Ekspedisi Tanah Mallawa, Menyibak Relung Tarsius

oleh -238 kali dilihat
Ekspedisi Tanah Mallawa, Menyibak Relung Tarsius
Foto tim Ekspedisi Tanah Mallawa dengan latar rumah Ismail yang menjadi basecamp selama pengembaraan - Foto/ Salwa Ni’matul Maula
Taufiq Ismail

Klikhijau.com – Sore yang temaram menyambut enam mahasiswa pengembara. Mereka tiba di Mallawa menjelang Magrib. Langsung menuju rumah kepala desa.

Enam remaja ini tergabung dalam organisasi mahasiswa: Rimbawan Pecinta Alam Institut Pertanian Bogor, Rimpala IPB. Selama dua pekan mereka melakukan ekspedisi penelitian tarsius di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Keenam mahasiswa pengelana itu: Muhammad Khalil Gibran, Muhammad Ridwan Ali, Salwa Ni’matul Maula,  Ranti Gazela Majid, Desi Amalia Putri, dan  Safira Arda Meyla.

Desa Samaenre, Mallawa, Maros, menjadi tujuan pertama. Selayaknya tamu, memohon izin ke tuan rumah. Apalagi di masa pagebluk saat ini. Urusan sedikit lebih runyam. Ada prosedur yang harus kita penuhi. Tentunya untuk kepentingan bersama.

Mallawa sedang melawan. Melawan penyebaran virus yang mematikan itu. Satu kecamatan ini melakukan penguncian lokal. Memperketat pengawasan gerbang masuk.

Beruntung pihak pemerintah desa memberi sedikit ruang. Itupun tak mudah. Perwakilan mahasiswa telah menjelaskan perihal ekspedisi mereka. Menerangkan tujuan mendatangi hutan di Mallawa. Termasuk prosedur kesehatan yang telah mereka lalui hingga tiba di Samaenre.

KLIK INI:  Asyik, Agus dan yang Lahir 17 Agustus Gratis Masuk TN Bantimurung

Personil Resor Mallawa pun menjembatani keduanya. Termasuk sang kepala resor mengontak musyawarah pimpinan kecamatan, Muspika Malawa.

Kepala Desa Samaenre juga berpesan untuk berhati-hati beraktivitas di hutan. “Saat ini, Mallawa masih mengalami musim penghujan. Jangan terlalu jauh-jauh masuk hutannya,” pesan Andi Majjalekka, Kepala Desa Samaenre.

Rumah Ismail, pendamping Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menjadi basecamp selama di Mallawa. Mereka akhirnya lega, tiba di rumah Ismail. Beristirahat sejenak setelah perjalanan panjang dari kampus tercinta hingga tiba di lokasi tujuan.

Udara sejuk Mallawa, menyambut. Udara yang hampir serupa asal mereka, Bogor.

Keesokan harinya, mereka langsung beraksi. Melakukan survey lokasi. Mengenal sekilas karakter hutan taman nasional yang berada di Samaenre.

Meski baru survey, mereka langsung mendapat kejutan. Menemukan satu sarang tarsius. Sarang yang berisi tiga ekor Tarsius fuscus. Satwa incaran mereka. Satwa yang menjadi sasaran penelitian anggota pecinta alam ini.

Mereka nampak begitu senang. Tak sabar ingin memulai petualangannya.

KLIK INI:  Eksotika Kupu-kupu di Musim Hujan
Detak Ekspedisi Tarsius
ekspedisi mallawa
Foto tim Ekspedisi Tanah Mallawa dengan latar rumah Ismail yang menjadi basecamp selama pengembaraan – Foto/Salwa Ni’matul Maula

Minggu (4/7), Ekspedisi Tanah Mallawa mereka mulai. Persiapan telah matang. Alat perekam gambar, binokuler, tallysheet, perlengkapan lapangan, hingga kendaraan roda dua telah siap.

Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung turut mendukung ekspedisi mahasiwa Fakultas Kehutanan IPB ini. Salah satunya dengan membantu anggota ekspedisi dengan membekali motor trail.

