Buroncong, Kue Pinggiran yang Dirindukan

oleh -610 kali dilihat
Buroncong, Kue Pinggiran yang Dirindukan
Lelaki yang berjualan di jalan Mirah Seruni sedang menganggat buroncong jualannya/foto-ist
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Klikhijau.com – “Kue apa yang paling berat?”. Mungkin kamu pernah dengar pertanyaan itu setiap main tebak-tebakan.

Sebagian orang akan langsung tahu jawabannya, buroncong, sebab sangat sering masuk menjadi “soal”

Kue buroncong dianggap berat karena harus diangkat menggunakan alat sejenis pancu dari tempatnya “dipanggang”

KLIK INI:  Menakjubkan, Ini 6 Rahasia Tersembunyi Gambang Bagi Kesehatan

Buroncong merupakan kue khas Sulsel yang sangat banyak ditemukan di pinggir jalan menggunakan gerobak.

Seperti yang saya temukan tadi pagi, Jumat, 30 Agustus 2019 sepulang dari jalan Pettarani, saya menuju Sungguminasa, Gowa dengan melewati jalan Mirah Seruni Makassar.

Tak jauh dari perempatan. Seorang lelaki sedang berdiri. Ia menunggu buroncong pesanannya masak. Saya pun ikut berhenti—ingin membeli.

Ada hal menarik dari penjual buroncong di Makassar dan Gowa, para penjualnya dominan laki-laki. Seperti yang berjualan di jalan Seruni itu, juga laki-laki.

Apa tak ada perempuan yang tahu membuat Buroncong, tentu saja banyak. Tapi barangkali karena media jualannya adalah gerobak yang harus didorong, maka laki-lakilah yang maju berjualan.

KLIK INI:  Sebab Pemilu Telah Berakhir, Saatnya Membincangkan Makanan Khas Sulsel; Bassang

“Sudah dua tahun saya jualan di sini,” kata lelaki si penjual buroncong itu, saya tak tanyakan namanya.

Ia berkisah, dulu berjualan di pasar. Dia tak menyebutnya pasar mana, saya juga tak bertanya.

Ia pindah berjualan ke jalan Mirah Seruni karena di pasar mulai tak kondusif sejak penjual ayam masuk.

“Bulu-bulu ayam banyak beterbangan, dan baunya kurang sedap,” keluhnya.

Maka sejak dua tahun lalu. Ia mulai “mangkal” di jalan Mirah Seruni. Menjajakan jualannya. Ia mengaduk sendiri bahannya.

“Bukan adonan jadi saya bawa, jadi jika sudah mulai lapar, saya akan berhenti jualan lalu pulang ke rumah makan dan istirihatan,” lanjutnya.

KLIK INI:  Sedapnya Nasi Berenang yang "Ngangenin" di Wonomulyo Sulbar
Murah meriah

Buroncong terbuat dari campuran tepung terigu, santan, dan parutan kelapa muda, gula pasir, garam serta penambahan soda kue.

Bentuknya seperti busur mirip kue pukis, namun dengan ukuran lebih besar, panjangnya sekitar tujuh sentimeter dengan tebal berkisar dua sentimeter. Dan dibakar dengan cetakan khusus di atas tungku kayu atau kompor gas.

Cara membuatnya, semua bahan disatukan dalam satu adonan diaduk hingga rata dengan air. Adonannya biasanya agak encer. Setelah adonan siap, masukkan dalam cetakan buroncong yang telah dipanaskan dengan bara api, jangan lupa olesi dulu cetakannya dengan minyak kelapa menggunakan kuas atau daun pisang agar adonannya tak lengket.

Setelah adonannya kelihatan mengembang dan pinngirannya agak berwarna coklat pertanda telah matang. Kue buroncong diangkat menggunakan alat khusus menyerupai gancu.

KLIK INI:  Suka Kuliner Berkuah? Ini 5 Kuliner Berkuah Khas Sulsel yang Harus Kamu Nikmati

Karena itu, kue baroncong dikenal dengan kue paling berat di dunia. Buroncong akan lebih enak dinikmati dalam kondisi masih panas.

Buroncong biasanya dijual dengan murah meriah, seribu rupiah perbiji. Tak sulit menemukannya jika ingin menikmatinya, sebab dijajakan di pinggir jalan dengan gerobak seperti yang dilakukan lelaki itu di jalan Mirah Seruni, Makassar.

Katanya, ia bisa memperoleh penghasilan dikisaran dua hingga tiga ratus ribu sekali turun jualan. Tiga ratus ribu kali satu bulan. Hmmm, hitung sendirilah berapa! Dan lelaki itu tak berjualan sampai sore.

Jam jualannya ia batasi, ketika mulai lapar.

KLIK INI:  Saleem, Minuman Tradisional Ramah Lingkungan yang Nyaris Terlupakan