Jelajah Gua Leang Passea, Situs purbakala Tertua di Bulukumba

oleh -53 kali dilihat
Jelajah Gua Leang Passea, Situs purbakala Tertua di Bulukumba
Gua Leang Passea - Foto: AP
arfan maulana palippui

Klikhijau.com – Gua Leang Passea merupakan situs sejarah purbakala di Kabupaten Bulukumba. Berjarak sekitar 35 km dari kota Bulukumba, secara wilayah spot ini berada di kampung Kaddoro, desa Lembanna Kecamatan Bontobahari Bulukumba.

Bagi para peneliti sejarah, Leang Passea tidak hanya sekadar gua. Tetapi juga menjadi representasi nyata pradaban tertua yang menyimpan banyak peninggalan dan kisah-kisah leluhur orang Bulukumba

Memulai kunjungan perdana, saya membayangkan sulitnya akses ke Gua Leang Passea. Namun tak seperti dugaan. Kini sangat mudah, karena akses jalanya telah mencapai tahap perbaikan sekitar 80 persen, nantinya jalan menuju goa akan beraspal.

Jam tangan menunjukkan pukul satu, dengan sedikit hela nafas diikuti langkah menurun kebawah. Terdengar sayup-sayup kicau burung dibalik teduhnya ragam jenis pepohonan di sekitar pintu masuk ke dalam gua.

Tepat di lantai gua yang berada tidak jauh dari pintu masuk, cahaya matahari mengintip di balik pohon besar yang tumbuh tepat di mulut gua. Siapa yang menyangka, di sebuah lahan yang ditumbuhi banyak semak belukar terdapat gua berukuran 59 meter, bertipe horizontal dengan rangkaian stalagtit dan stalagmit yang menyatu dengan pilar gua yang tinggi besar.

Diperkirakan rata-rata pertumbuhan stalagmit dalam kurang waktu satu tahun mencapai 0,13 mm. Ini menunjukkan jika kita mengacu pada kecepatan tumbuh, maka Gua Leang Passea telah ada sejak ratusan ribu tahun yang lalu.

KLIK INI:  7 Fakta Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Gandang Dewata

Setelah menyusuri area gua, terdapat tiga bagian yakni zona cahaya, zona buta separuh dan zona buta total. Sepintas saya membayangkan sedang berada dalam latar film fantasi  Journey to the Center of the Earth yang juga bercerita kisah petualang dalam gua dengan banyak hal menakjubkan.

Ekspektasi itu memuncak saat penggalan kisah menyesupi ruang imaji atas resistensi leluhur orang bulukumba. Tidak hanya itu, suguhan nuansa wisata ruang dan waktu dimasa lalu mampir lewat peninggalan benda-benda dan bebatuan yang telah berumur ratusan ribu tahun.

Sejarah Gua leang Passeaa

Gua Leang Paassea secara pemaknaan lokal miliki arti penderitaan.Tentunya, arti itu semakin menumbuhkan rasa penasaran saya atas peristiwa di masa lampau. Budayawan kelahiran bulukumba Almarhum Drs. Muhannis yang disebut-sebut orang pertama yang menemukan gua ini pernah menyebutkan bahwa gua ini telah dihuni sekitar abad ke-4 atau 8 abad SM.

Sejarah mengenai Gua Leang Passea menurut penuturan warga yang sempat saya jumpai, konon keberadaan gua ini dimanfaatkan leluhur mereka sebagai tempat persembunyian dari praktik kanibalisme. Juga dijadikan sebagai tempat bermeditasi, yang dalam sebuatan warga lokal mah baca-baca. Sayangnya narasi itu tidak menghimpun secara utuh kilas peristiwanya.

Sumber lain menyebutkan bahwa gua ini pernah dijadikan sebagai tempat pemakaman, praktik ini terjadi jauh sebelum agama islam masuk ke wilayah Bukumba. Menyelami rasa penasaran personal atas sejarah Gua Leang Passea, saya menemukan fakta beberapa literatur menyebutkan bahwa terdapat puluhan wadah kubur dan tulang belulang manusia di Gua Leang Passea.

Lebih tepatnya pada tahun 1993 masih ditemukan delapan wadah kubur, hingga bulan Agustus 2005  jumlah wadah kubur tersisa tiga buah dengan beberapa fragmen tulang manusia yang bertahan. Beberapa sumber menyebutkan beberapa diantaranya telah dijual oleh pihak tidak bertanggung-jawab kepada kolektor benda-benda prasejarah. Namun saat berada dilantai gua, hanya tersisa beberapa bekas kayu wadah kubur yang tergelatak di beberapa sisi gua dengan panjang rata-rata 2 meter.

KLIK INI:  G2B2, Gerakan Gotong Royong Bersih Lingkungan di Bulukumba

Keterkaitan Budaya Bulukumba dan Tanah Toraja

Situs purbakala Gua Leang Passea  telah menarik minat para peneliti alkeologi nasional dan internasional, seperti mulvaney dari Australian national university dan beberapa tim peneliti dari pusat alkeologi nasional sekaligus mengungkap babak baru sejarah masa lampau.

Benang merah pradaban ribuan tahun yang telah hilang dan terlupakan di bulukumba menemukan titik terang. Wadah kubur yang ditemukan di Gua Leang Passea menunjukkan pola menguburan yang mirip dengan model-model penguburan pada masyarakat toraja, batak dan masyarakat Vietnam selatan.

Adanya kemiripan bentuk dengan model wadah kubur yang ada di Tanah Toraja berupa kesamaan motif geometris yang menghiasi bentuk wadah kubur yang terdapat di Gua Passea.

Selain itu terdapat kesamaan dari tata cara pemakaman dan peti mati, hal ini menandakan adanya hubungan antara budaya bulukumba dan toraja di masa lampau.

Ini terjadi pada zaman megalithik, dimana tradisi penguburan prasejarah ini terjadi. Namum sebagaimana perkembangan saat ini, bagi warga Desa Ara cara penguburan seperti ini tidak lagi berlanjut. Tidak menutup kemungkinan memiliki keterkaitan yang sama, namun kurangnya referensi membuat itu berakhir sebagai asumsi.

Selamat berkunjung!

KLIK INI:  Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih di Bira, Pegiat Lingkungan: Sampahnya Ya!