Pihak taman nasional juga menerjunkan pendamping andalnya. Mendampingi tim ekspedisi selama mencari target penelitian di Resor Mallawa.

Pado, Ismail, dan Parman. Pado adalah petugas taman nasional yang berfokus menjaga tarsius di Sanctuary Tarsius fuscus di Resor Pattunuang. Ismail, tenaga pengaman hutan taman nasional. Parman sendiri adalah masyarakat mitra polisi kehutanan Resor Mallawa.

Ismail dan Parman begitu mengenal hutan Mallawa. Pado bertugas mendeteksi keberadaan tarsius di hutan. Lengkap sudah.

Pagi-pagi sekali mereka sudah meninggalkan rumah Ismail. Setelah salat Subuh, mereka langsung memutar pedal gas trailnya. Menyusuri jalan setapak menuju hutan target.

KLIK INI:  Riuh Kepak Sayap Kupu-kupu Bantimurung yang Berdendang

Mengapa harus pagi? Karena target penelitiannya adalah tarsius, membuat mereka menyesuaikan perilakunya. Tarsius adalah satwa nokturnal. Nokturnal berarti beraktivitas pada malam hingga dini hari.

“Sore, menjelang magrib, sekitar pukul 17.30 WITA, mereka sudah keluar dari sarang. Bersiap memulai hari. Beraktivitas. Termasuk mencari makan,” ujar Pado.

“Subuh, mereka kembali ke sarang. Sang pemimpin biasanya mengeluarkan suara khas untuk memanggil kawanannya,” tambah Pado.

Karenanya Safira dan kawan-kawan mesti bangun lebih pagi. Menyiapkan perlengkapan termasuk bekal makan mereka. Mereka berbagi tugas, yang laki-laki menyiapkan peralatan lapangan. Srikandi membantu Hapsah, istri Ismail, menyiapkan bekal santap siang. Mereka pun harus bangun dini hari.

Hari pertama, mereka sudah dapat kejutan. Mereka bertemu dua sarang. Tim ekspedisi juga langsung melakukan analisis vegetasi. Melakukan pengambilan data habitat tarsius. Menginventarisasi pohon di sekitar sarang.

KLIK INI:  Ibu-Ibu, Koran Bekas dan Inspirasi dari Seorang Dosen Seni UNM

Karenanya membuat mereka tak bisa langsung kembali ke basecamp. Harus memenuhi target penelitian.

Tak heran jika selama ekspedisi tim pengembara ini selalu pulang menjelang Magrib.

Analisis vegetasi tidaklah mudah. Membuat plot kemudian mencatat penghuni plot. Mulai dari semai, pancang, tiang dan pohon. Semua mereka hitung. Termasuk nama setiap pohon yang berada di petak ukur.

Bahkan pernah suatu waktu kembali ke rumah Ismail hingga larut. Salah seorang tim ekspedisi kemudian menceritakan kejadian itu. “Waktu itu, hari ke-5, kami melakukan analisis vegetasi di hutan Samaenre. Medannya terjal hingga kemudian kami kemalaman. Belum lagi hujan,” cerita Safira Arda, ketua tim ekspedisi.

“Saat pulang, kami menyeberangi sungai yang semula bisa kami lewati tapi karena hujan, arusnya deras. Kami terpaksa lewat jembatan bambu reyot. Mana licin dan menanjak lebih dahulu,” tambah Safira.

Yang lebih menegangkan dari peristiwa itu, saat salah satu anggota ekspedisi memiliki badan yang tambun. Anggota tim, kuatir jika kumpulan bambu itu tidak mampu menahan berat pelintasnya.

“Asli kami semua tegang. Syukur, Gibran bisa melewatinya,” kenang Safira.

KLIK INI:  Alimun dan Kisah Tentang Air Nira dari Mallawa

Keseruannya tidak berakhir sampai di sana. Begitu telepon genggam mereka bertemu signal, pesan dan panggilan telepon bertubi-tubi. Maklum mereka keluar dari hutan kala Isya. Apalagi Hapsah, begitu kuatir. Termasuk saya juga mengontaknya. Memintanya memberi kabar jika pesan diterima.

