Pohon Lamtoro, Berkah bagi Tiga Serangkai

oleh -48 kali dilihat
Pohon Lamtoro, Berkah bagi Tiga Serangkai
Bunga pohon lamtoro-foto/Ist

Klikhijau.com – Bagi warga Na’na’ dan sekitarnya. Menanam dan merawat pohon lamtoro adalah berkah. Pohon bernama ilmiah Leucaena leucocephala itu menawarkan banyak manfaat dan warga Na’na, Kecamatan Kindang, Bulukumba memanfaatkannya.

Pohon dari suku Fabaceae ini biasanya tumbuh liar saja. Tak ada yang menanamnya khusus. Namun, warga Na’na’ sengaja menanamnya. Menjadikannya pohon naungan di kebun kopinya.

Lamtoro adalah pohon yang tumbuh dengan ketinggian sedang. Ketika berbunga, burung-burung pengisap nektar bunga akan mengepungnya, misalnya burung madu sriganti.

Menanam dan merawat lamtoro, bukan hanya menjadi pohon naungan kopi dan sumber pakan beburung, tapi juga menjadi pakan ternak.

KLIK INI:  Berfungsi Sebagai Obat, Pogo' Dihargai Puluhan Juta Rupiah?

Pohon dari ordo Fabales ini merupakan tanaman pakan leguminosa, yakni salah satu pakan hijau bagi hewan ruminansia, yaitu hewan pemamah biak yang mengkonsumsi tumbuhan sebagai makanan utamanya, seperti kambing, sapi, kerbau, dan kuda.

Apalagi kebutuhan hijauan untuk ternak ruminansia relatif tinggi dan penggunaannya sebagai pakan hingga 100 persen (Laconi et al., 2010).

Sumarta (2006) menyatakan bahwa lamtoro dapat menyediakan protein yang cukup tinggi Ia mudah didapatkan sepanjang tahun. Mengandung sejumlah tannin sehingga ampuh mencegah kembung pada ruminansia. Lamtoro juga dapat melindungi dari degradasi protein yang berlebihan oleh mikroba rumen dalam metabolisme protein.

Karenanya, pohon ini memang cocok dibudidayakan, sebab merupakan adalah salah satu  sumber protein untuk ternak yang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan kering dan tahan kutu loncat.

Prihantoro dkk 2019 mengungkapkan, lamtoro mengandung komposisi zat kimia berupa 25,90 persen protein kasar, serat kasarnya mencapai  20,40 persen dan abunya mencapai 11 persen. Sementara karotin 530.000 mg/kg dan tannin 10,15 persen mg.

KLIK INI:  Melepasliarkan Satwa Tak Bisa Sembarangan, Ini Syaratnya!
Pohon multiguna

Tidak heran jika masyarakat Na’na kemudian membudiyakan tanaman lamtoro, karena merupakan tanaman legum pohon yang multiguna, bukan hanya daunnya yang digunakan sebagai pakan ternak, kayunya dapat digunakan sebagai bahan bangunan, kayu bakar dan arang.

Selain itu, sebagai lahan pertanian, tanaman ini memang cocok karena menurut Batseba M.W. Tiro dkk, (2021) perakaran pohon cukup dalam sehingga mampu bertahan dengan baik di daerah kering.

Pertumbuhan pohon dari  genus Leucaena ini tergolong cepat. Dalam waktu 3-5 tahun ia dapat mencapai 10 sampai 18 meter.

Pohon ini juga relatif tahan terhadap pemangkasan berat.  Selain itu juga mempunyai nodul akar yang dapat membantu menyuburkan tanah. Tanaman ini juga sering digunakan sebagai tanaman pelindung dan juga pagar hidup.

Lamtoro memiliki beragam nama lokal di Indonesia, yakni kemlandingan, petai selong atau petai cina. Pohon ini tidak hanya dijadikan sebagai pakan ternak dan pohon naungan, tetapi kerap pula digunakan untuk penghijauan lahan atau pencegahan erosi.

KLIK INI:  Bukan Hanya Kekasih, Harimau Juga Ngambek Jika Keinginannya Tak Dipenuhi
Ciri pohon lamtoro

Wikipedia mencatat, lamtoro merupakan pohon atau perdu yang memiliki tinggi hingga 20 meter. Meski kebanyakan hanya memiliki tinggi sekitar 2 hingga 10 meter saja.

Pohon ini memiliki percabangannya rendah dan banyak. Pepagannya berwarna kecokelatan atau keabu-abuan, berbintil-bintil dan berlentisel. Ranting-rantingnya berbentuk bulat torak, dengan ujung  berambut rapat.

Daunnya majemuk dan berbentuk menyirip rangkap, siripnya berjumlah 3 hingga 10 pasang. Kebanyakan dengan kelenjar pada poros daunnya tepat sebelum pangkal sirip terbawah. Daun penumpu kecil berbentuk segitiga.

Anak daun tiap sirip 5 hingga 20 pasang, berhadapan, bentuk garis memanjang, 6 hingga 16 mm × 1 sampai 2  mm. Pada  ujungnya runcing dan pangkalnya miring dan tidak sama.  Sementara permukaannya berambut halus dan tepinya berjumbai.

Bunganya majemuk berupa bongkol bertangkai panjang yang berkumpul dalam malai berisi 2 hingga 6 bongkol.

KLIK INI:  Kenali 12 Jenis Kayu Langka di Indonesia yang Kelak Bakal Dirindukan

Pada tiap-tiap bongkolnya tersusun dari 100 hingga 180 kuntum bunga, membentuk bola berwarna putih atau kekuningan berdiameter 12 hingga 21 mm, di atas tangkai sepanjang 2 hingga 5 cm.

Bunganya kecil-kecil, berbilangan 5. Berbentuk tabung kelopak menyerupai lonceng bergigi pendek. Mahkota bunganya berbentuk solet. Benangsari 10 helai.

Buahnya polong berbentuk pita lurus, pipih dan tipis, 1 hingga26 cm × 2 cm, dengan sekat-sekat di antara biji, hijau dan akhirnya cokelat kehijauan atau coklat tua apabila kering jika masak, memecah sendiri sepanjang kampuhnya.

Buah lamtoro mengandung 15 hingga 30 biji yang terletak melintang dalam polongan, berbentuk bulat telur sungsang atau bundar telur terbalik, dengan warna cokelat tua mengkilap yang berukuran 6 sampai 10 mm × 3-4,5 mm.

Biji buah lamtoro mirip petai, namun ukurannya lebih kecil dan berpenampang lebih kecil pula.

Oya, sahabat hijau, keberadaan lamtoro adalah berkah bagi tiga serangkai, yakni petani, ternak, dan beburung, khususnya bagi penghisap nektar bunga. Dari lamtoro mereka bisa menyambung hidup.

KLIK INI:  Senggani, Tanaman Nostalgia yang Kaya Manfaat