Daeng Ina, Kue Ongol-ongol, dan Sejarahnya

oleh -644 kali dilihat
Kue ongol-ongol-foto/ist
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Daeng Ina datang ke rumah. Masih terlalu pagi. Ia membawa sesuatu—kue. Kue itu  dia taruh di dalam piring keramik putih bercorak biru.

Daeng adalah panggilan Bugis-Makassar untuk orang yang lebih dituakan, juga jadi gelar bangsawan pada zaman dahulu kala. Namun, di kampung saya, panggilan Daeng lebih ditujukan kepada kerabat dekat, yakni sepupu satu kali.

Kue yang dibawa Daeng Ina itu termasuk kue yang langka di kampung. Karena bahannya sulit didapat, yakni sagu. Kampung saya bukanlah penghasil sagu. Pohon rumbia yang jadi pohon penghasil sagu  hanya dapat dihitung jari.

Kue dari sagu itu adalah ongol-ongol. Entah kenapa namanya unik dan nyeleneh sekali. Namun menurut Wikipedia ongol-ongol masuk ke Indonesia dibawa oleh tentara Mongolia, meski begitu catatan sejarah ini masuk perlu ditelisik lebih dalam.

KLIK INI:  Onde-onde, Kue Ritual Masyarakat Sulsel yang Sarat Nilai Filosofis

Penamaan ongol-ongol itu karena pada zaman dahulu penduduk Indonesia terbiasa menyebut sesuatu yang mudah, mirip dengan bunyinya atau nama pembuatnya

Karena itu, nama ongol-ongol diduga berasal dari kata “Mongol” yang kemudian disebut ongol-ongol. Di Makassar kata ongol-ongol memiliki arti yang kurang bagus, yakni goblok, bodoh, kurang waras.

Dalam aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti penganan, dibuat dari tepung sagu, gula, kelapa, dan sebagainya rasanya manis.

Wikipedia mencatat penganan ini adalah makanan ringan tradisional khas Jawa Barat. Namun, saat ini telah tersebar ke berbagai penjuru tanah air, bahkan sudah sampai ke kampung saya, Kindang.

KLIK INI:  Daeng Rimang dan Aroma Kue Tradisional di Pasar Pangkal EH Makassar
Mengenyangkan

Sebagai penganan atau kue yang terbuat dari sagu, ongol-ongol memiliki sifat yang mengenyangkan. Sagu sendiri di beberapa daerah di Indonesia dijadikan sebagai makanan pokok.

“Sagu itu dibawa umminya Putri dari Luwu,” ujar Daeng Ina menerangkan daripada dia dapatkan sagu yang dibuatnya ongol-ongol itu. Putri adalah nama dari menantunya.

Selain sagu, ongol-ongol juga bisa dibuat menggunakan singkong parut, tepung tapioca. Namun, bahan yang populer adalah tepung sagu. Cara membuatnya mirip dengan cara membuat dodol.

“Sagu dituangi air hingga encer lalu dimasukkan ke wajan yang telah berisi gula merah cair. Setelah itu aduk terus menerus hingga matang. Jika dirasa masih terlalu padat, tak masalah tambahkan air,” beber Daeng Ina perihal cara membuat ongol-ongol.

KLIK INI:  Lopisi', Kue Legenda, Kudapan Legit Manis yang Menggoda Selera

Satu lagi, saat memasak odol-odol ini, sebaiknya dengan api kecil saja dan agar rasanya lebih wangi, bisa ditambahkan dengan pewangi, semisal daun pandan wangi.

Setelah matang, ongol-ongol bisa dibentuk sesuai selera lalu masukkan ke dalam kelapa yang telah diparut. Pastikan semua bagian ongol-ongo tersaput kelapa parut. Langka selanjutnya adalah, selamat menikmati.

kue ongol-ongol termasuk kue tradisional yang mulai langka, tergeser oleh kehadiran kue modern yang kian membanjir.

Padahal kue basah ini, selain sehat karena terbuat dari bahan alami, yakni sagu dan gula merah jugaa dapat mengenyangkan.

Kue ongol-ongol paling pas dinikmati dengan ditemani segelas kopi atau teh.

KLIK INI:  7 Faktor yang Memengaruhi Cita Rasa Kopi