Mengamati Cara Tarsius Bekerja di Alam Membantu Petani

oleh -278 kali dilihat
Mengamati Cara Tarsius Bekerja di Alam Membantu Petani
Tarsius di malam hari - Foto: Taufiq

Klikhijau.com – Rimbawan Pecinta Alam, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (Rimpala Fahutan IPB), menggelar seminar nasional. Pengembara 2021, Seminar Nasional Hasil Pengembara “Ekspedisi Tanah Mallawa”.

Pengembara adalah singkatan dari Penelitian dan Pengembangan Rimpala. Ekspedisi menelisik Tarsius fuscus di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Seminar nasional secara daring ini berlangsung Minggu (13/3/2022).

Rimpala adalah organisasi pecinta alam bagi mahasiswa. Ekpedisi Tanah Mallawa yang berlangsung tahun lalu itu menjadi wujud cinta mereka terhadap alam dan juga nilai ilmiah kehutanan.

Tiga pembicara utama menjadi magnet seminar. Pembicara pertama, Dr. Ir. Abdul Rosyid, M.Si., Dosen Fakultas Kehutanan, Universitas Tadulako, Palu, memaparkan hasil penelitian tarsiusnya di Taman Nasional Lore Lindu. Chaeril, S.Hut., M.P., mewakili Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, menyiarkan kebijakan tata kelola taman nasional. Desi Amelia, Tim  Lapang Ekpedisi Tanah Mallawa, memaparkan hasil pengembaraan mereka.

Adapun judul pengembara kali ini: “Karasteristik Habitat dan Preferensi Lokasi Sarang Tarsius fuscus di Resor Mallawa, Taman Nasional Bantimrung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.” Rahmia Nugraha, S.Hut., M.Sc., selaku moderator, memandu jalan seminar dengan apik.

KLIK INI:  Akar Wangi, Tanaman Konservasi Pengendali Erosi yang Multiguna

Antuasisme peserta seminar begitu terlihat. Rimpala selaku penitia telah bekerja keras menyiapkan seminar. Termasuk dalam hal menebarkan undangan via akun Instangramnya: @rimpala.fahutan.

Tak heran jika kemudian peserta seminar membeludak. Saya sempat memantau jumlah peserta. Pertengahan seminar, peserta tembus 220 orang. Antusias peserta juga terlihat saat diskusi. Mengajukan pertanyaan langsung kepada pembicara. Tak sedikit juga dari peserta, melayangkan tanya di kolom komentar Zoom.

Tak hanya melalui Zoom, panitia pun menyediakan siaran langsung melalui Youtube. Menjadi pilihan peserta untuk menyimak. Apalagi jika tak berkesempatan mendaftar, Youtube-lah jadi pilihan.

Pekan kedua bulan Maret 2022, menjadi momen yang saya tunggu. Mengikuti hasil ekspedisi mahasiswa pecinta alam IPB itu. Meski berlangsung di hari libur, tak menyurutkan hati membuka aplikasi pertemuan daring.

Materi pertama, sudah membuka cakrawala pengetahuan. Presentasi Abdul Rosyid, telah menambah khasanah pengetahuan perihal tarsius. Satwa primata termungil sejagat raya. Ukurannya begitu mini, hanya seukuran telapak tangan orang dewasa.

Apalagi hasil penelitian Rosyid, sapaan akrab sang dosen, menemukan setidaknya ada tiga jenis tarsius di Taman Nasional Lore Lindu. Ketiga jenis itu adalah: Tarsius dianae, Tarsius lariang, dan Tarsius pumilus.

KLIK INI:  Mekar Hanya Sesaat, Luangkan Waktu Menikmati Keindahan 5 Bunga Ini!

Sulawesi memang menjadi surga bagi tarsius. Bagaimana tidak, dari 14 spesies tarsius di dunia, “12 spesies di antaranya berada di Sulawesi. Menunjukkan betapa tingginya keanekaragaman hayati pulau terbesar Kawasan Wallacea itu,” ungkap Abdul Haris Mustari, Dosen Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB, melalui kolom komentar.

Membantu tim Rimpala menjawab beberapa pertanyaan peserta seminar yang begitu penasaran dengan tarsius.

Satu hal yang menarik perhatian saya selama seminar adalah salah kaprah perihal tarsius. Ungkapan Rosyid, menerangkan bahwa “masyarakat di sekitar Lore Lindu, masih menganggap tarsius sebagai hama.” Mengira bahwa buah kopi dan coklat mereka disantap tarsius.

“Ada warga yang pernah mendapati tarsius di kebun. Dan tak jauh dari perjumpaannya, juga ada buah coklat yang berlubang. Padahal bisa jadi bukan tarsius pelakunya. Mengapa? karena tarsius tidak mengkonsumsi buah. Dia adalah pemangsa serangga. Istilahnya insektivora,” tambah Rosyid.

Senada dengan Kholis Pagala, anggota lembaga pecinta alam dari Maros, yang bertanya saat sesi diskusi. Menurutnya, warga sekitar Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, juga beranggapan bahwa tarsius juga mengkonsumsi hasil pertanian warga. “Petani di wilayah Pampang, Desa Samangki, beranggapan bahwa tarsius mengincar kacang tanah milik mereka,” jelas Kholis.

“Saya kira ini salah kaprah dan perlu kita luruskan. Keberadaan  tarsius di daerah perkebunan boleh jadi karena kehadiran serangga di sana. Mencari makanannya,” ungkap Rosyid.

