Ngopi Tanpa Gula Membantu Melawan Perubahan

oleh -27 kali dilihat
Perubahan Iklim telah Meningkatkan Risiko Kepunahan Spesies Kopi?
Ilustrasi minum kopi - Foto/Ist

Klikhijau.com – Ada dua tipe peminum kopi, pakai gula dan ngopi tanpa gula. Keduanya memiliki keanehan tersendiri.

Peminum kopi tanpa gula akan merasa tidak nikmat menyesap kopinya bila manis. Mereka menikmati sensasi pahitnya.

Sementara penikmat kopi manis alias harus diberi gula, akan merasa terusik dan gagal menikmati kopinya jika pahit.

Sebenarnya masih ada dua lagi, yakni yang bisa menikmati kedua jenis rasa kopi, yakni manis dan juga pahit tanpa gula. Dan penikmat lainnya adalah kopi harus dicampur susu, jadinya kopi susu. Ini umum ditemukan di warkop dan cafe.

KLIK INI:  3 Inovasi Pelayanan Publik KLHK Diganjar Penghargaan Kementerian PAN-RB

Minum kopi, entah itu pahit atau manis menurut penelitian dapat memberi dampak kesehatan (baca INI) juga dapat menyelamatkan lingkungan (baca INI).

Mengenai penyelamatan lingkungan dengan minum kopi, sebaiknya memilih minum kopi tanpa gula. Gula yang dimaksud adalah gula pasir alias gula putih.

Sebabnya dilansir dari Ecowatch,  pengolahan tebu memiliki dampak yang sangat besar terhadap lingkungan.

KLIK INI:  G20 Sepakati Kerjasama Peran Lautan dalam Peningkatan Aksi Mitigasi Perubahan Iklim
Menyebabkan kehilangan keanekaragaman hayati

Kenapa bisa demikian,  itu karena pabrik gula menghasilkan emisi, limpasan air limbah, dan limbah padat yang dihasilkan oleh pabrik gula.

Bukan hanya itu, menurut situs web World Wildlife Fund budidaya tebu juga jadi salah satu penyebab hilangnya keanekaragaman hayati. Karena saat membuka jalan dan lahan bagi penanaman tebu, maka habitat hewan dan tumbuhan dihancurkan.

Karena itulah, maka sangat masuk akal bahwa pengurangan konsumsi gula, termasuk saat ngopi dapat mengarah pada pengurangan produksi gula.

Artinya menurut sebuah studi baru oleh Institut Ilmu dan Teknologi Lingkungan dari Universitat Autònoma de Barcelona (ICTA-UAB ), jika konsumsi gula turun, maka secara otomatis juga produksinya juga menurun dan itu akan berdampak positif pada lingkungan.

Dalam studi yang jurnal Nature Sustainability, yang berjudul “Pajak gula untuk tujuan iklim dan keberlanjutan.”

KLIK INI:  Begini Progres Negosiasi Indonesia di KTT Iklim COP26 Glasgow!

Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis kemungkinan manfaat pengurangan konsumsi gula. Caranya mengubah lahan yang saat ini digunakan untuk menanam tebu untuk penggunaan lain dapat berdampak pada keberlanjutan serta iklim.

Para peneliti menunjukkan bahwa pajak gula bisa menjadi cara untuk mencapai pengurangan ini.

“Jumlah besar bahan tanaman dan lumpur yang dicuci dari pabrik terurai di badan air tawar, menyerap semua oksigen yang tersedia dan menyebabkan kematian ikan secara besar-besaran,” ungkap situs web World Wildlife Fund.

Penulis studi, Lewis King dan Jeroen van den Bergh, keduanya dari ICTA-UAB, melihat tiga skenario berbeda dalam pemeriksaan mereka untuk menempatkan lahan yang saat ini digunakan untuk menanam tebu untuk penggunaan yang berbeda.

Mereka termasuk tanaman bit gula di UE yang dikonversi menjadi produksi etanol, lahan pertanian gula di UE yang dihutankan kembali dan UE mengekspor kelebihan gulanya. Sementara tebu Brasil diubah dari gula menjadi etanol.

