu-abu yang lebih sedikit atau volume yang lebih kecil di area otak tertentu yang bertanggung jawab atas perhatian, memori, dan kontrol penghambatan dibandingkan dengan mereka yang memiliki tidur yang sehat.

KLIK INI:  Sering Disepelekan, Alami Hal Ini Bisa jadi Gejala Penyakit Jantung

“Perbedaan ini bertahan setelah dua tahun, sebuah temuan yang menunjukkan bahaya jangka panjang bagi mereka yang tidak cukup tidur,” ungkapnya.

Menurut Dr. Wang dan rekan-rekannya, ini adalah salah satu studi pertama yang menunjukkan potensi dampak jangka panjang dari kurang tidur pada perkembangan neurokognitif pada anak-anak.

Sementara itu, Dr. E. Albert Reece mengatakan bahwa temuan tersebut adalah temuan studi penting yang menunjukkan pentingnya melakukan studi jangka panjang pada otak anak yang sedang berkembang.

“Tidur sering diabaikan selama masa kanak-kanak yang sibuk diisi dengan pekerjaan rumah dan kegiatan ekstrakurikuler. Sekarang kita melihat betapa merugikannya hal itu bagi perkembangan anak,” ujarnya.

KLIK INI:  Mengenai Tungau dan Dampak yang Ditimbulkan Setelah Menyingkirkannya

Sumber: Earth