“Kami tiba di rumah sekitar pukul 20.30 Wita, Bu Hapsah langsung heboh,” cerita Safira.

Saat malam, tim tetap bekerja. Merekap hasil temuan mereka. Memaksimalkan waktu pengembaraan di negeri sebrang.

Ada malam yang tak terlupakan, kala beristirahat di pondok kerja Resor Mallawa. Pado dan Ridwan kerap “diganggu” makhluk tak diundang. “Ribut sekali langkahnya di papan. Tidak bisaki tidur. Jadi saya pindah ke rumah sebelah,” keluh Pado paginya.

Pondok kerja dan rumah Ismail bersebelahan. Karenanya Pado, mengetuk pintu di tengah malam buta. Melanjutkan istirahatnya sebelum pagi menjelang.

Berbeda dengan Ridwan. Pada suatu dini hari, sekitar pukul 02.00 Wita, ia masih asyik bermain gitar di teras rumah Ismail. Tak lama kemudian ia melihat sekelabat bayangan putih di atas pohon. Ridwan kemudian tunggang langgang masuk ke rumah. Saking berisiknya juga membangunkan kawan lain.

”Bayangannya seperti seorang perempuan. Bertengger di pohon mahoni,” Pungkas Ridwan, yang sudah jera bermain gitar sendiri.

KLIK INI:  Saya Kuskus, Mau Tahu Lebih Banyak Tentangku?
Perjumpaan Tarsius

Tarsius adalah target utama ekpedisi mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB ini. Persebaran Spasial dan Preferensi Sarang Habitat Tarsius fuscus di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung ada judul  ekspedisi penelitian mereka. Resor Mallawa adalah lokasi sampel penelitian mereka. Resor adalah unit terkecil pada tata kelola taman nasional. Sedikitnya terdapat tujuh resor di wilayah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Perjumpaan dengan Tarsius fuscus yang asyik memangsa belalang di habitat aslinya di hutan. By Salwa Ni’matul Maula
Perjumpaan dengan Tarsius fuscus yang asyik memangsa belalang di habitat aslinya di hutan – Foto/ Salwa Ni’matul Maula

Sejak ekspedisi dimulai, mereka setiap hari menyimak rimba Mallawa. Mencari primata terkecil di dunia ini. Hutan taman nasional di wilayah administratif Desa Samaenre dan Desa Bentenge menjadi target utama.

Nampak tak mudah, dan memang tak mudah. Tekad yang bulat berbarengan usaha ekstra menjadikannya terwujud.

Rimba perawan tak menjadi jaminan lekas bertemu idaman. Apalagi medannya cukup menantang. Belum lagi rotan berduri, mengular di mana-mana.

“Kami beruntung, Pak Pado mendampingi. Dia sangat ahli mencari sarang tarsius di hutan. Pokoknya terpercaya dech…. Tanpa dia, kami ngak tahu apakah bisa bertemu dengan tarsius,” Safira berkelakar mewakili timnya.

Pado memang memiliki pengalaman segudang menjelajah hutan. Apalagi dengan tarsius, ia begitu mahir. Begitu mengenal karakter lokasi bersarang tarsius. Tak hanya itu, indra penciumannya begitu tajam. Ia kenal baik dengan aroma air seni tarsius. Tarsius memang memiliki perilaku unik. Menandai wilayah jelajahnya dengan air kencingnya. Menjadi penanda wilayah kekuasaannya.

KLIK INI:  Mantul, Warga Desa Bialo, Bulukumba Bisa Menukar Sampahnya dengan Sembako

Tentu hal ini juga tak lepas dari pengalamannya menemani peneliti selama ini. Sudah puluhan peneliti ia dampingi.

