Daun yang Gugur dan Ingatan Tentang Sekolah

Daun yang Gugur dan Ingatan Tentang Sekolah
Ilustrasi -foto/ KaiPilger/Pixbay
Bacakan Artikel
ilhamaidil@gmail.com

Artikel terbaru dari ilhamaidil@gmail.com (lihat semua)

Klikhijau.com - Di teras rumah, saya menyeruput kopi Toraja sambil menyaksikan halaman rumah yang banyak dipenuhi dedauanan kering yang terjatuh ditiup angin. Kelopak-kelopak bunga berupaya bertahan menangkap matahari yang masih ranum di pagi hari. Debu-debu menutupi daun-daun yang masih bertahan. Setiap melihat daun-daun gugur saya teringat masa kecil.ย 

Tahun 1998

Jika pagi telah tiba dan mendengar kata โ€œsekolahโ€. Saya selalu mencari alasan untuk tidak pergi ke sekolah: pura-pura sakit kepala atau sakit perut. Apa saja yang bisa saya jadikan alasan untuk tidak ke sekolah. Saya malas sekali ke sekolah. Sekolah itu membosankan bagi saya. Tidak ada yang menarik.

Saya lebih suka bermain di pinggir kali, bermain perosotan di lereng gunung, atau memanjat pohon dan bergelantungan. Tapi Ibu saya seperti pokok pohon jati di musim kemarau: tegar dan tidak mudah roboh, selama masih bisa ditahan maka ia akan berkata kalau di sekolah nanti sakitnya hilang sendiri. Atau karena malas mandi dan tidak berkehendak bangun dari tempat tidur, maka Ibu akan menggendong saya menuju sumur atau gumbang yang tersedia air. Meski udara dingin, ia akan menyirami badan, wajah dan kepala saya dengan air. Jikalau hujan, maka ibu akan mencari daun pisang atau daun keladi yang lebar, orang di kampung saya menyebutnya daun suli, yang berukuran besar untuk dijadikan payung.ย 

Sambil menggenggam tangan saya, ia akan bilang, โ€œPokoknya kamu harus ke sekolah. Kamu mau jadi apa kalau tidak sekolah?โ€ย 

Ibu sudah menyiapkan seragam sekolah, buku dan pensil untuk dimasukkan ke dalam tas. Alhasil saya pergi sekolah dalam keadaan hujan mencurah dan terpaksa.ย 

Lonceng berbunyi saat saya tiba di sekolah. Terlihat beberapa siswa sudah berbaris rapi di depan kelas untuk diperiksa kukunya dan bersalaman dengan ibu guru. Siswa yang terlambat diberikan hukuman berdiri dengan satu kaki sementara siswa yang kukunya panjang dipukul dengan penggaris. Ibu guru galak, di kelas kapurnya bisa terbang seperti burung ababil yang melemparkan batu.ย 

Di sekolah saya mulai belajar dan pelajaran hanya diikuti oleh hampir semua siswa. Saya bukanlah siswa yang pintar, jika diukur dengan ranking. Biasanya siswa yang pintar mengisi bangku-bangku paling depan. Kalau saya lebih memilih duduk di bangku tengah.ย 

Kali ini saya menyimak pelajaran bahasa Indonesia. Membaca.ย 

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: