Bassang, Makanan Khas Sulsel yang Lihai Menari di Lidah

oleh -112 kali dilihat
Ilustrasi bassang
Ilustrasi bassang/Foto-instagram.com/imelda_wi
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Klikhijau.com – Daeng Ina, pada suatu sore beberapa hari lalu datang ke rumah. Ia tidak datang dengan tangan kosong. Tapi, membawa bassang yang merupakan makanan khas Sulawesi Selatan (Sulsel).

Di kampung saya, Kindang, Bulukumba. Masyarakat mengenal dua jenis bassang. Keduanya masing-masing berbahan baku dari jagung.

Jenis pertama, jagung yang dimasak bersama tongkolnya, bassang jenis ini terbuat dari jagung yang masih mudah, baik berupa jagung pulut atau bukan. Cara masaknya simple saja, kupas jagung yang masih muda lalu masak (rebus) hingga masak.

Ada juga yang merebusnya bersama dengan kulitnya. Perebusan seperti ini banyak dijumpai di Kabupaten Takalar, Sulsel, tapi namanya bukan bassang, orang lebih mengenalnya dengan nama jagung rebus.

KLIK INI:  Perihal Songkolo, Kuliner Merakyat Sulsel dan Manfaat Beras Ketan bagi Tubuh

Setelah bassang jenis ini masak, angkat, lalu sajikan. Bisa dimakan dengan sambal, bisa pula hanya bermodalkan garam. Namun, sangat sering pula dinikmati begitu saja, tanpa embel-embel sambal dan garam.

Jenis yang kedua adalah bassang yang terbuat dari jagung pulut yang telah terpisah dari tongkolnya. Bassang jenis ini terbuat dari jagung pulut yang telah matang alias tua.

Jenis kedua inilah yang dibawa Daeng Ina, sepupu saya ke rumah. Masyarakat di kampung saya menamainya bassang bo’nyok.

Penamaan itu berangkat dari kondisi jagung yang telah masak yang memiliki sifat bonyok, layaknya bubur. Bentuk jagungnya tidak lagi itu, tapi banyak yang telah berhamburan ditambah lagi tepung terigu yang menyemainya.

KLIK INI:  Melebur Rindu di Sepiring Kanre Campe’
Mulai langka

Perihal nama, ada beragam pendapat mengenai penamaan bassang, namun yang paling banyak beredar adalah, kata bassang diambil dari kata bassoro, yang artinya kenyang. Bassang memang mampu mengenyangkan

Saat ini, makanan khas yang satu ini mulai sulit ditemukan. Tergusur oleh makanan-makan modern yang datang menggempur.

Kelangkaan makanan khas ini memang patut disayangkan. Gempuran makanan modern menjadi ‘virus’ yang melumpuhkannya.

Bassang bo’nyok adalah makanan sejenis bubur yang terbuat dari jagung ketan (jagung pulut), garam, tepung terigu, air, santan dan gula pasir

Gula pasir dan santan biasanya akan campurkan ke dalam bassang saat akan disantap, jadi tidak dimasak bersamaan.

Di Kota Makassar dan sekitarnya, makanan khas ini biasanya dijual di pagi hari, tapi bukan di sebuah warung atau rumah makan, tapi dijajakan keliling menggunakan sepeda atau motor. Harganya murah meriah perporsinya.

Ketika saya masih banyak menghabiskan waktu di Makassar dan Gowa. Hampir setiap pagi akan menunggu penjual bassang di depan rumah.

Untuk membeli pun, pembeli bebas menentukan porsinya. Jadi, bisa disesuaikan dengan isi kantong.

KLIK INI:  Pisang Peppe, Kuliner Khas Sulsel yang Menari di Lidah
Cara pembuatannya

Membuat bassang bo’nyok butuh kesabaran, tidak bisa instan. Sebab jagung pulut harus direndam terlebih dahulu dalam waktu lama, biasanya harus direndam semalaman agar tekstur jagung lebih lebih empuk dan berwarna putih.

Setelah itu akan direbus hingga air menyusut. Kemudian tambahkan tepung terigu yang telah dikentalkan dengan santan dan daun pandan agar memiliki aroma yang wangi yang memikat.

Langkah selanjutnya adalah beri garam secukupnya. Aduk hingga merata. Saat hendak menyajikan,  taburi gula pasir, sesuaikan dengan  selera Anda. Gula pasir itu memberikan rasa manis.

Selain gula pasir, biasanya akan dituangkan pula santan ke dalamnya. Rasa gurih Bassang jenis ini dengan tekstur halus dan kental, akan menari di lidah dengan sensasi nikmat, dan dijamin mampu mempengaruhi suasana hati lebih riang.

Bassang paling ideal dinikmati pada pagi hari, saat masih panas. Bisa dipadukan dengan kopi.

KLIK INI:  Tanpa Minyak, Ini 8 Takjil Khas Makassar yang Tetap Jadi Primadona