Karena itu tim ekspedisi tarsius ini begitu terbantu. Target perjumpaan tarsius begitu cepat terpenuhi. Dengan begitu masa pencarian target lebih ringkas. Semula tim pengembara menargetkan waktu selama dua pekan menjelajah hutan. Kemudian hanya menjadi sepekan karena target data telah terpenuhi. Ekspedisi Tanah Mallawa berlangsung efektif dari tanggal 4 s.d 11 Juli 2021.

Sisa pengembaraan tim gunakan untuk mencari data sosial, ekonomi, dan budaya warga Mallawa. Melakukan wawancara dengan masyarakat Samaenre dan Bentenge.

Pertemuan dengan sarang tarsius yang terakhir cukup berkesan. Warna rambutnya berbeda–lebih cerah. “Warnanya lebih putih ki,” pungkas Pado dengan dialek Makassar-nya yang khas.

Salwa Ni’matul, anggota tim ekspedisi mencoba mengejarnya saat itu. Bermaksud mendokumentasikannya. Namun sayang begitu gesit, tak terkejar.

Apakah yang menyebabkan perubahan warna pada rambutnya? Mungkinkah albino? Entahlah, masih menjadi misteri.

Tim ekspedisi tarsius menjumpai 13 sarang tarsius. Hampir setiap hari berjumpa dengannya. Bahkan tim menjumpai beberapa sarang dalam sehari.

KLIK INI:  Berperan Jadi Pemulung dalam Film Pendek, Seniman Ini Menuai Banyak Pujian
Hiburan Ekspedisi

Setiap hari ada saja kejutan bagi tim ekspedisi. Kabut berselimut adalah sajian khas di pagi hari. Apalagi saat menuju Padang Loang begitu dramatis. Tak hanya kabut, angin pun bertiup kencang.

“Waktu itu kami berniat mencari rangkong. Bermaksud melihat secara langsung perawakannya. Namun tak kunjung datang. Cuacanya kurang pas. Kami juga lupa bawa kompor mini, lengkap sudah. Tak bisa menghangatkan badan,” cerita Safira.

Sepanjang ekspedisi, mereka juga terhibur banyak hal. Berjumpa dengan aneka warna kupu-kupu menarik. Anggrek Sulawesi yang menawan juga menjadi penglipur lara. Nyanyian burung kicau selalu menjadi pengiring sepanjang perjalanan menerabas rimba.

“Rasanya nikmat menjelajah hutan Mallawa,” kenang Safira.

Pada akhirnya ekspedisi usai. Pengembaraan berjalan lancar.

Rasanya berat berpisah dengan keluarga Ismail. Menjaga mereka selama ekspedisi berlangsung. Rasa haru menyeruak kala mereka berpisah.

KLIK INI:  Karena Alasan Cuaca, Jalur Pendakian Bulusaraung Tutup Sementara Waktu

Tim ekspedisi kemudian menuju Bantimurung. Menyelesaikan administrasi, sebelum kembali ke kampus tercinta.

Mereka tak menyia-nyiakan waktu. Menikmati keindahan kepingan besar Wallacea ini. Mereka mengatur waktu dengan baik. Mengunjungi sejumlah destinasi unggulan.

Air terjun Bantimurung adalah yang pertama. Kedua, memanfaatkan waktu menyusuri salah salah gua indah taman nasional. Tak cukup sampai di sana. Mereka juga berkesempatan mengunjugi wisata berbasis masyarakat: Desa Wisata Rammang-rammang. Menikmati lekukan batu gamping berpadu Sungai Pute yang mengalir sahdu.

Terakhir, menguji adrenalin. Merayapi dinding karst Pattunuang. Memijaki besi tangguh via ferrata. Menikmati indah Pattunuang dari ketinggian.

Keenam pengembara muda begitu bersyukur. Berkesempatan menjelajah dan mencumbui alam indah Sulawesi.

Mengembaralah selagi muda. Bertualanglah. Hidup ini hanya sekali. Maka, nikmatilah!

KLIK INI:  Kakek Renta Bertahan Hidup dari Arum Manis Rambut Nenek