Sisi Lain Porang, Perampas Ruang Hidup Tumbuhan Lain

“tire minjo lammuara lamunglamung” Klikhijau.com - Perawatan minim, bisa dipanen dalam waktu singkat, modal tak banyak, hemat tenaga, harga tinggi, dan cara panen yang muda. Setelah panen tak perlu d...

Sisi Lain Porang, Perampas Ruang Hidup Tumbuhan Lain
Bacakan Artikel

“tire minjo lammuara lamunglamung”

Klikhijau.com - Perawatan minim, bisa dipanen dalam waktu singkat, modal tak banyak, hemat tenaga, harga tinggi, dan cara panen yang muda. Setelah panen tak perlu diolah, langsung jual saja. Tanaman seperti itulah yang diimpikan para petani. Dan rasanya impian itu merentang jauh. nyaris tak tersentuh. Sesungguhnya, tak ada hasil tanpa memeras keringat. Tak ada tanaman yang berhasil tanpa dikutui tiap saat. Pun, untuk mendapatkan hasil yang besar dibutuhkan modal yang tebal. Setiap selesai panen, maka petani kerap mengeluarkan modal, lagi dan lagi. Begitu pula, tak ada tanaman dengan masa tumbuh yang singkat lantas bisa langsung dipanen. Apalagi tak disogok dengan pupuk. [irp] Namun, dengan tire atau porang, impian itu mewujud nyata. Tanaman bernama latin Amorphophallus muelleri itu tak butuh banyak tenaga dan waktu merawatnya, tak perlu modal yang banyak (sekali bermodal saja sudah bisa survive), masa panennya juga cepat, bisa hanya hitungan bulan, dan harganya sangat dirindukan oleh dompet alias mahal. Dengan segala kemudahan tire/porang, maka di situlah kesetiaan petani diuji dengan tanamannya yang lain. Tanaman yang lebih dulu menghuni kebunnya. Apakah akan mempertahankan tanaman lama dengan mengalihfungsikan lahannya karena dari segi harga dan tenaga yang dibutuhkan untuk mengolahnya kalah jauh dari tire atau membabatnya, lantas menggantinya dengan tire. Masyarakat di Desa Kindang yang mayoritas petani, juga mendapat ujian kesetiaan ini. Terdapat dua kelompok yang berbeda pendapat. Kelompok pertama  rela “menghabisi” tanamannya yang dulu, misalnya pohon kopi dan pohon cengkeh  atau mengalihfungsikan sawahnya menjadi ladang tire. [irp] Di kelompok kedua, mereka tetap mendamaikan tanaman lama dengan tire. Apalagi tire  bisa berdamai dengan tanaman lain, semisal pohon kopi atau cengkeh. Tapi dengan sawah,  tire tak pernah cocok kecuali harus dikeringkan lebih dulu (kulang). Karena sawah harus dikeringkan, maka banyak yang mengalih fungsikan sawahnya yang sejak dulu ditanami padi bersalin wajah menjadi tanaman tire. Maka tak heran, jika banyak tetua kampung yang memiliki ungkapan satir pada tire sebagai pammuara lamunglamung (penghabis/menghabisi tetumbuhan). Karena itu, memang tak salah jika mengkambing hitamkan tire sebagai tanaman yang merampas ruang hidup tanaman lain. Di Desa Kindang, tak sedikit yang menebang pohon kopi dan cengkehnya untuk memberi ruang hidup bagi tanaman yang dulunya adalah gulma itu. Pun ada pula yang merelakan sawahnya tak lagi dialiri air dan ditanami padi, agar tire bisa leluasa tumbuh di eks sawahnya. [irp] Padahal, tanpa meniadakan tanaman lain, tire tetap bisa survive. Sebabnya, sejak dulu tanaman ini tumbuh sebagai tumbuhan liar yang meresahkan petani. Sebelum ada harganya, selalu masuk daftar berantas saat bangun dari masa dormannya. Apalagi saat tumbuh akan menguarkan bau bangkai yang busuk. Belajar dari tire Dari tire, kita bisa belajar banyak hal. misal, agar bisa dihargai dan diberi ruang hidup yang nyaman, dirawat penuh rasa kasih, maka yang penting dilakukan adalah menghadirkan kebermanfaatan, semakin bermanfaat maka akan lahir sebuah nilai (harga) setelah ada nilai, naikkan nilai itu dengan terus merawat dan menjaganya. Maka, kita akan menyisihkan hal-hal yang kurang bermanfaat dan bernilai. Oya, saat ini jika kamu berkunjung ke Desa Kindang, maka perbincangan tentang tire akan menggema di mana-mana. Jika ada dua atau tiga orang yang mengobrol, bisa dipastikan di antara obrolannya itu terselip pembahasan tentang tire. Tire pula yang membuat harga tampa’ (tanah) melambung jauh. Sebab ukuran seluas lapangan takraw saja sudah dapat menghasilkan rupiah berjuta-juta. Lalu siapa yang tak tergiur? Tire lammuara lamunglamung itu benar-benar terbukti. Bagi petani muda atau pemula, mereka kadang tak melihat apa peran atau manfaat tanaman lain, yang dipikirkan adalah hasilnya dalam bentuk rupiah, maka saat tanaman tertentu tak menghasilkan banyak uang, maka akan dianggap sebagai tanaman yang kurang menguntungkan. Padahal banyak tanaman yang dari segi penghasilan uang memang minim, tapi dari segi kebermanfaatan sangat besar, misalnya sayuran, kopi, pisang , padi, dan lainnya. Tanaman-tanaman itu memang tak tampak ke permukaan sebagai tanaman penghasil cuan, tapi tanaman tersebut adalah penghuni dapur yang sangat penting untuk menyambung napas. Karena itu, tire yang bisa berdamai dengan segala medan (kecuali yang berair) bisa tetap dibudidayakan tanpa merampas ruang hidup tanaman lain. Semakin beragam tanaman, akan semakin bagus. Tanaman hadir bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk satwa, cacing tanah, semut, kupu-kupu, lebah dan semua yang bernapas di planet ini. [irp]