Hujan di Kota M

2014. Suatu ketika entah bagaimana Raka tiba-tiba mengingat suatu peristiwa. Saat dimana ia dan Anna berboncengan dari arah kampus. Hujan mengguyur dengan derasnya. Air di selokan menguap dan genanga...

Hujan di Kota M
Bacakan Artikel
Ilham Aidil

Pengajar PIBA UIN Alauddin Makassar

2014.

Suatu ketika entah bagaimana Raka tiba-tiba mengingat suatu peristiwa. Saat dimana ia dan Anna berboncengan dari arah kampus. Hujan mengguyur dengan derasnya. Air di selokan menguap dan genangan menutupi separuh jalan. Tiba-tiba mereka berhenti di tepi jalan, berteduh di bawah pohon ketapang yang berdiri kokoh yang usianya terbilang sudah cukup tua. Daunnya lebat, dan rantingnya menjulur ke bahu jalan. Entah siapa yang menanam pohon ini. Hanya ada Raka dan Anna yang sedang kedinginan. Tiba-tiba Anna mengarahkan pandangan ke arah Raka dan tersenyum. Raka benar-benar tidak berdaya. Senyum Anna manis sekali. Anna meminta Raka untuk untuk mengambil jas hujan miliknya di sadel motor.

“Raka, ada jas hujan di bagasi motor,” katanya.

Raka pun membuka bagasi motor dan mengambil jas hujan yang Anna maksud.

“Kamu pakai, ya.” lanjutnya.

“Kenapa saya yang harus memakainya? Kenapa bukan kamu saja? Kamu lebih membutuhkannya daripada saya.” Kata Raka.

“Karena kamu yang akan mengendarai motor. Bukan saya.”

“Ah…kamu saja yang pakai. Saya akan baik-baik saja.” Anna tersenyum.

Anna perempuan yang unik, tidak manja. Hanya saja ia keras kepala seperti pokok pohon jati. Tidak ada yang berubah, ia masih sama seperti dulu saat mereka masih berstatus mahasiswa baru jurusan Sastra Inggris. Raka dan Anna sering berdebat hanya karena persoalan kecil. Di kelas Anna punya kemampuan bicara lebih baik dibanding Raka. Kepandaian Anna bercerita dan berdiskusi membuat Raka merasa bodoh. Termasuk persoalan siapa yang akan memakai jas hujan ini. Kalah secara halus.

Raka dan Anna basah kuyup. Raka menatap wajah Anna yang gigil. Anna melempar senyum yang Raka anggap sebuah harapan bahwa Anna menaruh perasaan terhadapnya.  Tetapi itu hanya pendapat Raka saja. Sejauh ini mereka tidak dapat menamai hubungan mereka seperti apa. Boleh dikata hanya sebatas teman. Tetapi entah kenapa ada getaran yang semakin berdetak ketika Anna berada di dekat Raka.  Perasaan mereka seperti sudah bertaut. Tidak ada yang ingin saling mengatakan. Hanya persoalan waktu saja.

Beberapa saat kemudian, hujan mulai reda. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju tempat dimana mereka akan mengambil gambar untuk pembuatan film dokumenter. Sial, ban motor tiba-tiba saja kempis dan bocor. Raka mesti mendorong motor menuju bengkel sekitar dua ratus meter jauhnya. Belum lagi mendorongnya butuh tenaga ekstra di tengah genangan air. Semoga saja Anna tidak kesal. Untungnya ada bengkel di perempatan jalan. Sepertinya butuh waktu yang cukup lama untuk menunggu ban motor itu ditambal. Ada beberapa kendaraan motor bernasib sama.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2