Cerita Elang Alap Jepang yang Lepas dari Jeratan Maut

oleh -25 kali dilihat
Burung elang alap Jepang -foto/Ist
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Jika kau bertanya, hari apa yang tak akan pernah bisa kulupakan. Tanpa ragu akan kujawab hari Senin. Jika pertanyaannmu lebih detail, misalnya tanggal berapa dan jam berapa. Aku bisa menjawabnya dengan enteng. Sekali tarikan napas  saja.

Aku sangat yakin bisa menjawabnya. Cepat dan lancar. Sebab hari itu aku lepas dari kurungan ja’ba (kandang) atau barangkali lebih tepatnya, lepas dari jeratan maut. Hari itu, Senin, 9 Maret 2026, jam 2 siang lewat 43 menit.

Sebelum kulanjutkan kisah paling menggetarkan dalam hidupku itu. Aku ingin memperkenalkan diri dulu. Namaku Elang Alap Jepang. Namun di Desa Kindang, Bulukumba yang menjadi tempat tinggalku. Namaku adalah Sikko. Ada pula yang memanggilku Sento’.

Mungkin aku adalah burung yang paling dibenci oleh mereka yang memiliki anak ayam. Aku bisa memangsa anak ayam dengan sangat cepat. Itulah sebabnya aku dinamai Sento’.

KLIK INI:  Mengenal 3 Jenis Satwa Endemik Sulawesi yang Dipulangkan ke Rumah

Sento’ dalam bahasa Konjo bisa diartikan mengambil sambil berlari, berjalan atau terbang dengan sangat cepat. Nyaris tak terlihat. Dan itulah yang kulakukan ketika mengambil anak ayam dari induknya.

Aku  memiliki nama ilmiah yang cukup keren, Tachyspiza gularis. Aku ada pemangsa. Bukan hanya anak ayam, tetapi juga beburung. Khususnya yang ukurannya lebih kecil dari tubuhku.

Ukuran tubuhku cukup imut untuk ukuran elang. Hanya  sekitar 29 sampai 34 cm saja. Itu mulai dari ujung paruh sampai ujung ekor. Sementara berat tubuhku sekitar 85 sampai 142 gram. Ukuran kami berbeda antara jantan dan betina. Betina hanya sekitar 111 sampai 193 gram. Rentangku sayap sekitar 51 samapi 63 cm.

KLIK INI:  Menakjubkan, Ular Bermata Tiga Ditemukan di Australia
Burung elang alap Jepang -foto/Ist
Awal kisah menggetarkan itu

Siang di hari Senin itu, aku sedang dilanda lapar. Sementara pasanganku sedang mengerami telur di rumah kami (sarang). Ia tak bisa ke mana-mana. Tak tega meninggal “calon” anak kami. Ia memfokuskan diri membuat telurnya menetas sempurna. Demi kelanjutan generasi kami.

Maka, aku keluar mencari mangsa. Aku terbang di Dusun Sapayya, Desa Kindang. Di sekitaran tempat yang dinamai tandabaca. Aku tebang  pelan saja. Memantau mangsa yang akan jadi santapan siang kami.

Di tandabaca, ada dua orang laki-laki yang sedang sibuk. Entah apa yang mereka kerjakan. Padahal harusnya mereka istirahat. Itu adalah bulan puasa. Aku yakin keduanya sedang berpuasa. Sebab aku tak melihat segelas kopi menemaninya.

Saat aku melihat cui-cui (burung yang berukuran kecil) sedang lengah. Aku langsung menyambarnya. Membawanya terbang dengan rendah sebelum mengangkasa.

KLIK INI:  Kenalkan 10 Hewan yang Bisa Ditemukan di Hutan Mangrove

Sialnya,saat terbang itu. Aku tak menyadari jika tandabaca telah dipasangi waring keliling. Aku terjebak. Mangsaku lepas. Salah seorang dari laki-laki itu berlari ke arahku. Aku berontak. Namun, tak menemukan jalan lepas dari waring itu.

Dengan sangat mudah, lelaki itu menangkapku. Aku menancapkan kukuku yang tajam ke tangannya. Berharap ia kesakitan lalu melepaskanku. Hanya saja, usahaku sia-sia saja. Semakin aku berontak, genggamannya semakin erat pula. Tulang-tulangku hampir remuk dibuatnya.

Lelaki itu kegirangan, sebab mendapat burung peliharaan atau ia bisa menjualku. Hasilnya bisa ia belikan jajanan buka puasa.

Aku pasrah, nasibku akan berakhir dalam jabba (kandang). Apalagi saat lelaki it menyerahkanku pada temannya. Aku berpindah tangan. Jantungku berdebar. Bagaimana nasib pasanganku tanpaku, bagaimana nasib anakku yang akan segera menetas. Mereka tak akan bisa melihatku dan aku tak akan bisa bertemu dengannya.

Apalagi saat lelaki itu mengambil gawainya lalu memfotoku berkali-kali. Aku semakin berontak, tapi sia-sia. Aku sangat yakin, foto itu akan diupload di media sosialnya. Menjualku secara online.

KLIK INI:  Memburu Burung di Kepala

Aku tahu banyak di antara kami (para satwa liar) yang diperjual belikan secara ilegal di media sosial. Tak kusangka nasibku akan sama seperti mereka. Terlihat hidup mewah, tapi terkurung di dalam jabba.

Aku pasrah saja, takdirku kusandarkan pada penentu takdir. Akan seperti apa nantinya. Aku tahu, tak ada satu makhluk pun yang bisa lepas dari takdirnya. Termasuk aku, si pemangsa.

Ketika kepasrahan memenuhi seluruh hidupku. Keajaiban muncul. Lelaki kedua itu melepaskanku. Sungguh peristiwa itu, hingga kini masih sulit kupercaya. Aku kadang berpikir semua manusia itu sama. Kejam.

Namun anggapanku itu keliru, ada pula yang baik hati. Membiarkan hidup makhluk lain pada habitatnya. Semisal kedua lelaki itu. Mereka melepaskanku dengan suka relah. Tanpa menyakitiku.

Begitu genggaman tangannya terbuka. Aku segera terbang dengan kecepatan maksimal. Tanpa menoleh. Aku takut kedua lelaki itu akan berubah pikiran. Namun, aku juga tahu, meski berubah pikiran. Mereka tak akan mungkin bisa lagi menangkapku.

Saat ini, dua telur yang dierami kekasihku telah menetas. Aku memiliki dua anak. Dan kisahku selamat dari maut itu, selalu kuceritakan kepada mereka.

Kuceritakan pula bahwa tak semua manusia itu jahat. Namun, aku berpesan agar mereka selalu waspada terhadap yang namanya manusia. Watak mereka kadang tak tertebak.

KLIK INI:  Operasi Penindakan Kejahatan Kehutanan Terus Digiatkan