KLIK INI:  Kenapa Sih Harus Memisahkan Sampah, Apa Untungnya?
Reboisasi menurunkan emisi

Para peneliti menemukan bahwa reboisasi akan menyebabkan emisi turun, dan pengurangan emisi setiap tahun akan berlipat ganda dengan mengubah tanaman bit gula menjadi etanol, dan meningkat empat kali lipat dengan ekspor surplus gula UE. Sementara Brasil mulai menggunakan tebunya untuk membuat etanol sebagai pengganti gula.

“Tanah yang dibuka untuk persiapan penanaman tebu dilucuti dari penutup pelindung, memungkinkan tanah mengering,” kata situs web World Wildlife Fund.

“Ini berdampak pada keragaman dan massa mikroorganisme secara keseluruhan, yang keduanya penting untuk kesuburan. Selain itu, tanah lapisan atas yang terbuka mudah tersapu dari tanah miring, dengan nutrisi yang tercuci dari tanah lapisan atas. Selanjutnya, pemindahan tebu yang terus-menerus dari ladang secara bertahap mengurangi kesuburan dan memaksa petani untuk semakin bergantung pada pupuk.”

Studi ini menemukan bahwa kesepakatan antara UE dan Brasil. Di mana UE menekankan pada produksi gula dari bit gula dan Brasil memusatkan perhatiannya pada tebu yang digunakan untuk memproduksi etanol akan memiliki dampak lingkungan yang paling menguntungkan.

KLIK INI:  Lalu Siapakah yang Bertanggung Jawab Terhadap Sampah Plastik?
Ada dampak ekonomi

Para peneliti menemukan bahwa akan ada dampak ekonomi minimal pada petani di Brasil dan Uni Eropa. Karena menggunakan tebu untuk menghasilkan etanol sebagai pengganti gula dikenal sebagai pilihan yang ekonomis di Brasil, kata siaran pers ICTA-UAB.

“Ini memberikan contoh yang jelas tentang bagaimana kolaborasi yang luas dapat membantu mengarahkan masyarakat ke arah yang lebih berkelanjutan,” kata Van den Bergh, profesor riset Catalan Institution for Research and Advanced Studies di ICTA-UAB.

Kebijakan dengan tujuan membantu masyarakat untuk mengubah perilaku mereka, ditambah dengan pendidikan, telah membantu mengurangi konsumsi tembakau di UE, dan strategi serupa dapat digunakan dalam membantu mengurangi konsumsi gula, kata siaran pers.

KLIK INI:  Kebijakan Lingkungan dalam Narasi Pisau Bermata Dua

Di negara-negara seperti Inggris, perpajakan gula telah terbukti populer secara politis, sekaligus efektif, sehingga bisa menjadi alat yang baik untuk membantu mencapai target perubahan iklim .

Pajak gula juga akan mengarah pada pengurangan bahan manis dalam minuman dan produk lainnya.

“Agar kebijakan keberlanjutan menjadi efisien dan efektif, kita harus mempertimbangkan dampak penuh di tiga pilar — lingkungan, sosial, dan ekonomi —, ” kata Lewis King, peneliti ICTA-UAB dan penulis utama artikel  dalam siaran persnya.

“Mengubah cara kita menggunakan tanaman gula. Menghadirkan strategi yang menarik dari perspektif ini karena gula bisa dibilang tanaman yang paling tidak efisien untuk digunakan sebagai makanan, terlepas dari dampak negatifnya terhadap kesehatan. Selain itu, ini adalah tanaman yang paling efisien untuk biofuel dari perspektif energi bersih,” tutupnya.

adi, pilih mana ngopi tanpa gula pasir atau tetap bersetia menyeruput kopi dengan campuran gula pasir?

KLIK INI:  Kurang dari Satu Dekade, 14% Terumbu Karang Hilang dari Bumi

Sumber: Ecowtach