Tak Ada Pantai di Bira

oleh -59 kali dilihat
Tak ada Pantai di Bira
Ilustrasi-foto/Unsplash
Irhyl R Makkatutu

 Yang paling ingin kulihat jika ke pantai Bira adalah pasirnya. Konon telah berubah jadi cokelat tanah. Tak ada yang tahu penyebabnya, tapi berita itu telah menggegerkan seisi kampung.

Bagaimana mungkin, dari pasir putih berkilau menggoda bisa berubah warna jadi cokelat tanah? Mustahil.

Sejak kabar itu merebak, orang-orang yang biasa berkumpul di selasar rumah main domino tiap sore akan lupa menurunkan dominonya.

Mereka sibuk saling mendebat penyebab pasir pantai Bira berubah. Setelah lelah berdebat, mereka akan bingung siapa yang harus menurunkan kartunya.

KLIK INI:  Meneguk Puisi Harijadi S Hartowardojo “Lereng Senja” yang Disesaki Diksi Alam

Kebingungan itu membuat para pemain domino tertawa lepas. Seakan kebahagiaan mereka temukan pada kebingungannya, pada kesalahan yang tak disengaja.

Aku yang baru tiba di kampung langsung mencecar Ibu pertanyaan. Jika Ibu mengatakan bahwa benar pasir putih Bira berubah. Aku tak punya kuasa untuk tidak percaya.

“Iya, Puang Sardi menceritakannya saat pulang dari Bira. Ia membawa pasir dari sana yang telah berubah warna,” jelas Ibu penuh keyakinan.

Musim hujan menahan warga mengunjung Bira untuk membuktikan kabar itu. Hari ketiga di kampung, aku nekat menerabas hujan untuk mengunjungi Bira.

Mengunjungi Bira bagiku serupa mengunjungi kekasih. Ada kisahku tertanam kuat di sana dengan Nenna. Kekasih pertamaku.

KLIK INI:  7 Puisi Tema Lingkungan dengan Metafora Terbaik dan Menyentuh

Hujan deras disusupi angin kencang memaksaku berhenti berteduh di kolong rumah warga.

Tanpa sengaja aku mendengar perdebatan suami istri di rumah itu. Bahwa selain pasirnya yang berubah, salah seorang pengunjung pantai Bira menemukan gigi seukuran bantal kepala.

“Barangkali itu gigi raksasa yang dikalahkan penunggu Bira, atau penunggu Bira menahan ombak yang besar hingga giginya ompong, hingga gusinya berdarah, darahnya itulah yg menyebabkan pasirnya yang putih berubah coklat tanah”

“Masuk akal juga analisismu,” puji istrinya.

“Atau mungkin saja tanah gunung Lompobattang yang telah kehilangan pepohonannya terseret ke sana,” lanjut suaminya.

“Ini paling mungkin,” jawab istrinya.

Aku tak mendengar kelanjutan percakapan mereka. Hujan mereda berubah gerimis. Aku segera meninggalkan kolong rumah panggung itu. Membunyikan motor tergesa lalu melesap menjauh.

KLIK INI:  Menikmati Akhir Pekan dengan Pantun Lingkungan yang Menginspirasi

Rasa penasaranku membukit, tentang kebenaran cerita itu. Di sebuah tanjakan, tak terlalu jauh dari pantai Bira. Ban depan motorku tetiba lepas. Lalu menggelinding.

Aku mengejarnya, semakin aku dekat, roda itu semakin menggelinding cepat. Aku terus mengejarnya, aku nyaris kehilangan napas. Ban motor itu terus saja menggelinding ke pantai Bira.

Aku terus mengejarnya, terus saja, ban itu akan berhenti di pantai—tak akan bisa menggelinding dalam pasir.

Namun, tak ada lagi pasir di Bira, tak ada lagi pantai, tak ada laut, hanya ada tanah cokelat tak berpenghuni.

Ban itu terus menggelinding dan aku terus saja mengejarnya. Terus menerus.

Kindang, 10/7/2016-2022

KLIK INI:  9 Puisi Sapardi Djoko Damono dengan Metafora Alam yang Menyentuh