Studi Baru: 83 Paus dan Lumba-Lumba Mengandung Polutan Beracun, Mencemaskan!

oleh -292 kali dilihat
Studi Baru 83 Paus dan Lumba-Lumba Mengandung Polutan Beracun, Mencemaskan!
Studi Baru 83 Paus dan Lumba-Lumba Mengandung Polutan Beracun - Foto/Pixabay

Klikhijau.com – Sebuah jurnal Frontiers in Marine Science terbaru berjudul Anthropogenic Contaminants and Histopathological Findings in Stranded Cetaceans in the Southeastern United States, 2012–2018 mengungkapkan bahwa ada sekira 83 lumba-lumba dan paus yang terdampar di pesisir pantai Amerika Serikat dari 2012-2018 menunjukkan lapisan lemak mereka mengandung polutan beracun dengan kadar yang mengkhawatirkan.

Pasalnya, polutan dari herbisida, kemasan makanan, pasta gigi, sabun, detergen, dan mainan, berhasil masuk ke jaringan tubuh hewan laut tersebut.

Ini merupakan studi pertama yang melaporkan konsentrasi polutan dalam lemak lumba-lumba dan paus—termasuk pada lumba-lumba moncong putih dan paus paruh Gervais yang catatan ilmiahnya masih sangat jarang.

KLIK INI:  Mantap, Pertunjukan Lumba-Lumba Asli Kini Digantikan Robot
Polutan beracun

Para peneliti Harbor Branch Institute, Florida Atlantic University ini menganalisis sampel lemak untuk mengukur konsentrasi lima racun organin, antara lain atrazin, DEP, NPER, bisphenol-A, dietil ftalat, dan triklosan.

Data tersebut kemudian dilengkapi dengan analisis sampel yang mengukur kehadiran elemen dan kandungan bahan beracun dari industri.

Analisis menunjukkan bahwa beberapa faktor memengaruhi konsentrasi racun dan elemen pada lemak cetacea tersebut, termasuk seks, spesies, usia, dan tempat tinggal. Misalnya, paus sperma memiliki kadar NPE, arsenik, kadmium, kobalt, dan zat besi yang lebih tinggi.

Pun, lumba-lumba hidung botol memiliki konsentrasi timbal, mangan, merkuri, selenium, talium, dan seng yang jauh lebih tinggi pada hat.

Pada lumba-lumba hidung botol betina, arsenik adalah unsur yang paling memprihatinkan, mengingat jumlahnya lebih banyak ketimbang yang terdapat pada laki-laki dewasa.

KLIK INI:  Paus Orca Muncul Lebih Sering di Perairan Indonesia, Pertanda Apa?

Perbedaan ini menunjukkan betapa pentingnya lokasi geografis bagi kesehatan lumba-lumba, juga bagaimana perubahan lingkungan laut dapat memengaruhi kesehatan hewan.

Para ilmuwan menyatakan bahwa polutan beracun ini masuk ke lingkungan laut dalam bentuk limpasan air yang tercemar atau dari bahan kimia pada plastik sekali pakai yang dibuang ke sana.

Bahan kimia spesifik yang terdeteksi berkaitan dengan kemasan makanan, deterjen, dan bahkan mainan anak-anak, beberapa di antaranya mengandung ftalat berbahaya.

Maka dari itu, mulai dari diri sendiri, sahabat hijau harus melakukan sesuatu untuk mengurangi jumlah racun yang masuk ke lingkungan laut. Karena polutan-polutan tersebut memiliki impact buruk bagi kesehatan dan lingkungan, tidak hanya bagi kehidupan laut tetapi juga manusia.

Pasalnya, cara kerja bahan kimia ini dengan sangat mudah bereaksi melalui rantai makanan dan menjadi lebih terkonsentrasi di tempat yang lebih tinggi.

Semisal, lumba-lumba dan paus memakan ikan dengan konsentrasi bahan kimia tersebut, juga ikan yang biasa kita konsumsi sehari-hari, unsur-unsur beracun masuk ke dalam tubuh mereka. Hal yang sama juga bisa terjadi pada manusia ketika mengonsumsi hewan laut.

KLIK INI:  Mitigasi Iklim demi Generasi Mendatang tetap Bertahan Hidup