Darubiah, Desa Wisata di Selatan Sulsel dengan 10 Destinasi Andalan

oleh -212 kali dilihat
Darubiah, Desa Wisata di Selatan Sulsel dengan 10 Destinasi Andalan
Pesona wisata di Darubiah - Foto: Jadesta.kemenparekraf.go.id
Anjar S Masiga

Klikhijau.com – Desa Darubiah merupakan pecahan dari Desa Bira yang dikenal di Selatan Sulawesi Selatan sebagai surganya wisata bahari, terletak di Kecamatan  Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. Sejak tahun 2021 Darubiah ditetapkan sebagai desa wisata melalui Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Bulukumba.

Terdapat 10 destinasi wisata yang saat ini dikembangkan di Desa Darubiah tersebar di tiga dusun.  Di Dusun Dauhe ada Panaikang Birayya, Marumasa, Solorang, Kalibata  dan yang hits Dego-dego. Sedangkan di Dusun Kasuso ada Baruyya dan Batu Taha. Sedangkan di wilayah barat desa masuk dalam dusun Bira Lohe, ada Pussahelu, Puntaming, dan Ruku’-ruku’’.

Masing-masing destinasi wisata memiliki daya tariknya sendiri, namun ciri utama dari destinasi wisata yang ada di Darubiah, identik dengan tebing dan asrinya hutan yang terjaga secara turun temurun. Sedangkan pemandangan bawah lautnya juga tak kalah indahnya dengan spot menyelam lainnya di Bontobahari.

Berwisata di Darubiah bisa memilih tempat untuk melihat senja maupun matahari terbit.  Untuk menyambut matahari terbenam bisa di Batu Taha, Baruyya, Panaikang Birayya, Dego-dego, Marumasa, Solorang  yang masih satu deretan. Panorama yang indah disertai senja dapat dinikmati di Pussahelu, Puntaming, dan Ruku’-ruku’.

KLIK INI:  Karst dan Gua Purba di Maros-Pangkep serta 3 Hal Fenomenal di Baliknya

Penggarapan destinasi wisata ada yang bekerjasama pemerintah desa dan masyarakat ada pula yang dikelolah masyarakat setempat. Meski sejauh ini Pendapatan Asli Desa (PADes) dari destinasi wisata yang ada belum begitu menggairahkan, namun telah memberikan dampak positif bagi sejumlah masyarakat.

“Yang dibangun pemerintah desa beberapa tahun lalu itu tangga turun dan dermaga di Panaikang Birayya. Disitu ada PADes tapi belum stabil,” jelas Ketua BPD Darubiah, Indiz Essa Rutepar, Minggu, 23 Oktober 2022.

Pemerintah Desa, lanjut Indiz, juga telah membuka jalan menuju destinasi wisata dari jalur utama dan juga menghubungkan antar destinasi untuk memudahkan pengunjung. Meskipun sebagiannya belum jalan beraspal, namun dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

“Untuk infrastruktur terus dibenahi  pemerintah desa secara bertahap,” katanya.

Sejumlah masyarakat juga telah meengikuti pelatihan dalam rangka pengelolaan homestay agar lebih siap lagi dengan kunjungan-kunjungan wisatawan. Bukan hanya terkait pemenuhan fasilitas tapi juga dalam pelayanaan yang baik kepada tamu. Dalam kebersihannya, Pemerintah Desa telah membentuk  Satgas yang bertugas memantau dan mengelolah sampah.

KLIK INI:  Meninjau Ulang Rencana Bupati Bulukumba Datangkan Perusahaan Sawit

Selain wisata baharinya, juga terdapat juga wisata budaya berupa kain tradisional  salah satunya dikenal dengan lipa sabbe’, sedangkan kulinernya juga khas dengan uhu’-uhu. Masing-masing dikembangkan melalui usaha dengan memberdayakan kelompok perempuan. Ada pula pelestarian musik tradisional yang disebut biolla yang diiringi dengan syair bahasa daerah yang dipertunjukkan saat hajatan pemerintah. Ada pula seni bela diri tradisional Pamanca yang turut dilestarikan.

  • Wisata Tebing, Memicu Adrenalin

Destinasi wisata Panaikang Birayya, Solorang, Kalibata, Baruyya dan Dego-dego merupakan spot wisata tebing yang ada di Darubiah. Salah satu yang sering dikunjungi yakni Dego-dego, selain karena panorama alamnya yang indah juga bisa untuk menguji adrenalin.

