Pentingnya Zona Bebas Kembang Api di Malam Tahun Baru Demi Menyelamatkan Burung

Klikhijau.com – Malam tahun baru selalu identik dengan kembang api. Saat kembang api mewarnai langit malam. Orang-orang yang menontonnya akan bersorak bahagia. Sayangnya, kebahagian itu tidak diras...

Pentingnya Zona Bebas Kembang Api di Malam Tahun Baru Demi Menyelamatkan Burung
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Malam tahun baru selalu identik dengan kembang api. Saat kembang api mewarnai langit malam. Orang-orang yang menontonnya akan bersorak bahagia.

Sayangnya, kebahagian itu tidak dirasakan oleh satwa liar. Banyak penelitian mengungkapkan jika kembang api mempengaruhi satwa liar, khususnya satwa burung.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Ecology and the Environment mengungkapkan, pada malam terakhir tahun ini, rata-rata 1.000 kali lebih banyak burung terbang di dekat tempat kembang api dinyalakan dibandingkan malam-malam lainnya.

Jumlahnya mencapai puncaknya pada 10.000 hingga 100.000 kali lebih banyak dibandingkan malam-malam biasa. Efek terkuat terlihat pada sekitar 3,1 mil pertama setelah kembang api terjadi. Namun rata-rata jumlah burung yang terbang minimal sepuluh kali lebih banyak dibandingkan biasanya hingga jarak 6,21 mil.


Dilansir dari Ecowatch, dengan menggunakan jumlah burung dan data radar cuaca, tim peneliti internasional menemukan berapa banyak burung yang langsung lepas landas setelah kembang api dimulai, seberapa jauh jaraknya, dan spesies apa yang biasanya terbang.

Tahun lalu, tim peneliti lain di Institut Keanekaragaman Hayati dan Dinamika Ekosistem Universitas Amsterdam menemukan bahwa kembang api juga berdampak pada angsa, dan mereka menghabiskan rata-rata 10 persen lebih lama untuk mencari makan setidaknya selama 11 hari setelah kembang api usai.

Waktu ekstra diperlukan untuk mengisi kembali energi yang hilang saat melarikan diri dari kembang api atau untuk mengimbangi area mencari makan yang asing. Di mana mereka akhirnya mengikuti gangguan tersebut.

“Penggunaan kembang api yang tersinkronisasi dan luar biasa pada malam tahun baru memicu respons terbang yang kuat pada burung,” tulis penulis penelitian tersebut.

Meskipun spesies tertentu mempunyai kapasitas yang besar untuk hidup berdampingan dengan manusia. Gangguan antropogenik yang tidak dapat diprediksi. Biasanya akan menyebabkan respons terbang yang serupa dengan respons yang ditimbulkan oleh risiko pemangsaan.

Perlu ada zona bebas kembang api

Berdasarkan temuan mereka, para peneliti menganjurkan perluasan zona bebas kembang api.

“Kami sudah mengetahui bahwa banyak burung air bereaksi keras, tetapi sekarang kami juga melihat dampaknya terhadap burung lain di seluruh Belanda,” kata Bart Hoekstra, ahli ekologi di Universitas Amsterdam.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2