Mengintip Serunya Kehidupan Babirusa di Nantu

Publish by -144 kali dilihat
Penulis: Taufiq Ismail
Babi rusa, salah satu satwa endemik Sulawesi. Foto: @ignacio_yufera/ instagram

Klikhijau.com – Tengoklah babirusa yang bersuka ria di habitat alaminya. Bersantap, bermain, berkubang, hingga berlumpur tanpa terganggu. Sungguh menggemaskan. Video Kompas.id yang berdurasi lebih dari 7 menit itu menggambarkan kehidupannya yang tentram.

Hidup tentram di salah satu sudut Suaka Margasatwa Nantu, BKSDA Sulawesi Utara. Suaka margasatwa ini terletak di Gorontalo. Habitat alami sejumlah satwa endemik.

Adudu, salah satu titik kubangan favorit pemilik nama latin: Babyrousa babyrussa ini berpesta. Mereka  menyukai Adudu. Adudu menyedikan kebutuhan mereka. Mineral alami. Mineral yang mengandung zat besi, sodium, magnesium, kalsium, dan sulfat.

Adalah Dr. Lynn Marion Clayton, peneliti Universitas Oxford, Inggris. Disertasinya tentang Konservasi Babi Rusa di Sulawesi. Studi pertama di dunia untuk babirusa di alam liar. Cayton-lah yang mengulas detail kandungan mineral lumpur Adudu.

KLIK INI:  Cara Keren Anak-Anak Muda Gorontalo Ajak Warga Tanam Sejuta Pohon

Bermula dari meneliti kemudian benar-benar jatuh hati pada babirusa. Hingga kemudian turut berkontribusi langsung menjaganya. Mendirikan Yayasan Adudu Nantu Indonesia (YANI) untuk menjaga babirusa dan habitatnya.

Mengapa ia suka bermasker lumpur?

Tubuh babirusa tidak memiliki kelenjar keringat. Dalam tubuhnya terdapat lemak yang melimpah. Karenanya membuat tubuh bongsornya mudah panas.

Untuk menjaga agar suhu tubuhnya tetap stabil, mereka memakai lumpur. Melumuri seluruh tubuhnya dengan lumpur. Dengan begitu suhu tubuh mereka tetap hangat. Masker lumpur ini juga berfungsi ganda. Melindungi tubuh mereka dari sengatan sinar matahari.

Babirusa melumuri tubuhnya dengan lumpur dengan berkubang. Berkubang menjadi aktivitas harian satwa ini seperti halnya kerbau. Membenamkan hampir seluruh tubuhnya dalam kubangan lumpur.

KLIK INI:  Memilukan, Penyu Terkecil di Dunia Terancam Punah

Kubangan lumpur ini juga menjadi arena bertarung para pejantan untuk merebut hati sang betina. Bertarung untuk menunjukkan keperkasaannya.

Dari sanalah gigi taring yang menyeruak laksana tanduk ini berfungsi. Saling menanduk untuk memenangkan pertarungan. Kemenangan sebagai tanda kejantanan.

Saat sang jantan menang ia akan mendatangi sang betina idaman. Saling mengendus dan mengosokkan kepala pertanda mereka saling suka.

Pada video Kompas yang berjudul “Merindu Adudu Selalu” juga tampak anak babirusa yang riang bermain. Mengikuti ke mana pun sang induk pergi.

KLIK INI:  Pernah Melihat Kunang-kunang? Ini Fakta Tentangnya

Ia juga mengikuti setiap perilaku induknya. Termasuk melumuri seluruh badannya dengan lumpur. Tak hanya sendiri, tampak anak-anaknya yang lain. Mereka bermain kejar-kejaran hingga saling menanduk.

Karya videografer Harian Kompas, Lucky Pransiska, menunjukkan tak hanya babirusa menikmati asrinya Adudu. Satwa lain pun riuh bertandang.

Aneka burung, biawak hingga anoa daratan rendah. Anoa mendatangi Adudu terutama saat puncak kemarau. Memenuhi kebutuhan mineral yang terkadang hanya tersisa di Adudu.

Adudu adalah salah satu kubangan lumpur yang aktif sepanjang tahun. Tak jauh dari Adudu juga terdapat kubangan lainnya. Hanya saja saat musim kemarau tiba, ia mengering.

KLIK INI:  Pulau Racun, Destinasi Bahari Terbaik di Ujung Minahasa Tenggara
Populasinya terancam

Kian hari populasinya makin terancam. Jumlahnya terus merosot. Begitu rapuh. Rapuh dari sisi jumlah. Habitatnya pun terbatas.

Saat ini di Suaka Margasatwa Nantu hanya hidup 142 ekor. Jumlah ini bisa terus naik jika habitatnya terjaga. Terjaga dari gempuran para pemburu liar.

Tak hanya itu habitatnya juga terancam dari para petani sekitar Nantu. Memperluas kebun mereka dengan menerobos diam-diam lebatnya hutan Nantu.

Ini menjadi tugas berat polisi kehutanan BBKSDA Sulawesi Utara. Berkat kerjasama dengan YANI mereka terbantu. Bersama masyarakat lokal dan Brimob setempat, mereka rutin berpatroli. Menjaga keutuhan Suaka Margasatwa Nantu dari gempuran pemburu liar dan perambah.

KLIK INI:  Mengenal Belut Listrik, Penghasil Listrik yang Mampu Membunuh Manusia

Begitulah nasib babirusa yang malang. Reproduksi pun lambat. Hanya mampu menghasilkan satu sampai dua ekor anak setahun.

Sejak 1996 satwa ini telah masuk satwa yang langka dan dilindungi. Badan konservasi dunia (IUCN) dan Konvensi Perdagangan Internasional untuk prdagangan flora dan fauna yang terancam punah, CITES melindungi satwa khas ini.

Jika jenis ini tidak dilindungi dan dicintai maka salah satu warisan Wallacea ini tinggal cerita. Cerita yang tinggal kenangan belaka. Tak lagi bisa berjumpa langsung di hutan, habitat alaminya.

Semoga ia terus lestari. Begitu pun Suaka Margasatwa Nantu mampu bertahan dari sergapan manusia.

KLIK INI:  BPDASHL Bone Bolango Gelar Pemulihan Daerah Aliran Sungai
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!