Menghidupkan Air

oleh -54 kali dilihat
Menghidupkan Air
Ilustrasi air-foto/Fixbay
Irhyl R Makkatutu

Mulutmu bergerak-gerak. Ia menatapnya. Kau lalu meniup air bening yang dituang di dalam gelas. Kau meniupnya tiga kali. Telapak tanganmu bertautan. Saling menggenggam rapat.

“Minumlah! Ambil berkahnya!” katamu dengan suara datar. Namun, ia bisa rasakan ada getar di sana—pada suaramu.

Diterimanya air itu tanpa menatap matamu—meminumnya tiga teguk lalu menyerahkannya kembali kepadamu. Setelahnya, kamu memercikkan ke matanya tiga kali lalu memercikkan ke beberapa tempat dalam rumah.

“Ambilkan botol!” pintamu kepada ibunya. Dan perempuan yang kepalanya telah melahirkan rambut putih itu bergegas ke dapur mengambil botol plastik.

KLIK INI:  5 Kisah Fiksi Inspiratif dalam buku “Bukan untuk Dibaca” dengan Metafora Alam

Kamu menatap botol plastik itu. Seolah ingin protes, tapi menerimanya. Kamu menuanginya air yang telah dituangi doa-doa dengan sangat hati-hati agar tidak tumpah.

“Jangan biarkan air ini mati, apalagi habis!” Saranmu masih dengan suara datar. Kali ini ia berani menatap wajahmu. Bekas sarussu ‘jerawat’ menghias di sana, namun tidak menyiratkan kesangaran sebab ditutupi matamu yang sayu.

“Bagaimana cara menghidupkan air ini?” tanyanya sambil menatap air yang telah berpindah ke dalam botol plastik itu, yang telah kamu rapali doa-doa leluhur.

“Air itulah yang harus menambah bukan ditambah. Jangan ditambahkan dengan air yang telah dimasak, sebab air yang sudah dimasak telah mati,” jawabmu. Dan wajahnya terasa lecek karena tidak mengerti. Namun, ia harus mengangguk pura-pura mengerti agar tidak tampak bodoh di hadapanmu.

Kamu menjelaskan singkat, air yang telah dimasak tidak bisa digunakan mengobati. Sifatnya telah berubah. Tidak bisa lagi dipakai bersuci—berwuduh dan mandi wajib. Mengobati adalah menyucikan dari penyakit.

“Karenanya, kita perlu menjaga setiap mata air. Jangan sampai tercemar. Kalau sudah tercemar harus dimasak dulu baru sehat diminum,” jelasmu.

Perihal kedutan tubuh

Jelang pukul dua puluh dua malam di malam Jumat itu kamu pulang. Tidak sempat untuk berbincang lama. Padahal banyak hal yang ingin ditanyakan. Salah satunya perihal tubuhnya yang hampir tiga pekan ini sering berkedut. Dalam masyarakatnya kedutan anggota tubuh adalah pengirim kabar.

Kedutan tubuh adalah penanda dari Tuhan. Apakah kamu juga percaya dan bisa menjelaskan, misalnya kedutan pada perutnya yang sebelah kiri, konon akan mendapat kesenangan bersama keluarga, tapi di waktu yang bersamaan telapak tangan kirinya juga berkedut, dan itu artinya akan mendapat kebencian dan penghinaan dari orang lain. Bagaimana bisa hal itu terjadi secara bersamaan?.

Jujur saja, hal-hal menakutkan kerap tiba di pikirannya tiga pekan terakhir. Berumah di sana dipagari rimbunan prasangka. Ia sulit tidur atau fokus ketika melakukan pekerjaan.

KLIK INI:  Mengintip Gerakan Ekoliterasi Kaum Muda Milenial
Tanda yang datang bercerita

Sepulang dari pesta kerabat tujuh bulan lalu. Gelisah memenjarakannya. Ia tidak betah di rumah, selalu ingin pergi. Seolah ada tangan yang menyeretnya dan suara-suara aneh menuntun langkahnya.

Ia selalu ingin lari menuju pelukan lelaki itu. Lelaki yang mengembuskan asap rokok kepadanya, yang bahkan namanya tidak pernah ia tahu.

