Pasca Pandemi, Peluang Ekowisata Semakin Menanjak

oleh -84 kali dilihat
Objek ekowisata
objek wisata tandabaca, Kindang, Bulukumba-foto/Ist

Klikhijau.com – Ekowisata memiliki potensi besar sebagai alternatif wisata pasca pandemi. Terlebih,  di saat pasca pandemi seperti saat ini. Membuat wisatawan pastinya merindukan aktivitas wisata beraroma alam.

Klaim tersebut disampaikan oleh Dr Eva Rachmawati, Dosen IPB University dari Departemen Konservasi dan Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE), Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan).

Dr Eva menyampaikan hal itu pada saat Ngobrol Menjelang Berbuka (Ngolak) Forest Digest episode 3. Ngolak tersebut mengangkat tema tema ‘Peluang Ekowisata Setelah Pandemi’

“Dengan jumlah pemudik meningkat, masyarakat dapat menjadi peluang pasar untuk memanfaatkan potensi besar sumber daya ekowisata sehingga dapat berjaya,” ungkapnya beberapa waktu lalu dinukil dari  ipb.ac.id.

KLIK INI:  Begini Peran Destinasi Wisata Hutan Mangrove Bontang, Kaltim

Dr Eva juga mengatakan, agar mendapat masukan yang positif, perlu perencanaan dan mitigasi yang jelas dari kawasan ekowisata, bergantung dari pasar mana yang akan ditangkap. Perencanaan ekowisata bisa berbasis keunikan di daerah masing-masing maupun berdasarkan tematik.

“Branding keunikan ekowisata harus dilakukan dengan lebih berani. Keunikan yang diangkat misalnya wisata berbasis teknologi, pariwisata inklusif untuk penyandang disabilitas, medical tourism dan sebagainya,” tegasnya.

Menurut Dr Eva, peluang ekowisata dari sisi ekonomi terutama pasca pandemi sangat baik.  Karena akan ada kerelaan pengunjung untuk membayar tiket masuk ke kawasan konservasi yang cukup tinggi. Para pengunjung akan berani membayar merogok sakunya dalam-dalam  karena ada tujuan yang ingin dicapai.

“Prinsip pelaksanaannya mesti dikelola oleh masyarakat lokal dan bersifat bottom up, sehingga pendapatan yang diperoleh dapat kembali ke masyarakat. Dengan demikian, pengelolaannya lebih berkelanjutan,” lanjutnya.

Selain itu, mesti adak inisiatif serta pemahaman masyarakat lokal terkait pelestarian dan pemanfaatan kawasan konservasi diperlukan.

KLIK INI:  Goa Hawang dan Lelaki yang Mematung Memegang Tombak di Maluku
Masyarakat harus ambil bagian

Dr Eva menyarankan agar masyarakat juga harus ambil bagian menjadi tuan rumah yang baik demi memberikan pelayanan yang maksimal agar wisatawan mau berkunjung kembali.

“Pengelolaan yang bersifat up down tidak masalah selama pemerintah memperhatikan kebijakan dan teknis yang disesuaikan dengan budaya sosial dan lingkungan di sekitar kawasan ekowisata,” katanya.

Lebih lanjut, Dr Eva menuturkan, mahasiswa juga dapat berkontribusi dalam pengelolaan ekowisata ini melalui ide-ide yang dicetuskan. Ide tersebut mengacu pada permintaan pasar serta kebutuhan dan kekhasan daerah masing-masing.

KLIK INI:  Bantimurung Kembali Dibuka, Ini Syarat untuk Berkunjung!

“Dari ide tersebut, masyarakat juga didorong untuk meningkatkan kapabilitasnya. Terlebih aspek integrasi dan kolaborasi sering menjadi hambatan dalam pengelolaan kawasan ekowisata,” ujarnya.

Ia mengatakan, generasi muda dapat menjadi salah satu pendongkrak perekonomian berbasis ekowisata. Hal ini dibuktikan dari meningkatnya jumlah peminat jurusan KSHE di IPB University setiap tahunnya.

“Mahasiswa dan lulusan dapat mengambil peran penting dalam pengelolaan ekowisata bersama masyarakat lokal sehingga potensi ekowisata di Indonesia dapat berdaya saing,” pungkas Dr Eva.

KLIK INI:  Permandian Bravo 45 Bulukumba dan Lelaki Misterius Bernama Suma'

Sumber: ipb.ac.id