Di Dego-dego, spot yang cocok untuk melakukan panjat tebing atau rock climbing. Direkomendasikan bagi wisatawan menyukai olahraga yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental. Tebing curam Dego-dego sangat menantang. Tak mudah melalui jalur tebing dengan kemiringan yang hampir 90 derajat. Ketinggianya diperkirakan 40 meter.

Garis pantainya tidak terlalu panjang, namun sangat eksotis. Pengunjung yang memutuskan untuk ke bawah mesti melalui jalur tangga darurat dan berpegangan kuat pada tali yang telah disiapkan. Dianjurkan untuk menggunakan alas kaki seperti sepatu atau sendal outdoor. Tentunya harus berhati-hati melalui karang yang tajam.

darubiah
Perempuan menenun kain di Darubiah – Foto: Ist
KLIK INI:  Tidak Hanya Surga Bagi Penyelam, Taka Bonerate juga Punya 3 Destinasi Darat yang Menggiurkan

Meski jalurnya tak mudah,  namun akan terbayarkan dengan panoramanya. Saat air surut, pengunjung bisa melakukan berbagai atraksi ala anak pantai atau menyusuri pinggiran tebing menuju pantai tersembunyi. Hal lainnya yang dapat dilakukan adalah snorkeling ataupun diving, menikmati pemandangan bawah laut yang indah seperti menyaksikan berbagai ikan hias berenang, terumbu karang dengan berbagai jenis dan warna, jika beruntung bisa bertemu penyu, manta, dan kawanan lumba-lumba.

Lokasi Dego-dego jauh dari keramaian sehingga cocok untuk bersantai dan menikmati waktu. Berbagai fasilitas yang disediakan tempat parkir yang luas, toilet, listrik untuk ngecas, tempat rental alat snorkeling atau diving, area camp, penginapan, dan ruang pertemuan.

  • Kain Tenun Tradisional Serat Akan Makna

Kain tenun Bira dikenal dengan lipa’  sabbe  atau juga disebut tenun bira. Prosesnya secara tradisional. Menenun merupakan tradisi turun temurun yang terus dijaga oleh sebagian perempuan di Desa Darubiah dan sekitarnya.

Salah satu penenun tradisional yang sempat ditemui pada pertengahan 2021, Fatimah, menjelaskan tenun tradisional memiliki tujuh pola dasar dalam membuatnya. Masing- masing memiliki pesan tersendiri oleh penenun, disebut sebagai pesan cinta dan kerinduan dari pembuat kepada orang terkasihnya yang biasanya pergi melaut hingga berbulan-bulan lamanya. Sarung tersebut punya bagiannya sendiri yang terdiri dari kuku, kaki dan isi kemudian kain disatukan dan saling bertemu menjadi sarung.

KLIK INI:  Menyusuri Rimba Pattunuang, Destinasi Baru dengan Sejuta Daya Tarik

Fatimah yang rentah merupakan warga Dusun Dauhe, tinggal bersama kakaknyya, Bulaeng Suhaeda yang juga penenun. Keduanyya menenun sejak kecil, diajarkan oleh neneknya. Fatimah sendiri belajar saat masih duduk di bangku kelas 5 SD, usianya kurang lebih 11 tahun kala itu. Sebagai pemula dan hanya meluangkan waktu sepulang sekolah. Perlu waktu tujuh bulan untuk menyelesaikan sebuah sarung.

“Dulu ibu saya meninggal saat kami masih kecil, harapan hidup nenek waktu itu hanya dari menenun dari kayu bakar sehingga saya dan kakak diharapkan membantu menenun,” jelasnya.

Menenun, diceritakan Fatimah bukan sekedar membuat sarung tapi sebuah keahlian khusus bagi perempuan Bira sebagai syarat untuk menikah. Hal itu tak lagi berlaku sekarang. Dulu menenun seperti menulis surat bagi perempuan untuk orang terkasihnya. Sarung disebut sebagai surat cinta.

Masyarakat Darubiah dan sekitarnya, pada umumnya adalah pelaut yang meninggalkan daratan dalam semusim. Pergi pada musim barat dan kembali di musim timur atau sebaliknya. Sekali melaut, mereka pulang paling cepat dalam enam bulan.

Selama penantian, perempuan mengisi waktu dengan menenun. Kain hasil tenun tersebut kemudian digunakan menyambut para pelaut yang kembali dengan pengalungan. Sambutan juga biasanya disertai dengan makanan khusus untuk disantap saat pertam kali mereka kembali. Itu adalah sayur kadien dengan kepala ikan.

