Tanah dari Langit

Hujan terus menyambung. Sudah tiga hari air tak henti-hentinya mengucur dari langit. Kadang berubah jadi gerimis, tetapi tak pernah benar-benar reda. Keadaan pun jadi basah dan dingin. Akibatnya, oran...

Tanah dari Langit
Bacakan Artikel
Ramli Lahaping

Artikel terbaru dari Ramli Lahaping (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Hujan terus menyambung. Sudah tiga hari air tak henti-hentinya mengucur dari langit. Kadang berubah jadi gerimis, tetapi tak pernah benar-benar reda. Keadaan pun jadi basah dan dingin. Akibatnya, orang-orang memilih meringkuk di dalam peraduannya.

Demikian pula Sadi. Ia terus saja berdiam diri. Ia tak sanggup melakukan pekerjaan taninya. Sebagai duda, ia merasa mesti menjaga kesehatannya, sebab ia tinggal sendiri di rumah panggungnya yang menyendiri dari perkampungan, sehingga tak akan ada yang memerhatikan dirinya kalau sakit. Ia memang punya seorang anak laki-laki, tetapi sang anak sudah sepuluh bulan menetap di kota untuk berkuliah.

Tanpa terasa, hari sudah sore. Sadi lantas bangkit dari kasurnya. Ia lalu mengintip keadaan lewat celah dinding kayu rumahnya. Sekitar seratus meter di depannya, ia pun melihat sungai dengan banjir yang makin meninggi. Ia lantas memanjatkan doa, semoga tidak akan terjadi petaka.

Sesaat berselang, sorot matanya mundur dan menyenter area sekitar pohon tarra miliknya. Di sana, ia melihat buah pohon besar itu tergeletak di beberapa sisi. Dengan mengenakan payung, ia lantas bergegas mengumpulkannya sebelum malam datang dan binatang nokturnal memangsanya.

Seiring aktivitas pungutannya, ia pun berharap besok hujan reda. Jikalau demikian, ia akan berjalan sekitar 300 meter ke arah barat, ke jembatan gantung, untuk ke perkampungan seberang, lantas ke pasar untuk menjual buah tarranya. Dengan begitu, ia akan memperoleh penghasilan.

Tetapi ia mesti bersabar. Jumlah buah pungutannya terbilang sisa setengah daripada pungutannya pada hari-hari yang cerah. Itu karena separuh cabang tanamannya yang bernama latin artocarpus elasticus tersebut, telah melebar hingga menaungi area sungai. Akibatnya, ketika air membanjiri sempadan bebatuan, buah tarranya akan jatuh ke dalam arus, dan hanyut.

Peliknya, ia tak mampu mememanen buah tarranya. Di usianya yang hampir kepala lima, ia tak kuasa memanjat pohon setinggi lebih dari 45 meter itu. Kalaupun ia sanggup menaiki bagian batang tak bercabangnya setinggi sekira 30 meter dan berdiameter hampir 2 meter, yaitu dengan menggunakan tangga bambu, ia pasti kesulitan untuk mengambil buahnya di sisi pucuk dedaunannya.

Karena situasi itu, buah tarranya jadi kurang berkualitas. Itu karena setiap buah yang jatuh keras dari ketinggian, apalagi kalau mendarat di bebatuan pesisir sungai, akan bonyok, atau bahkan koyak. Kalau begitu, ia hanya akan menjualnya kepada pemilik kios di pasar dengan harga murah, di bawah harga standar yang berkisar Rp4.000 sampai Rp5.000 per buah.

Dan akhirnya, setelah memungut buah yang ada, ia pun memandang-mandangi lagi banjir yang telah membawa separuh dari bakal rezekinya. Melihat arus yang makin meninggi tersebut, ia kembali berharap pada kekuasaan Tuhan, semoga langit yang suram di atas kepalanya dan menggelap di hulu sungai, segera bergeser ke sisi bumi yang membutuhkan air hujan.

Kekhawatiran dan harapannya atas keadaan itu beralasan, sebab sepanjang hidupnya, sudah empat kali banjir besar terjadi. Banjir yang tingginya lebih dari enam meter, hingga mencapai pangkal pohon tarranya. Banjir yang kurang sekitar semester lagi akan menggapai dan membahayakan rumahnya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2