Kebun Jagung di Biringbulu dan Sepasang Sejoli yang Menanam Pohon Selama 20 Tahun di Brasil

oleh -336 kali dilihat
Sebastião Salgado dan Leila Deluiz Wanick
Sebastião Salgado dan Leila Deluiz Wanick/foto-Nationalgeographic
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Akhir Maret lalu, seorang teman mengirimi saya foto. Dalam foto itu terterah jadwal saya bertemu dengan siswanya, di Kelurahan Lauwa, Kec. Biringbulu, Gowa.

Teman saya itu memang berprofesi sebagai guru. Rasanya tak mungkin menolak ajakannya untuk hadir pada kegiatan literasi yang ia gelar.

Maka, sehari sebelum jadwal saya membawakan materi, saya telah star dari Sungguminas. Perjalanan ke Lauwa bukanlah hal mudah bagi saya.

Jalanannya yang menanjak dan banyak tikungan menjadi persoalan tersendiri. Saya melajukan Ebita (nama motor yang saya kendarai) denga pelan sambil menikmati pemandangan.

KLIK INI:  Bukan Sekadar Arisan, Ibu-Ibu di Buton Kampanyekan Penyelamatan Lingkungan

Pemandangan menuju Lauwa menakjubkan, hamparan kebun jagung terlihat sepanjang mata memandang,  tapi jika ditelisik lebih dalam, justru akan melahirkan rasa miris yang mengerikan.

Sebabnya tak sederhana, kebun jagung itu telah merampas hak pepohonan untuk tumbuh. Hutan di sepanjang jalan menuju Lauwa telah gundul berganti kebun jagung.

Saya membayangkan, ada warga Biringbulu yang merantau cukup lama di sebuah kota besar. Ia merasa suntuk dan ingin kembali ke kampungnya yang disesaki hamparan hutan, tapi ketika pulang, ia disambut hutan-hutan yang telah gundul.

Saya membayangkan pula, sang perantau itu seperti Sebastião Salgado saat kembali ke rumahnya di Brasil pada 1994 setelah tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun.

Cerita Sebastião Salgado dikisahkan oleh Gita Laras Widyaningrum, yang dimuat di nationalgeographic.grid.id, Selasa, 30 April 2019 lalu. Nah tulisan ini, sesungguhnya ingin mengisahkan Sebastião dan istrinya,  Leila Deluiz Wanick.

Sepasang sejoli itu, menghabiskan waktu selama dua puluh tahun menanam pohon untuk mengembalikan hutan yang telah gundul di kampungnya. Kegundulannya, mungkin serupa kegundulan yang dialami gunung dan hutan di Kec. Biringbulu.

Sebastião, bekerja sebagai seorang fotografer, Salgado baru saja mengabadikan pengalaman mengerikan dari genosida Rwanda. Setelah tugasnya selesai, ia berharap dapat menemukan kenyamanan di kampung halamannya yang dipenuhi hutan hijau.

KLIK INI:  Caleg, Musuh Baru Bagi Pepohonan

Namun sayangnya, saat kembali ke Minas Gerais, Brasil, Salgado justru menemukan bahwa hutan milik orangtuanya telah mengering dan mati akibat deforestasi dan eksploitasi yang tidak terkontrol.

Salgado dan istrinya, Leila Deluiz Wanick pun mengakuisisi lahan dan memutuskan melakukan sesuatu untuknya. Selama 20 tahun, mereka menanam kembali pohon-pohon di hutan tersebut.

“Hutan tersebut sangat sakit. Semuanya sudah rusak saat itu. Hanya sekitar 0,5% lahan yang ditutupi pohon,” ungkap Salgado kepada The Guardian.

Pada 1998, pasangan ini mendirikan Instituto Terra dengan tujuan merestorasi 17 ribu akre lahan agar kembali ke keadaan alaminya. Selanjutnya, organisasi yang mereka kembangkan merekrut partner dan relawan. Sebagai permulaan, Instituto Terra menanam empat juta pohon muda saat itu.

Dengan merawat kembali tanaman-tanaman muda tersebut, Salgado dan timnya berhasil memulihkan hutan dalam kurun waktu 20 tahun.

“Istri saya memiliki ide menakjubkan untuk melestarikan kembali hutan ini. Kami memulainya pelan-pelan, kemudian serangga, burung, dan ikan mulai datang kembali. Ia seperti terlahir kembali,” paparnya.

Meski begitu, perjuangan mereka tidak mudah. Tanahnya sangat kering dan selama setahun tidak ada hujan yang turun. Salgado dan Wanick pun harus mengembalikan nitrogen ke tanah dan menanam kacang-kacangan sebelum mereka bisa memeram bibit.

KLIK INI:  Di Gowa Discovery Park, Siswa SDIT Insantama Makassar Diajak Mencintai Alam

“Beberapa kali kami membuat lubangnya terlalu sempit. Selama berminggu-minggu, saya sakit. Juga sedih melihat bencana yang terjadi pada lingkungan,” kata Salgado.

Untungnya, suami istri ini tidak pernah menyerah dan keadaan mereka semakin membaik dari tahun ke tahun.

Saat ini, kondisi hutan sudah pulih–bahkan menjadi rumah bagi beberapa satwa liar asli seperti ular dan burung.

Salgado dan istrinya kini juga melatih ahli ekologi muda yang membantu mereka menanam dan memelihara jutaan bibit.

***

Perjalanan saya ke Lauwa pada awal April bulan lalu, bukan hanya perjalanan memenuhi janji, tetapi perjalanan menemukan satu fakta bahwa kita berusaha melakukan banyak hal untuk bertahan, namun tanpa disadari kita justru menciptakan ancaman yang dahsyat bagi kehidupan itu sendiri.

Salah satunya  dengan merusak alam untuk ditanami tanaman bahkan beton yang bernilai ekonomi tinggi, tujuannya karena kita berharap bisa hidup lebih lama dan aman,  tapi sebenarnya itu keliru menurut saya, menurutmu?

KLIK INI:  Parongpong, Menyulap Spanduk Sisa Kampanye Menjadi "Trash Bag"