Di Balik Tawaran Kemudahan, Air Kemasan Membawa Ancaman Kesehatan?

oleh -16 kali dilihat
Ziarah Plastik, Tradisi Baru Lebaran
Air mineral kemasan-foto/ist

Klikhijau.com – Menggunakan air minum dalam kemasan (AMDK) memang mudah. Tidak perlu repot memasaknya jika sedang sibuk. Bisa langsung saja dikonsumsi. Entah itu air kemasan gelas, botol maupun galon.

Saat ini, banyak masyarakat yang lebih memilih menggunakan air kemasan. Karena itu tadi, lebih mudah.

Namun, di balik tawaran kemudahan itu. Air kemasan rupanya membawa ancaman serius. Para peneliti dari Columbia Climate School dan Rutgers menemukan kandungan berupa pecahan plastik.

Studi yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences tersebut mengungkapkan, rata-rata 1 liter air kemasan mengandung hampir seperempat juta keping mikroplastik dan nanoplastik.

KLIK INI:  Anda Tak Harus Minum Air Putih 8 Gelas Perhari, Begini Penjelasannya

Peneliti telah mengamati lima sampel masing-masing dari tiga merek air kemasan yang umum. Mereka   menemukan tingkat partikel berkisar antara 110.000 hingga 400.000 per liter atau rata-rata sekitar 240.000 mikroplastik dan nanoplastik.

Tim peneliti tersebut menggunakan teknologi baru untuk mengidentifikasi dan menghitung nanoplastik dalam air kemasan.

Mikroplastik adalah pecahan plastkn berukuran mini. Hanya sekitar kurang dari lima milimeter, sedangkan nanoplastik ukurannya jauh lebih kecil. Ukurannya kurang dari satu mikron – seperseribu milimeter. Nanoplastik adalah turunan dari mikroplastik.

Kedua pecahan plastik ini ringat dan sangat sangat  sehingga mudah “berkeliaran” ke mana-mana. Keduanya bisa masuk ke dalam tanah, udara, dan air, serta mudah tertelan oleh manusia dan spesies lainnya.

KLIK INI:  Plastik, Masalah Besar yang Menginvasi Laut Mediterania

Partikelnya yang sangat kecil dapat langsung masuk ke aliran darah dari paru-paru dan usus serta ke organ seperti jantung dan otak. Keduanya juga dapat menembus sel-sel individual. Meski begitu, dampaknya terhadap sistem biologis belum diketahui.

Secara khusus, nanoplastik diyakini lebih beracun karena ukurannya yang lebih kecil membuatnya lebih mudah, dibandingkan dengan mikroplastik, untuk masuk ke dalam tubuh manusia.

“Sebagian besar plastik tampaknya berasal dari botol itu sendiri dan filter membran reverse osmosis yang digunakan untuk mencegah kontaminan lainnya,” kata penulis utama studi Naixin Qian, seorang ahli kimia fisik Columbia.

Menanggapi temuan tersebut, Asosiasi Air Minum Dalam Kemasan Internasional (IBWA) mengatakan bahwa saat ini terdapat kekurangan standar metode (pengukuran) serta tidak ada konsensus ilmiah mengenai potensi dampak kesehatan dari partikel nanoplastik dan mikroplastik.

“Oleh karena itu, laporan media mengenai partikel-partikel ini dalam AMDK hanya untuk menakut-nakuti konsumen.”

KLIK INI:  1 Kantong Teh Celup Dihuni Miliaran Mikroplastik, Benarkah?
Langkah yang perlu dilakukan

Meski bahaya mikroplastik dan nanoplastik masih dalam perdebatan. Atau apakah benar hanya menakut-nakuti konsumen? Namun, hal yang mesti dipikirkan ada harus ada upaya untuk mengatasi masalah nanoplastik dalam air kemasan

Untuk masalah nanoplastik memerlukan pendekatan multifaset. Mengurangi sampah plastik pada sumbernya sangatlah penting.

Pengurangan ini dapat dicapai melalui praktik pengelolaan sampah yang lebih baik, mendorong penggunaan bahan-bahan yang dapat terbiodegradasi, dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak polusi plastik.

Selain itu, memajukan teknologi filtrasi dan remediasi untuk menangkap dan menghilangkan nanoplastik dari lingkungan sangatlah penting.

KLIK INI:  Mengagumkan, Bambu Berpotensi Jadi Sumber Daya Energi Baru Terbarukan

Singkatnya, nanoplastik mewakili bahaya lingkungan yang semakin besar. Memahami perilaku, dampak, dan metode mitigasi keberadaannya  sangat penting untuk melestarikan ekosistem dan menjaga kesehatan manusia.

Hal ini merupakan tantangan global yang memerlukan tindakan segera dan berkelanjutan dari individu, industri, dan pemerintah di seluruh dunia.

Apalagi menurut Columbia Climate School  produksi plastik global hampir mencapai 441 ton per tahun, dengan lebih dari 33 juta ton dibuang ke darat dan air setiap tahunnya.

Karena itu, mengurangi penggunaan plastik adalah cara ampuh mengatasi mikroplastik dan nanoplastik beserta ancamannya.

KLIK INI:  Mengenali Bahaya dan Ciri Tanah yang telah Tercemar Limbah B3