KLIK INI:  Pengalaman Advokasi Perhutanan Sosial, Bekal Tita Kamila di Ajang Putri Indonesia 2023

Pada dasarnya, bahan utama sarung tenun yakni benang yang berwarnah putih. Untuk menghasilkan ragam warna sarung, benang akan diwarnai dengan kasumba sabbe. Sebenarnya ada berbagai pilihan pewarna, namun menurut Fatimah kasumba sabbe dianggap terbaik dan tahan lama.

Sebelum pewarna ada, benang putih diwarnai secara alami menggunakan akar bae dan beberapa bahan lainnya. Proses itu disebut bangkuru yang menghasilkan warna coklat gelap. Di antara tahapannya disebut angngassala yang berarti menekan (benang yang diberi warna ditekan-tekan untuk menghasilkan warna yang lebih kuat). Tentu saja pewarna alami lebih baik, tapi hanya bisa untuk satu warna.

“Dulu nenekku yang mewarnai, saya masih SD waktu itu. Dulu pergi subuh mencari akar di hutan dan pulang membersihkan lalu dimasak,” kenangnya.

Fatimah tak pernah mempraktekkan langsung pewarnaan alami. Benang yang digunakannya disebut benang samarinda, dibeli dari Surabaya biasanya dibawakan oleh langgananan pembeli sarungnya. Saru paket benang harganya bisa sampai Rp 4 juta, terdiri dari 50 tungkala (satuan gulungan) jika semua ditenun, bisa menghasilkan kurang lebih 18 sampai 20 sarung. Jika diuraikan, satu sarung bisa memakan 2,5 sampai 3 tungkala.

Benang yang dibeli, kemudian dicuci dan dikeringkan sebelum diberi pewarna. Hal ini untuk memberikan efek warna yang kuat dan tajam. Benang biasanya diwarnai sendiri oleh Fatimah, kecuali sibuk, dia akan meminta orang lain dengan bayaran Rp 30 ribu per tungkalanya. Untuk menghasilkan gradasi warna, bagian benang tertentu ditutup dengan daun pisang. Multi warna biasanya benang yang diperuntukkan pada pembuatan motif sarung.

Setelah proses tersebut, benang diurai satu persatu dengan alat tersendiri. Tiap bagiannya juga punga nama seperti kere-kere untuk merapikan tiap helai benang masuk ke dalam gulungannya. Ganra untuk pemutaran, roeng tempat memasukkan benang, ada lagi yang disebut panyekokang. Satu gulungan benang yang siap dipakai dibuat berdasarkan kebutuhan renrengan atau tarikan.

Setiap bagian dari alat tenun punya nama sendiri-sendiri. Mereka dibuat oleh para lelaki menggunakan kayu yang kuat dari jenis kayu nangka, kayu bitti, dan kayu hitam. Bagian alat tenun terdiri dari kayu utama disebut dengan tenreng anyeng sebagai penahan ujung benang dan gulungan benang yang akan ditenun, lalu tunrangan yang berfungsi menahan kaki yang diluruskan untuk menghasilkan tumpuan kekuatan. Bagian lainnya kayu liri, lalu pamatalli atau oenahan, gulungan, lalu diisi kembali oleh liri, kemudian pamasukkara dua, jangka atau sisir, balira, dan passa sebagai alat untuk gulungan kain yang telah ditenun.

Fatima memiliki dua jenis alat tenun, yakni tradisional dan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang dibeli sejak 1994 dari Sengkang, Kabupaten Wajo. Saat itu harganya masih Rp 450 ribu. Tenun modern bisa menyelesaikan satu sarung dalam sehari, sementara secara tradisional butuh waktu sebulan. Meskipun perbandingan waktunya sangat jauh, namun dia dan kakaknya tidak menyerah untuk menenun secara tradisional. Mereka ingin warisan dari neneknya terjaga.

Biasanya jam 7 pagi, dia mulai menenun hingga siang, kemudian istirahat. Menenun lalu dilanjut sore hingga menjelang senja.

Sarung yang ditenun bermacam-macam, bahannyapun memiliki tingkatan kualitas yang berbeda-beda. Antara Rp 400 ribu hingga Rp 800 ribu, tapi jika dibeli dari penjual harganya bisa melonjak drastis, bahkan ada yang dijual sampai Rp 1 jutaan. Sarung Bira tak sedikit kita jumpai dengan kemasan “sarung samarinda” lebel tersebut dianggap lebih familiar dipasaran, terlebih para pengepul sarung tenun Bira banyak memasarkannya di daerah Kalimantan.

KLIK INI:  Ketika Tempat Pembuang Sampah Bersalin Wajah jadi Tempat Rekreasi