Mereka hanya bertatapan sejenak, asap rokok lelaki berambut agak gonrong itu menerpa wajahnya yang membuatnya berpaling sambil batuk-batuk. Lelaki itu berdiri dari duduknya dan melangkah keluar menuju jalan.

Tatapannya mengikuti langkah lelaki itu yang tidak menoleh kepadanya. Tapi, hatinya serasa telah ikut bersama dengan lelaki yang berbaju kemeja biru itu.

Awalnya ia abai saja karena tidak percaya jika seseorang bisa terpikat kepada orang lain hanya karena asap rokok. Ia tidak percaya baca-baca ‘mantera’ penakluk perempuan.

Aroma rokok lelaki itu rasanya lebih wangi dari rokok mana pun. Tiga hari setelah kejadian di pesta itu. Ia mudah marah serupa sedang  datang bulan. Ia juga malas makan, suka membentak orang tuanya yang terlalu cerewet. Yang diingininya hanya satu,  bertemu lelaki itu.

Ketika orang tuanya membawanya ke dokter, dokter menyerah tidak berhasil mendeteksi penyakitnya. Ia hanya disarankan istirahat. Sebuah basi-basi yang membosankan. Orang tuanya dilanda cemas

Tiga bulan pasca menghisap asap rokok lelaki itu tubuhnya drop. Tidak kuat berjalan dan berdiri terlalu lama. Jika tidur kakinya harus menyanggah bantal. Ia juga takut dengan air, tubuhnya mudah gigil.

Ibunya yang cerewet percaya hal itu terjadi  karena keringat tidak pernah keluar dari tubuhnya. Ibunya menggunakan terapi unik untuk memancing keringatnya mengucur—membakar batu, tapi bukan batu sembarangan, hanya batu yang biasa dipakai menyanggah panci ketika memasak.

Setelah batu memerah. Ibunya meletakkan di atas loyang besi. Lalu ia menutupi loyang tersebut dengan sarung yang telah menutupi seluruh tubuhku, bombo’.

Kemudian air dipercikkan ke batu yang panas bara itu. Asap yang keluar serupa sauna. Dan memancing keringatnya keluar. Asap yang menyembur tidak bisa lolos keluar dari sarung.

Ia akan membuka sarung yang menutupi tubuhnya jika batu itu telah dingin. Saat menyembulkan kepala dan ibunya melihat keringat dari porinya. Senyum ibunya mengembang dan ia melihat cahaya kesembuhannya di mata ibunya. Tapi, bayangan lelaki itu tidak pernah lekang. Tidak ingin pergi. Bandel.

KLIK INI:   Di Balik Hitamnya Arang, Ada...
Suara mistik yang misteri

Suara aneh itu tertangkap pendengaran Hamia ketika sedang memetik kopi di dekat sebuah pohon beringin tua. Dulu pohon beringin itu sering dijadikan tempat menggelar syukuran atas panen jagung yang diperoleh.

Pohon tersebut tidak pernah berubah besarnya bahkan ketika Hamia masih kecil. Ukurannya tetap sama, berdiri kokoh di pinggir jurang. Pohon itu dikeramatkan warga. Dulu, sebelum dan sesudah panen jagung harus ke pohon beringin tersebut—mengucapkan syukur kepada pencipta.

Akar pohon beringin tua itu diyakini pula yang menjaga tanah agar tidak lobboro ‘longsor’ meluncur ke dalam panisiri ‘tebing yang curam’ menimbuni kebun warga dan sungai.

Hamia mengabaikan suara yang didengarnya, hingga seminggu kemudian seorang lelaki mengunjunginya dalam mimpi. Lelaki berjenggot dengan wajah dan pakian pute ‘putih’ mengkilap.

Lelaki itu menyebut satu nama, Daenta. Ia mengaku jika Daenta adalah cucunya yang bisa menyembuhkan Ratina dari sakitnya. Dari asap rokok yang buatnya cemas dan dirumahi rindu. Aneh.

Namun ada satu syaratnya, setelah Ratina sembuh ia harus ke pohon beringin tua itu melepas ayam berwarna hitam.

Hanya air saja

Daenta, entah kenapa ibumu memberi nama itu. Umurmu bertaut sembilan atau sepuluh tahun darinya. Menurut ibumu, sewaktu kamu berumur sebelas tahun, kamu sakit parah selama dua tahun empat puluh hari.

Kamu tidak mau makan, hanya tiga kali sehari saja minum. Tidak ada makanan selama dua tahun itu bertandang ke perutmu, hanya air saja. Dan ajaib kamu mampu bertahan hidup hingga sekarang. Benar saja bahwa air adalah sumber kehidupan.

Setelah sembuh mendekap, kamu banyak mengalami hal gaib di luar nalar normal. Kamu lebih rajin menghadapkan wajahmu ke kiblat dengan khusyu dan yang lebih gaib lagi kamu bisa menyembuhkan pepuragam penyakit hanya dengan air putih yang kamu tuangi doa-doa. Penyakit yang membuat dokter  menyerah karena tidak bisa menyembuhkannya.

KLIK INI:  Puisi Tentang Lingkungan dari 5 Penyair Dunia Paling Menyentuh
Berember-ember air mata

Setiap kamu ke rumahnya, kamu acap bercerita hal-hal gaib sambil menikmati kopi bersama ayahnya. Ia acap memasang telinga mendengarnya. Ia tertarik pada hal gaib itu. Apalagi setelah  dilanda sakit yang gaib juga. Sakit yang disebabkan asap rokok yang melahirkan berember-ember air mata rindu pada lelaki yang entah bernama siapa. Lelaki pengecut.

“Ratina kena baca-baca cewek. Baca-baca yang cukup tangguh dari sekelompok orang yang menyukai warna hitam,” katamu datar sebelum pamit.

Ia mendengar kata itu, dan pikirannya mengarah ke timur. Tapi, ia tidak ingin mengutarakan kecurigaannya sebab tak mau dikatakan sok tahu. Maka ia mengurung rasa ingin tahu itu di kepala.

Rasa yang menyerbu tubuh

Tiga hari ia meminum air yang mau raoali doa-doa. Rasa segar menyerbu ke dalam tubuhnya. Apalagi setelah di hari ketiga kamu memandikannya di sapa kaloro ‘sungai bercabang’. Kesehatannya perlahan pulih.

Kedutan  tubuhnya pun menghilang jauh. Bayangan lelaki itu pun tak pernah lagi muncul, dan rindu yang sekian lama menggebrak perlahan pudar.

Di hari ia akan kamu mandikan di sapa kaloro. Rasanya aneh, ia yang tidak bisa berdiri lama mampu berjalan menuju sungai dengan jalan terjal dan licin.

Sejak hari itu, ia merasa  benar-benar akan sembuh dari sakit anehnya. Tapi, ada penyakit lain yang dirasa sedang menggantikannya, itu disebabkan oleh matamu. Ia acap memikirkanmu.

Tersiar luas

Pagi tiba, dan wajah ibunya kusut sebab harus ke pohon besar itu melepas ayam hitam. Ayahnya menghentikan gelas kopinya yang hampir sampai di bibirnya. Ia memperbaiki sarungnya, masuk ke ruang dapur mengambil jagung lalu keluar rumah.

Dari luar rumah, suara kur,kur, kur terdengar. Itu suara ayahnya yang akan menangkap ayam.

Kabar kesembuhannya tersiar luas. Awalnya dari tetangga ke tetangga lalu merebak tidak terkendali. Banyak orang datang mencari Daenta untuk berobat.

Banyak pula ke pohon besar itu melepas ayam dan mengikat janji, meski telah ada larangan agar tidak melakukannya.

Karena tidak ingin hal lebih dahsyat melanda kampung, pohon beringin tua itu terpaksa di tebang. Dan hal aneh terjadi. Sehari setelah ditebang, burung-burung beterbangan liar dan labboro tiba membawa membawa petaka, membawa kebun kopi warga meluncur ke dalam jurang dan menimbuni kebun warga dan sungai—tempat Ratina dimandikan oleh Daenta.

Rumah kekasih, 13/8/2017

KLIK INI:  Kecamuk Cuaca