Klikhijau.com – Sepertinya tidak ada orang yang akan sengaja menyimpan urin atau kencingnya. Bahkan setelah kencing, kita kerap segera menyiramnya. Jika tidak, maka bau pesingnya akan menyeruak. Menghadirkan suasananya yang tidak nyaman.
Namun, bagaimana jika ternyata kencing manusia dapat menjadi sumber pupuk dan energi? Apakah kita masih akan membuangnya begitu saja?. Jawabannya mungkin saja tidak.
Sebuah studi baru yang diterbitkan di Journal of Environmental Chemical Engineering menemukan bahwa kencing atau urin manusia dapat dikonsentrasikan menjadi cairan kaya pupuk menggunakan sistem penyaringan berenergi rendah yang terus bekerja di sepanjang siklus berulang.
Menurut laman Earth, penelitian ini mengubah produk limbah (kencing) yang selama ini diabaikan menjadi sumber nutrisi tanama. Selama siklus perawatan berulang, membran tersebut terus menyerap air dari urin asli sambil meninggalkan cairan yang lebih encer dan kaya nutrisi.
Menurut Siddharth Gadkari dari Universitas Surrey, metode ini terbukti efektif dalam kondisi nyata, bukan hanya di laboratorium. Namun, performanya menurun seiring waktu karena terjadi penumpukan material di permukaan membran. Penumpukan ini menjadi tantangan utama dalam penggunaan jangka panjang karena memperlambat aliran air.
Meski hanya sekitar 1% dari total air limbah rumah tangga, urin mengandung sebagian besar nitrogen dan fosfor. Jika dibuang begitu saja, instalasi pengolahan limbah harus menghilangkan nutrisi tersebut dengan tambahan energi dan bahan kimia. Di sisi lain, petani justru membeli kembali nutrisi itu dalam bentuk pupuk hasil proses industri.
Teknologi ini menawarkan solusi dengan memekatkan nutrisi tanpa memerlukan tekanan tinggi. Air bergerak secara alami melalui membran menuju larutan yang lebih pekat, meninggalkan nutrisi dalam volume yang lebih kecil. Hasilnya adalah cairan yang lebih kaya untuk pupuk, meskipun tidak semua unsur seperti nitrogen dan kalium sepenuhnya tertangkap.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa dengan pendekatan pengolahan yang tepat, kita dapat memulihkan nutrisi ini secara efisien sekaligus mengurangi kebutuhan energi pengolahan air limbah,” kata Dr. Gadkari.
Masalah utama
Masalah utama sistem ini adalah penyumbatan membran oleh mikroba dan bahan organik. Kondisi penyimpanan urin turut memengaruhi hal ini. Urin yang disaring terlebih dahulu menghasilkan kinerja yang lebih baik, sedangkan urin tanpa penyaringan menyebabkan penyumbatan lebih parah. Pengaturan keasaman, misalnya dengan asam sitrat, juga membantu mengurangi tingkat penumpukan.
Menariknya, sistem ini masih dapat dipulihkan. Pembersihan sederhana diikuti dengan perlakuan kimia mampu mengembalikan hingga 91–98% aliran air yang hilang, meskipun sebagian kerusakan tetap ada.
Penerapan konsep ini akan lebih efektif jika urin dipisahkan sejak awal menggunakan sistem khusus. Contohnya dapat ditemukan di Durban, di mana program pemisahan urin telah diterapkan dan bahkan dimanfaatkan sebagai pupuk pertanian.
Namun, masih ada tantangan lain seperti peningkatan kadar garam dalam hasil akhir serta kebutuhan sistem pendukung seperti penyimpanan, transportasi, dan pengawasan kualitas.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa urin bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya berharga. Keberhasilan penerapannya di masa depan akan sangat bergantung pada kemampuan membangun sistem pengelolaan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.








