Mengenang Kopi Mere yang Tak Pernah Ingkar Berbuah

Klikhijau.com โ€“ Angin kencang yang datang dua kali itu. Merampas banyak pohon kopi beserta kebun tempatnya tumbuh. Mengubahnya menjadi kebun cengkeh. Tak ada pilihan bagi petani selain menanaminya tan...

Mengenang Kopi Mere yang Tak Pernah Ingkar Berbuah
Bacakan Artikel

Klikhijau.com โ€“ Angin kencang yang datang dua kali itu. Merampas banyak pohon kopi beserta kebun tempatnya tumbuh. Mengubahnya menjadi kebun cengkeh. Tak ada pilihan bagi petani selain menanaminya tanaman lain. Khususnya cengkeh yang memiliki prospek harga lebih tinggi.

Pada ingatan saya yang beranjak remaja. Harga cengkeh mulai menanjak saat B.J. Habibie menjadi presiden Indonesia. Saat itu tahun 1999. Sebelumnya, harga cengkeh nyaris tak ada. Bahkan pernah ada periode, petani tak memetik buah cengkehnya karena harganya nyaris nol.

Pada periode itu pula. Cengkeh masih nomor dua dari kopi mere (robusta). Tumpuan napas masyarakat di Desa Kindang berada di punggung kopi. Seolah tak ada yang akan menggesernya.

Panen kopi saat itu bukan sekadar memetik kopi, tetapi sebuah โ€œpestaโ€. Penjual dadakan bermunculan, mulai dari warung yang hanya menyajikan mie rebus plus telur rebus, baje berbungkus kulit jagung kering, jalangkote, apang paranggi, bakwan hingga penjual lemang mewarnai kampung terpencil ini.

Anak-anak juga ikut riang karena uang jajan juga ikut menanjak. Pun kopi bisa langsung saja ditukar dengan makanan ringan, semisal kerupuk, mie rebus atau makanan tradisional lainnya. Anak-anak yang ikut ke kebun dan membawa pulang dua hingga tiga liter kopi mere bisa berbelanja sepuasnya.

[irp]

Hari pasar yang hanya dua kali seminggu di ibukota kecamatan akan penuh. Padahal kendaraan belum lancar masuk kampung. Jalanan belum diaspal, masih batu gunung yang berserakan. Jalan kaki terkadang jadi pilihan agar bisa sampai ke pasar yang jaraknya cukup jauh.

Ketiadaan kendaraan dan listrik tak mengurangi pesta masyarakat di saat panen kopi. Bagi banyak orang, itu mungkin kekurangan, tapi bagi orang kampung itu adalah kemewahan. Para perokok akan menghisap rokok paling prestisius: Rokok Surya dari Gudang Garam.

Lalu, semuanya berubah. Kedatangan angin kencang dua kali di tahun 1994 dan 2021 mengubah wajah Desa Kindang. Kampung yang dulu terkesan saโ€™mu (gelap karena matahari terhalang pepohonan) berubah jadi kalongarang (terasa terang, pandangan tak terbatas).

Pada saat itu juga, rasa dingin tak lagi begitu menusuk. Pohon-pohon besar yang jadi naungan kopi mere roboh. Menghempas pohon kopi hingga tak bisa lagi pulih seperti semula.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: