Perihal Bambu Betung, Kendaraan Pertama yang Tiba di Bumi

oleh -253 kali dilihat
Perihal Bambu dan 5 Manfaat Utamanya yang Mencengankan!
Bambu betung/foto-Ist
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Bambu betung, di kampung saya dinamai pattong atau pattung. Tanaman ini dibiarkan saja tumbuh tak dirawat. Tempat tumbuhnya pun terbilang ekstrem, di tebing bahkan di tepi jurang. Salah satu fungsinya ditanam di tempat ekstrem untuk mencegah terjadinya longsor.

Pemanfaatan terbesarnya adalah dibuat pagar oleh warga yang menanam jagung. Juga untuk tiang rumah-rumah yang didirikan di kebun.

Bambu betung sifatnya keras, sehingga baik untuk bahan bangunan karena seratnya besar-besar dan ruasnya panjang.

Selain sebagai tiang dan pagar, bambu ini dapat dimanfaatkan untuk saluran air, penampung air aren yang disadap, dinding rumah yang dianyam, lantai rumah, atap dan berbagai jenis barang kerajinan.

KLIK INI:  Dianggap Membawa Keberuntungan, 4 Hewan Ini Diburu dan Terancam Punah

Bambu jenis ini bernama latin Dendrocalamus asper. Memiliki ukuran lingkar batang yang besar dan termasuk ke dalam suku rumput-rumputan.

Asal usul bambu ini menurut Wikipedia tidak begitu jelas dari mana. Akan tetapi diperkirakan berasal dari wilayah Asia Tenggara.

Dan pada saat ini bisa didapati ditanam di seluruh Asia tropis, dan diintroduksi ke berbagai negara lain termasuk Ghana, Benin, Kongo, Kenya, dan Madagaskar dan tentu saja di Indonesia.

Namun, bagi masyarakat Sulawesi Selatan yang tumbuh dalam cerita-cerita La Galigo. Bambu betung memiliki keistimewaan tersendiri karena menjadi kendaraan Batara Guru saat diturunkan ke Ale Lino atau Bumi sebagai manusia pertama.

Batara Guru digambarkan dimasukkan ke dalam bambu betung, bambu itu kemudia meluncur ke bumi sebagai “kendaraan” sang manusia pertama. Kendaraan itu mendarat di Tanah Luwu.

Bambu betung, jika merujuk pada kisah La Galigo maka bisa dikatakan sebagai kendaaraan pertama yang tiba di bumi. Namun, secara ilmiah tentu ini sulit dibuktikan, pun sulit pula diterima ada orang yang bisa hidup dalam sebatang bambu.

Bambu betung termasuk petarung di dataran tinggi dan rendah. Ia bisa tumbuh subur pada tanah-tanah aluvial yang lembap dan subur, meskipun bambu ini juga mampu tumbuh di tempat-tempat kering di dataran tinggi maupun rendah.

Bambu betung menyebar hingga ketinggian 1.500 m dpl. namun di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango betung tercatat hingga ketinggian 1.910 m dpl.

KLIK INI:  Menyedihkan, Burung Langka Diselundupkan dalam Botol Mineral
Bisa jadi pengganti besi

Pada penelitian Ria Fahrina dan Indra Gunawan dari Universitas Bangka Belitung dan Indra Gunawan pada tahun 2014 yang dimuat di dijurnal Fropil

Keduanya menemukan bahwa bambu betung bisa digunakan sebagai pengganti tulangan untuk balok beton bertulang.

Syaratnya adalah bambu yang digunakan adalah bambu betung yang kemudian dikeringkan selama 7 hari.

Setelah pengujian fisik bambu dan beton seperti kadar air bambu, kuat tarik bambu sejajar serat, kuat tekan beton, kuat lekat bambu terhadap beton dan kuat lentur balok beton bertulangan bambu dengan umur masing-masing beton 28 hari.

Setelah dilakukan pengujian kuat lentur, kemudian dibandingkan nilai kuat lentur balok bertulang secara teori dengan eksperimen. Dari hasil penelitian diperoleh nilai kadar air bambu sebesar 18,29%, kuat tekan beton rata-rata sebesar 28,5771 MPa, kuat tarik bambu sejajar serat sebesar 350,9741 MPa dengan kuat leleh bambu sebesar 247,42 MPa, kuat lekat bambu terhadap beton sebesar 0,341 Mpa, dan kuat lentur balok bertulang bambu sebesar 3,8735 MPa.

Keduanya menyimpulkan bahwa bisa digunakan sebagai tulang, namun masih perlu penelitian lebih lanjut apakah bambu aman dijadi tulang pada beton menggantikan besi.

Sebenarnya ada fakta menarik yang sering dilakukan orang-orang di kampung saya. Biasanya jika mereka tidak punya besi atau besinya tidak cukup sebagai tulang beton. Orang-orang akan menyiasatinya dengan menggunakan bambu, khususnya bambu betung.

Banyak yang meyakininya jika bambu betung lebih kuat daripada besi asal benar-benar kering dan sudah tua.

KLIK INI:  Mengenal Merbau, Kayu Khas Indonesia Berkelas Dunia yang Terancam Punah