KLIK INI:  Tiga Petani Asal Soppeng Gugat Menteri LHK Tuntut Ganti Rugi

Tarsius, sahabat petani

Lebih lanjut Dosen Fakultas Kehutanan Tadulako itu menambahkan bahwa, tarsius justru “sahabat petani”.

Merekalah yang berjasa mengendalikan serangga. Serangga, yang jika jumlah melimpah menjadi hama bagi pertanian. Belalang misalnya. Belalang adalah salah satu makanan favorit tarsius. Jika jumlah belalang melimpah maka rugilah petani. Karena bisa jadi daun-daun tanaman mereka akan habis tersantap belalang, yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil pertanian mereka.

Hal yang menarik juga dari tarsius adalah kesetiaannya. Tarsius, setia terhadap pasangannya.

“Saya pernah menjumpai salah satu tarsius yang mati. Tak berapa lama kemudian pasangan yang ditinggalkannya juga menyusulnya,” cerita Rosyid. Sejumlah hasil penelitian mengabarkan bahwa 80 persen menunjukkan bahwa tarsius memiliki sifat monogamus. Monogamus berarti hanya memiliki satu pasangan. Sisanya, 20 persen, bersifat multimale atau multifemale.

Sahabat peduli lingkungan perlu tahu bahwa tarsius aktif pada malam hari, alias nokturnal. Biasanya mereka aktif mulai sore hari hingga menjelang pagi. Malam mereka berburu. Menjelajah hutan, mencari makanan. Lompat dari cabang satu ke cabang lain. Mencari serangga. Mereka menyukai serangga yang sedang terbang.  Dengan instingnya yang kuat, ia bisa menangkap mangsanya yang sedang terbang.

Telinga adalah senjata pamungkasnya. Dengan pendengarannya, ia bisa memperkirakan jarak mangsa darinya. Tak heran jika menjumpainya di hutan, sang tarsius kerap menggerakkan daun telinganya yang lebar. Bekerja untuk mengenali lingkungan sekitarnya. Unik kan!

KLIK INI:  Karena Alasan Cuaca, Jalur Pendakian Bulusaraung Tutup Sementara Waktu

Tak hanya itu, ternyata tarsius menggunakan suara untuk berkomunikasi dengan anggota kelompok. Secara mereka hidup berkelompok. Anggotanya berkisar 2 hingga 7 ekor. “Setidaknya ada 7 jenis nada suara tarsius. Frekuensinya berbeda-beda sesuai bentuk pesannya. Beberapa nada cukup tinggi yang tidak memungkinkan didengar manusia,” terang Rosyid.

Saya juga sering mendengar suara tarsius ini di hutan. Apalagi pagi hari. Nadanya terkadang begitu tinggi. Saat menjelang pagi hari, pemimpin kelompok memanggil anggota untuk kembali ke sarang. Kami sering mengistilahkannya, “morning call”.

Menjelang akhir sesi, Abdul Haris Mustari, memberikan tanggapannya perihal seminar hari itu. Haris, sapaan akrabnya, menyoroti, penyebab menurunnya populasi tarsius. Termasuk upaya konservasi yang perlu digalakkan.

“Penurunan populasi tarsius lebih banyak disebabkan oleh degradasi hutan. Degradasi hutan menyebabkan kerusakan habitatnya. Rusaknya habitat mereka, berdampak pada kenyamanan dan ketersediaan makanannnya,” ungkapnya.

Bagaimana dengan upaya konservasi yang telah dilakukan saat ini? Haris juga angkat bicara. “Untuk menjaga kelestarian tarsius, yang perlu kita lakukan adalah menjaga rumahnya. Menjaga hutan. Kalau hutan terjaga, bukan hanya tarsius yang akan terlindungi, satwa lain pun terjaga.”

Menurutnya, melestariakan tarsius melalui budidaya di luar habitatnya tidak begitu signifikan bagi kelestarian tarsius. Mengapa? Karena hasil penangkaran biasanya kemampuan menyesuaikan diri di alam lebih rendah jika dibandingkan dengan anak tarsius lahir di alam. “Internal behavior-nya lebih baik jika sedari kecil di alam. Baiknya, proporsi exsitu cukup sepuluh persen, selebihnya insitu,” tambah Haris.

“Jika perlu perbanyak jumlah Polisi Kehutanan. Naikkan gajinya, agar kesejahteraannya meningkat. Biar mereka semangat menjaga keutuhan hutan. Hutan sebagai habitat beragam satwa, termasuk tarsius,” ungkap Haris.

Haris juga berpesan agar kegiatan ekspedisi seperti giat Rimpala bisa menjadi contoh bagi komunitas pecinta alam lainnya. Mengungkapkan wujud kecintaan kepada alam melalui kegiatan positif dan bermanfaat.

Salwa Ni’matul Maula, selaku Ketua Umum Rimpala Fahutan IPB, menyampaikan terima kasihnya kepada segenap pembicara, penanggap, moderator, dan peserta atas partisipasinya dalam seminar.

Selamat kepada Rimpala Fahutan IPB atas kesuksesannya menyelenggarakan seminar nasional. Menjadi momen menebarkan ilmu pengetahuan. Termasuk menularkan virus positif mencintai alam.

KLIK INI:  Apakah Sama Antara Rafflesia Arnoldii dan Bunga Bangkai?