Mengenal Plastitar, Polutan Baru yang Mengintai Lingkungan

oleh -9 kali dilihat
Mengenal Plastitar, Polutan Baru yang Mengintai Lingkungan
Plastitar-foto/Ist

Klikhijau.com – Plastitar, rasa-rasanya istilah itu masih asing dalam dunia cemar mencemari lingkungan. Istilah itu digunakan oleh para peneliti di Kepulauan Canary untuk menamai temuan mereka pada bentuk polutan baru.

Polutan baru yang mereka namai plastitar adalah zat gabungan antara mikroplastik dan tar. Plastitar ini  diyakini dapat membocorkan  bahan kimia beracun ke dalam lautan.

Adalah Javier Hernández-Borges yang menciptakan istilah plastitar itu. Menurutnya sekarang memunculkan formasi baru yang menggabungkan dua kontaminan.

“Kehadiran plastik di lingkungan tidak lagi terbatas pada mikroplastik atau botol di laut,” kata  Borges, profesor kimia analitik di University of La Laguna di Tenerife.

KLIK INI:  Unik, Kadis DLH Temanggung “Lahir” di Gunungan Sampah

Saat peneliti melihat fenomena itu,  mereka segera menyadari bahwa kombinasi polutan mikropastik dan tar sangat berbeda. Karena  mikroplastik tersebut tidak seperti polusi plastik lainnya yang banyak mencemari lingkungan, khususnya laut.

Plastitar sendiri ditemukan saat tim peneliti melakukan aktivitas penyisiran di tepi pantai Pulau Spanyol Tenerife di Canaries.

Tim peneliti berkali-kali menemukan gumpalan tar yang mengeras dan dihiasi pecahan plastik kecil  yang berwarna-warni. Kombinasi itu terlihat berkilauan di atas air menyelimuti Playa Grande.

Plastitar sebenarnya telah ditemukan lumayan lama, yakni telah lebih dari dua tahun lalu. Polutan ini  digambarkan sebagai “ancaman tidak ternilai” untuk lingkungan pesisir.

KLIK INI:  Heboh, Sampah Kondom Sumbat Gorong-Gorong Mega Kuningan
Biang kerok plastik

Dengan adanya temuan tersebut, itu  menambah daftar polusi laut yang dibiangkeroki oleh  plastik, mulai dari piroplastik atau plastik cair yang tampak menyerupai batu kecil hingga plastiglomerat, yakni yang terbentuk dari kombinasi plastik yang meleleh, fragmen lava basal, dan sedimen pantai.

Plastitar menurut borges terbilang sederhana saja, yakni saat residu dari tumpahan minyak di laut menguap dan lapuk. Residu tersebut terdampar di pantai sebagai bola tar yang kemudian menempel di pantai berbatu di Kepulauan Canary.

“Ini bertindak seperti Play-Doh. Dan saat gelombang  pembawa mikroplastik atau jenis sampah laut lainnya menabrak bebatuan, puing-puingnya akan menempel pada tar,” kata Borges.

Dalam perjalananya, seiring  seiring berputarnya roda waktu, lanjut Borges, formasi itu menjadi mengeras, dengan segala sesuatu mulai dari sisa alat tangkap yang dibuang hingga pelet plastik dan sisa-sisa poliester dan nilon yang telah menyatu dengan tar.

Di beberap pulai di Kepulauan Canary, para peneliti menemukan plastitar di sepanjang garis pantai, termasuk  termasuk Lanzarote dan El Hierro.

KLIK INI:  Baik Plastik Maupun Kertas, Dampaknya 11-12 terhadap Perubahan Iklim

Polutan yang terbuat dari dua kombinasi itu tersebar luas, dalam satu kasus membentan lebih dari setengah area yang mereka periksa.

Tim peneliti kemudian mengaitkan kehadirannya dengan lokasi kepulauan di sepanjang rute pengiriman utama untuk kapal tanker minyak. Namun, mereka memiliki sedikit keraguan bahwa plastitar ada di seluruh dunia.

“Kami yakin bahwa ini mungkin ditemukan di mana pun Anda melihat kombinasi tar ini–yang sayangnya tetap umum di pantai–dan mikroplastik,” lanjut Borges.

Meski begitu, Borges menganggap, penelitian lebih lanjut diperlukan guna mengkonfirmasi dampak plastitar terhadap lingkungan.

Para peneliti meyakini, kombinasi mikroplastik dan hidrokarbon berpotensi membocorkan bahan kimia beracun ke lingkungan, khususnya lautan. Hal itu dapat menyebabkan kondisi yang fatal, yakni dapat mematikan bagi organisme seperti ganggang.

“Dalam beberapa hal, itu mungkin menghalangi dan menghambat perkembangan ekosistem,” ungkap Borges.

KLIK INI:  Perusahaan Ini Ubah Tinja Manusia Jadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan
Bisa saja terdapat di seluruh dunia

Penemuan ini memberikan gambaran yang muncul tentang siklus plastik global, dengan plastik bergerak melalui atmosfer, lautan, dan daratan dengan cara yang menggemakan proses alami seperti siklus karbon.

“Ada peneliti yang berbicara tentang fakta bahwa plastik itu sangat meresap sehingga dapat mempengaruhi lingkungan kita dengan cara lain. Jadi, jika plastik memunculkan formasi lain, itu sangat penting,” jelas Borges.

Para peneliti menemukan plastitar di beberapa pulau di Kepulauan Canary dan menduga formasi ini juga dapat ditemukan di bagian lain dunia.

Fragmen plastik yang dipelajari sebagian besar adalah polietilen, jenis plastik paling umum secara global.

Polyethylene digunakan untuk segala hal mulai dari cling wrap dan kantong plastik hingga botol deterjen dan kendi susu. Ini juga ditemukan di peralatan rumah tangga, mainan, dan benda-benda lain yang ada di mana-mana.

KLIK INI:  Bahaya Sampah Plastik Kini Seperti Hantu yang Bergentayangan

“Hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) yang ada dalam tar. Itu  merupakan polutan organik persisten yang dapat terakumulasi, memiliki toksisitas akut sedang hingga tinggi terhadap organisme air. Mereka juga dapat bertindak sebagai pengganggu endokrin dan karsinogenik.

Kombinasinya dengan bahan plastik jelas menunjukkan ancaman ganda terhadap ekosistem laut dengan konsekuensi lingkungan yang tidak diketahui.

Hal itu dikarenakan plastik dapat dicerna oleh organisme laut yang menyebabkan penyumbatan usus, cedera internal, stres oksidatif dan kerusakan, respons inflamasi, di antara masalah penting lainnya. ***

KLIK INI:  Mencari Jalan Lain dari Krisis Sampah Plastik Selain Daur Ulang