Lama Tertunda, Isu Kesehatan Akhirnya Masuk Agenda Konferensi Iklim PBB

oleh -24 kali dilihat
Bagaimana Mengatasi Gangguan Kesehatan Mental sebagai Efek Perubahan Iklim?
Ilustrasi gangguan mental/foto-MSN.com

Klikhijau.com – Perubahan iklim memperburuk beberapa ancaman kesehatan. Hal itu menciptakan tantangan baru bagi kesehatan masyarakat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat di seluruh dunia, hanya dengan mempertimbangkan beberapa indikator kesehatan, akan terjadi tambahan 250.000 kematian per tahun dalam beberapa dekade mendatang karena perubahan iklim.

Perubahan iklim secara langsung berkontribusi terhadap keadaan darurat kemanusiaan. Terkhusus bagi yang terhindar dari bencana alam seperti gelombang panas, kebakaran hutan, banjir, badai tropis, dan angin topan.

WHO mencatat pula, lebih dari tiga miliar orang sudah tinggal di daerah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim.

KLIK INI:  'Climate Change Class' Sebuah Aksi Kolaborasi Jaga Ozon

Antara tahun 2030 dan 2050, perubahan iklim diperkirakan akan menyebabkan puluhan ribu kematian tambahan setiap tahunnya. Penyebabnya beragam, di antaranya kekurangan gizi, malaria, diare, dan tekanan panas.

Dampak terhadap kesehatan dan kehidupan sehari-hari akan dirasakan di seluruh dunia, dan masyarakat adat seringkali menjadi pihak yang paling terkena dampaknya.

Lama tertunda

Karena itu pada Konferensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (COP28) 2023 di Dubai. Isu kesehatan telah dimasukkan ke dalam agenda konferensi iklim PBB, dan para pendukung kesehatan pada COP28 di Dubai tersebut.

Topik  kesehatan sudah lama tertunda untuk didiskusikan karena tidak adanya tindakan terhadap iklim menyebabkan banyak korban jiwa dan berdampak pada kesehatan setiap hari.

KLIK INI:  Anak Muda Makassar Mulai Cemas dengan Dampak Krisis Iklim, Apa Aksimu?

Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kepada para delegasi di COP28 bahwa pembicaraan seputar kesehatan lingkungan, kenaikan permukaan laut, dan pencairan gletser sudah lama tertunda untuk memasukkan dampak langsung dari guncangan iklim terhadap kesehatan manusia.

‘Hari Kesehatan’ yang pertama kali diadakan di COP ini menyoroti beberapa peristiwa penting, termasuk kemitraan publik-swasta untuk aksi iklim layanan kesehatan dan pembukaan komitmen keuangan dan politik yang relevan,” ujarnya dikutip dari laman PBB.

Para menteri kesehatan, lingkungan hidup dan keuangan menyampaikan pidato bersama tokoh-tokoh terkemuka seperti Bill Gates dan utusan iklim AS John Kerry.

Mereka semua berkumpul di auditorium Al Waha di Expo City di Dubai. Tujuannya untuk mempertimbangkan tindakan guna mengatasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan manusia.

“Meskipun krisis iklim adalah krisis kesehatan, sudah terlambat jika 27 COP tidak membahas kesehatan secara serius. Tidak lagi,” kata Dr. Tedros.

KLIK INI:  Sosialisasi di Sulsel, KLHK Perkuat Pemahaman  FOLU Net Sink 2030

Dia menegaskan kembali sambutannya, WHO terhadap deklarasi baru mengenai tindakan percepatan untuk melindungi masyarakat dari dampak iklim yang semakin besar yang disahkan pada hari Sabtu saat KTT Aksi Iklim Dunia.

Pada pertemuan tingkat menteri pada hari Sabtu lalu, Dr. Tedros menyoroti beberapa elemen yang penting untuk membangun respons efektif dalam mengatasi tantangan kesehatan dan iklim.

Ia menekankan bahwa para pemimpin harus memahami pentingnya fokus pada hubungan antara kesehatan dan dampak iklim, sehingga kesehatan dapat diarusutamakan ke dalam kebijakan iklim.

Keterlibatan dengan masyarakat juga sama pentingnya, termasuk dengan masyarakat yang terpinggirkan dan rentan, yang seringkali berada di garis depan dalam menghadapi tantangan iklim.

“Perspektif mereka dalam upaya mitigasi dan adaptasi harus dimasukkan.”

Investasi besar-besaran dalam layanan kesehatan akan menjadi kunci untuk mencapai tujuan ini, tegasnya.

KLIK INI:  Emisi Industri Peternakan Tak Bisa Diimbangi Penyerapan Karbon di Tanah

Dr. Tedros juga menggarisbawahi pentingnya kerja sama antar negara, belajar dari contoh sukses negara lain, dan kemudian menerapkannya dalam konteks lokal.

Jalan ke depan sudah jelas: “Kita tidak perlu mengubah arah,” tegasnya.

Suara pemuda Brasil

Reudji Kaiabi adalah pemuda asal Brasil. Dia anggota delegasi organisasi pemuda negeri Samba ‘Engajamundo’. Kaiabi adalah milik komunitas adat di Brasil

Dilansir dari UN News,  Engajamundo adalah sebuah kelompok yang dipimpin pemuda. Gerakan ini berfokus pada upaya mengatasi tantangan sosial dan lingkungan.

Kaiabi, mewakili masyarakat Kaiabi yudja yang tinggal di wilayah Aldeia Pequizal, Xingu, Mato Grosso di Brasil. Wilayah ini memiliki tiga ekosistem utama, yakni Cerrado, Pantanal, dan hutan hujan Amazon.

KLIK INI:  Akibat Perubahan Iklim, Gunung Denali Terancam Dibanjiri 60 Ton Tinja Manusia

“Meskipun masyarakat kami dikelilingi oleh hutan, perubahan yang terjadi sangat berdampak pada kami. Kami melihat banyak gelombang panas, perkebunan kami mati, dan masyarakat menderita. Sungai mulai mengering, ikan-ikan mati, dan hewan-hewan tidak dapat hidup lagi di sini,” katanya, memberikan gambaran yang kuat tentang dampak perubahan iklim terhadap tanah kelahirannya.

“Ini adalah pertama kalinya saya mengikuti COP, dan niat saya sebagai pemuda adat adalah untuk tidak hanya melihat perubahan di wilayah saya tetapi juga di seluruh dunia. Permintaan kami didengar, dihormati, dan diperhitungkan dalam pengambilan keputusan,” tegasnya.

KLIK INI:  Mengintip Upaya KLHK Kendalikan Pencemaran Udara Jabodetabek

Dari news.un