Melirik Penerapan Kurikulum Merdeka ala SDN 161 Karya yang Selaras dengan Alam

oleh -88 kali dilihat
Melirik Penerapan Kurikulum Merdeka ala SDN 161 Karya yang Selaras dengan Alam
Suasana pasar sehari SDN 161 Karya, Kab. Soppeng-foto/Ist
Nona Reni
Latest posts by Nona Reni (see all)

Klikhijau.com – Kurikulum Merdeka membawa warna baru bagi anak didik, khususnya pelajar SD. Semisal yang terjadi di  Sekolah Dasar Negeri (SDN) 161 Karya Kelurahan Cabenge, Kec. Lili Rilau, Kab. Soppeng, Sulawesi Selatan.

Sekolah yang beralamat di  Jl. Kemakmuran No.86 ini  menggelar Pagelaran Karya Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), Rabu, 20 Desember 2022.

Hal unik dan menarik dari  kurikulum baru ini, peserta didik diharuskan untuk mengolah barang bekas menjadi satu bentuk yang baru kemudian dipamerkan dan dipasarkan dalam lingkup sekolah.

Huriah, S.Pd selaku kepala sekolah SD Negeri 161 Karya mengatakan bahwa kurikulum ini (merdeka.red) memerdekakan peserta didik dalam berkreativitas, menumbuhkan toleransi dan kolaborasi para warga sekolah, juga lingkungan sekitar pada umumnya.

KLIK INI:  OPAB GEMPA Makassar Lakukan Revitalisasi Organisasi demi Anggota yang Berintelektual

“Anak-anak mulai diajarkan hidup berdampingan dengan alam, belajar mencintai lingkungan,” ujarnya.

Kehadiran kurikulim ini boleh dikatakan pencapaian kompetensi kecakapan hidup abad 21, yang mana peserta didik hendaknya dididik sesuai kodrat diri dan kodrat zaman sebagai upaya membentuk Budi pekerti, cipta, karsa, dan karya. Kurikulum ini merefleksikan pada filosofi Ki Hajar Dewantara. “Cipta” yang berarti pengetahuan, “Karsa” yang berarti sikap, dan ‘Karya’ yang berarti keterampilan.

Pendidikan Indonesia saat ini menitikberatkan pada tujuan tercapainya kecakapan hidup abad 21 dan karakter Profil Pelajar Pancasila. Kecakapan hidup abad 21 meliputi crytical thinking and problem solving (berpikir kritis dan penyelesaian masalah), creativity (kreativitas), communication (komunikasi), dan collaboration (kolaborasi).

Profil Pelajar Pancasila meliputi enam elemen, yaitu Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, Berkebhinekaan global, Bergotong royong, Mandiri, Bernalar Kritis, dan Kreatif.

KLIK INI:  Menjelajah Eksotisme Wisata Alam Kabupaten Soppeng

Kompetensi Kecakapan Hidup Abad 21 mengedepankan informasi dan teknologi. Tujuannya untuk menyiapkan peserta didik menjadi pribadi yang memiliki kecerdasan faktual, emosional, maupun spiritual. Pencapaian Kecakapan Hidup Abad 21 bisa diimplementasikan melalui integrasi teknologi ke dalam pembelajaran. Model pembelajaran yang diadopsi bisa menggunakan Discovery Learning, Inkuiri, Problem Based Learning, maupun Project Based Learning.

Pelajar sepanjang hayat

Pelajar Pancasila adalah pelajar sepanjang hayat yang berwawasan global dengan berpegang pada nilai-nilai Pancasila. Tujuannya adalah untuk mencetak peserta didik yang berdaya saing global namun tetap sesuai dengan budaya bangsa.

Hal ini penting untuk diimplementasikan di tengah pesatnya kemajuan teknologi yang memudahkan budaya asing masuk ke dalam negeri. Pancasila adalah kearifan lokal bangsa Indonesia yang wajib dijunjung tinggi sebagai filter atas budaya-budaya asing yang masuk.

KLIK INI:  Bantuan Perawatan Satwa Mengalir ke Lembaga Konservasi

“Dengan program pembelajaran baru ini, anak-anak lebih kreatif dalam mengolah benda-benda bekas. Mereka bisa memanfaatkan benda tak terpakai, semisal anting, kalung, tasbih maupun manik-manik lain,” ujar Yulianti, S.Pd selaku wali kelas dari anak-anak kelas 3 yang memamerkan hasil kerajinan tangan berupa tasbih bekas menjadi tasbih baru yang mempunyai nilai jual kembali.

Mengajarkan pentingnya kolaborasi

Yulianti juga menegaskan, proses pembelajaran dan pembuatan karya tersebut bisa dilakukan secara kolaborasi dalam suatu kelompok dengan integrasi teknologi. Contoh, peserta didik dalam kelompok menciptakan suatu produk sebagai kerja proyek, yang selanjutnya mendokumentasikannya dalam bentuk video dan infografis.

Kegiatan pembelajaran dimulai dengan menentukan topik belajar secara bersama-sama antara guru dan peserta didik. Tahap ini mampu memacu kreativitas dan berpikir kritis. Selanjutnya peserta didik dibagi dalam kelompok untuk menyelesaikan proyek sesuai topik.

Peserta didik bersama-sama dengan guru menyusun jadwal penyelesaian proyek. Kegiatan berkelompok akan memacu kolaborasi dan komunikasi. Selanjutnya setiap kelompok menyampaikan hasil proyeknya dalam presentasi infografis serta dokumentasi video. Hal ini sesuai dengan Kecakapan Hidup Abad 21 yang mengedepankan informasi dan teknologi.

KLIK INI:  Akhir Pekan Ini, KP2K dan Klikhijau Kolaborasi “Memeluk Alam”

Setiap kelompok diberikan kebebasan dalam membuat produk yang sesuai dengan tema. Keberagaman produk yang dihasilkan akan menambah wacana dan wawasan murid. Selain itu juga, ini adalah salah satu strategi dalam mengakomodir keberagaman kebutuhan murid melalui pembelajaran berdiferensiasi dengan strategi produk.

Diharapkan dengan adanya acara ini, memberikan kesempatan kepada peserta didik agar dapat memahami pengetahuan untuk mereka belajar dari lingkungan sekitar, serta memberikan inspirasi dan motivasi agar berkontribusi bagi lingkungan sekitar. Terutama mengoptimalkan peserta didik menjadi pelajar yang berkompeten, berkarakter dan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

KLIK INI:  Jeneponto Akan Gelar WCD dengan Konsep Sendiri yang Lebih Memukau