Sederet Alasan Kenapa Lahan Basah Sangat Penting Dilestarikan

oleh -11 kali dilihat
Padi, salah satu tanaman lahan basah-foto/Ist

Klikhijau.com – Setiap tanggal 2 Februari, dunia merayakan Hari Lahan Basah (World Wetland Day/WWD). Peringatan itu berdasarkan Konvensi Lahan Basah (Konvensi Ramsar).

Lahan basah adalah sebuah ekosistem yang menjadi pusat peradaban manusia sejak ratusan tahun yang lalu.

Karena itu peringatan WWD  untuk menghargai dan menyadari pentingnya lahan basah sebagai ekosistem yang tak terpisahkan dari peradaban manusia.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, meskipun lahan basah hanya menutupi sekitar enam persen permukaan bumi, 40 persen dari seluruh spesies tumbuhan dan hewan hidup atau berkembang biak di lahan basah.

KLIK INI:  Amankah Wadah Plastik untuk Menyimpan Makanan?

Namun, lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia bergantung pada lahan basah untuk penghidupan mereka – yaitu sekitar satu dari delapan orang di Bumi.

Tidak hanya itu, keanekaragaman hayati lahan basah penting bagi kesehatan kita, pasokan makanan kita, bagi pariwisata dan bagi lapangan kerja.

Lahan basah sangat penting bagi manusia, bagi ekosistem lain, dan bagi iklim kita, karena menyediakan jasa ekosistem yang penting, seperti pengaturan air, termasuk pengendalian banjir dan pemurnian air.

Sebuah sebuah penelitian yang dirilis menjelang WWD tahun ini, para ahli telah mengevaluasi kembali peran penting hutan bakau dan rawa asin dalam penyerapan karbon.

Para peneliti menyimpulkan bahwa lanskap pasang surut ini jauh lebih efektif dalam memitigasi perubahan iklim dibandingkan yang diketahui sebelumnya.

KLIK INI:  Apa itu Lahan Basah dan Bagaimana Manfaatnya bagi Kehidupan?

Menurut penelitian yang dipimpin oleh Gloria Reithmaier di Universitas Gothenburg , ekosistem lahan basah ini mungkin dua kali lebih efektif dalam menangkap karbon seperti yang diharapkan.

Artinya, bentang alam pasang surut dapat memberikan dorongan yang sangat dibutuhkan dalam upaya melawan perubahan iklim

Peringatan WWD tahun ini, juga diperingati oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

KLHK mengadakan serangkaian kegiatan diantaranya promosi dan publikasi terkait lahan basah di media sosial serta lomba video reels dengan tema “Wetland and Us”, dengan hadiah utama berupa perjalanan gratis ke salah satu situs Ramsar di Indonesia.

KLIK INI:  Perihal Lahan Basah dan 8 Tumbuhan yang Bisa Tumbuh Subur di Atasnya

Lalu kegiatan Satu Hari Bersama Lahan Basah yang melibatkan generasi muda dari pelajar sekolah dasar Adiwiyata sebanyak 50 orang dengan kegiatan dialog, permainan interaktif, lomba menggambar dan penayangan film tentang lahan basah.

Selain itu, penanaman serentak di seluruh Indonesia yang akan dilaksanakan pada 7 Februari 2024 untuk pemulihan ekosistem lahan basah yang terdegradasi.

“Rangkaian kegiatan tersebut akan kami sampaikan kepada forum dunia melalui Sekretariat Ramsar, bahwa Indonesia dengan penuh semangat turut berpartisipasi untuk menjaga dan merawat ekosistem lahan basah dengan mengedepankan kaderisasi pejuang lahan basah generasi muda atau youth wetland warrior,”  ujar Direktur Bina Pengelolaan dan Pemulihan Ekosistem (BPPE) Ammy Nurwati pada Dialog Media yang digelar sebagai salah satu rangkaian Peringatan Hari Lahan Basah Tahun 2024 oleh KLHK.

KLIK INI:  Restorasi Mangrove dan Terumbu Karang Dapat Melindungi Pesisir dari Banjir dan Erosi
Manfaat lahan basah

Lahan basah memiliki manfaat yang besar, baik yang dirasakan langsung maupun tidak. Berikit ini beberapa manfaat tak terduga dari lahan basah.

Sebagai penyedia sumber pangan dan air bersih, tempat wisata atau rekreasi, berperan  sebagai habitat satwa endemik dan dilindungi,  menjadi jalur migrasi burung, sebagai penyimpan karbon, sebagai pengatur iklim mikro dan makro,  dapat memberikan perlindungan terhadap bencana alam, khususnya ekosistem mangrove di kawasan pesisir.

Selain manfaat tersebut, sebagaimana dilansir dari Earth, Universitas Gothenburg menemukan potensi yang tidak terduga dari lahan basah, yakni  memiliki aspek kapasitas  dalam memerangi perubahan iklim.

KLIK INI:  Daftar Negara yang Melekatkan Bunga sebagai Lambang Kebangsaannya

“Kami telah menemukan tambahan simpanan karbon di hutan bakau dan rawa asin. Temuan baru kami menunjukkan bahwa sebagian besar karbon diekspor ke laut dalam bentuk bikarbonat saat air pasang surut dan tetap terlarut di laut selama ribuan tahun,” kata rekan penulis studi Gloria Reithmaier.

Bikarbonat memainkan peran penting dalam menstabilkan tingkat pH laut dan berpotensi mengurangi pengasaman laut, kata Reithmaier. Hal ini sangat penting mengingat peran laut dalam mendukung beragam kehidupan laut dengan ion karbonat dan bikarbonat yang diperlukan untuk pembentukan cangkang dan kerangka karang.

KLIK INI:  Bagaimana Mengatasi Mikroplastik yang Kini Mulai Merasuk ke ASI?

Manfaat lainnya adalah sebagai transportasi karbon intertidal. Untuk mengukur sejauh mana penyerapan karbon ini, Reithmaier dan timnya berkolaborasi dengan ilmuwan dari 12 negara berbeda untuk menganalisis transportasi karbon intertidal dalam studi komprehensif yang mencakup 45 rawa bakau dan 16 rawa asin.

Tim peneliti memperhitungkan ekspor bikarbonat dari bentang alam pasang surut ke laut, yang secara efektif menggandakan perkiraan ukuran penyerap karbon yang sebelumnya dihasilkan oleh lahan basah tersebut.

“Hasil kami menunjukkan bahwa ekosistem karbon biru lebih efektif dalam memitigasi perubahan iklim dibandingkan perkiraan sebelumnya. Sekarang menjadi lebih penting lagi untuk melindungi dan memulihkan ekosistem bakau dan rawa asin,” terang kata Reithmaier.

KLIK INI:  Keindahan Warna Burung adalah Berkah sekaligus Petaka