Kenaikan Permukaan Laut Ekstrem akan Terjadi Lebih Sering di Seluruh Dunia

oleh -33 kali dilihat
Kenaikan Permukaan Laut Ekstrem akan Terjadi Lebih Sering di Seluruh Dunia
Ilustrasi - Foto/ NOAA on Unsplash

Klikhijau.com – Dalam beberapa bulan terakhir, banjir besar melanda beberapa negara di dunia disertai cuaca ekstrem yang tak biasa. Para peneliti merespons hal ini sebagai fakta nyata akibat perubahan iklim yang begitu mencemaskan.

Bencana iklim ini diprediksi akan lebih sering terjadi di seluruh dunia termasuk di Indonesia pada tahun-tahun mendatang.

Deretan peristiwa langka ini penting diamati bersama antara lain suhu panas tertinggi di wilayah Barat Laut Pasifik hingga Pulau Sisilia, banjir di Eropa Utara dan bagian timur Amerika Serikat. Juga peristiwa kebakaran hutan dari Prancis ke Siberia hingga Yunani.

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan Jurnal Nature Climate Change edisi 30 Agustus, memprediksi bahwa akibat meningkatnya suhu bumi, kenaikan permukaan laut ekstrem di sepanjang garis pantai di seluruh belahan dunia bakal terjadi 100 kali lebih sering di akhir abad ini.

Ini diperkirakan akan terjadi di setengah dari 7.283 lokasi yang dijadikan penelitian.

Dengan demikian, naiknya permukaan laut ekstrem sebagai dampak dari kenaikan suhu bumi yang semula diprediksi terjadi setiap 100 tahun sekali, kini akan lebih sering terjadi.

KLIK INI:  Studi Terbaru, Pulp Kopi dapat Dimanfaatkan untuk Konservasi Hutan

Para peneliti mengakui bahwa ada banyak ketidakpastian mengenai iklim di masa mendatang, namun kemungkinan terbesar pola kenaikan permukaan laut ini akan terus terjadi bersamaan dengan meningkatnya suhu global menjadi 1,5°C atau 2°C dibandingkan dengan temperatur bumi pada masa pra-industri.

Para peneliti memperkirakan suhu tersebut sebagai kondisi terburuk yang mungkin terjadi akibat pemanasan global.

Peta dampak dari setiap lokasi

Profesor Roshanka Ranasinghe dari IHE Delft and Deltares (Belanda) melakukan rancangan studi pertama di dunia ini bersama penulis utama Dr. Claudia Tebaldi dari Laboratorium Nasional Pacific Northwest National Department of Energy AS.

Studi ini menyatukan tim peneliti internasional dari Amerika Serikat, Belanda, Italia, dan Australia, yang pernah memimpin penelitian besar sebelumnya tentang permukaan laut ekstrem dan efek kenaikan suhu permukaan laut.

KLIK INI:  Di Balik Larangan Pemakaian Plastik, Bagaimana Nasib Pemulung?

Tim tersebut mengumpulkan data dan memperkenalkan metode sintesis baru, dengan melakukan perkiraan alternatif, untuk memetakan kemungkinan efek kenaikan suhu mulai dari 1,5°C hingga 5°C yang dibandingkan dengan masa pra-industri – sebuah kisaran suhu yang belum pernah terjadi dalam penelitian sebelumnya.

Para ilmuwan menemukan hal yang tidak terduga, bahwa dampak dari naiknya air laut pada frekuensi permukaan laut yang ekstrem akan terasa paling parah di wilayah tropis dan umumnya di garis lintang yang lebih rendah dibandingkan dengan garis lintang utara.

Lokasi yang paling mungkin terkena dampak besarnya  adalah belahan bumi selatan, daerah di sepanjang Laut Mediterania dan Semenanjung Arab, Pantai selatan Pasifik Amerika Utara termasuk Hawaii, Karibia, Filipina, dan Indonesia.

Sedangkan wilayah yang tidak terlalu terpengaruh kenaikan permukaan air laut adalah wilayah bagian garis lintang yang lebih tinggi, seperti Pantai Pasifik utara Amerika Utara, dan Pantai Pasifik Asia.

Studi baru ini selaras dengan pernyataan dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) baru-baru ini yang menyatakan bahwa peristiwa naiknya permukaan air laut ekstrem akan menjadi jauh lebih sering dan meluas di seluruh dunia pada akhir abad ini karena dampak pemanasan global.

KLIK INI:  Krisis Iklim Benar-Benar Bukan Hal Sepele, Merefleksi Kembali ‘Before the Flood’

“Ini bukanlah sebuah kejutan dan tidak mengherankan bahwa pada pemanasan suhu 1,5°C akan memiliki efek substansial pada frekuensi dan besarnya kenaikan permukaan laut yang ekstrem” kata Profesor Ranasinghe.

“Studi ini memberikan gambaran yang lebih lengkap di seluruh dunia daripada yang pernah dilakukan sebelumnya. Dengan menggabungkan beberapa set data, kami dapat melihat rentang tingkat pemanasan yang lebih luas dengan detail spasial yang sangat halus.”

Skenario terbaik dan terburuk yang diajukan oleh para penelitian ini bervariasi. Hal itu dikarenakan banyak kemungkinan yang disajikan oleh para peneliti yang dicatat dengan sangat rinci.

Dalam satu skenario misalnya, pada kemungkinan yang sangat pesimistis, 99% dari lokasi yang diteliti akan mengalami peningkatan kejadian ekstrem 100 kali lipat pada tahun 2100 dengan pemanasan 1,5°C.

Di sisi lain, pada kemungkinan yang lebih optimis, sekitar 70% lokasi tersebut terlihat tidak akan mengalami banyak perubahan bahkan dengan kenaikan suhu 5°C.

Para peneliti ini berharap akan ada banyak studi lebih lanjut untuk memahami lebih tepat bagaimana perubahan akan mempengaruhi komunitas tertentu.

Mereka menegaskan bahwa perubahan fisik yang dijelaskan dalam studi mereka akan memiliki dampak yang bervariasi pada skala lokal, tergantung pada beberapa faktor, termasuk fitur geomorfologi lokal, kerentanan daerah tersebut terhadap kenaikan air, kesiapan masyarakat wilayah itu untuk menghadapi perubahan.

KLIK INI:  Membaca Pesan dalam Trilogi Buku "Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim"