Mengenal Bioremediasi, Cara Memulihkan Lingkungan dari Zat Berbahaya

oleh -86 kali dilihat
Tumbuhan Eceng Gondok dan 5 Keunikan Tersembunyi di Baliknya!
Eceng gondok berbunga - tanaman ini salah satu tanaman yang bisa digunakan untuk bioremediasi-Foto/Bibitbunga

Klikhijau.com – Bioremediasi masih terdengar asing. Padahal ia memiliki tujuan  yang berpihak pada lingkungan. Karena bioremediasi hadir untuk memulihkan kesehatan lingkungan dari zat-zat pencemar yang berbahaya.

Bioremediasi ini berdasarkan terminologi  terdiri dari dua kata, yaitu bio dan remediasi. Kedua kata itu memiliki arti masing-masing, bio berarti yang berarti hidup. Sedangkan remediasi  berarti kembali.

Karena kedua kata tersebut digabungkan, maka secara harfiah bisa ditafsirkan sebagai pengembalian daerah atau lokasi yang terpapar limbah kimia. Cara pengembaliannya pun terbilang alami, karena  menggunakan bantuan makhluk hidup.

Jadi, bioremediasi ini  mengacu pada segala proses yang menggunakan mikroorganisme, misalnya penggunaan  fungi, bakteri,  yeast, dan alda, ataupun enzim-enzim yang dihasilkannya untuk menetralkan atau membersihkan  bahan kimia dan limbah pencemar lingkungan.

KLIK INI:  Faktor Lingkungan Pengaruhi 40 Persen Derajat Kesehatan Masyarakat

Tidak hanya mikroba yang bisa diterapkan dalam  proses bioremediasi. Namun, juga dapat memanfaatkan tetumbuhan.

Dua jenis bioremediasi

Bioremediasi ini memiliki dua jenis, yaitu  bioremediasi ex-situ dan  bioremediasi in-situ. Kedua jenis ini memiliki fungsi dan pengertiannya masing-masing.

Untuk bioremediasi ex-situ meruapakan  usaha pemulihan lingkungan. Cara pemulihannya dengan melakukan penggalian. Setelah galian usai, kemudian membawa unsur pencemar keluar daerah untuk dipulihkan di tempat lain.

Cara ini pun tidak berdiri sendiri, tetapi ada empat cara untuk melakukan bioremediasi jenis ini, di yakni dengan cara:

KLIK INI:  Tragedi di Buton, Minyak Sawit Mentah yang Tumpah Cemari Lingkungan
  • Biopile

Teknik biopile ini menggunakan cara penimbunan di atas galian tanah yang tercemar. Namu, tidak sekadar ditimbun begitu saja, tetapi diikuti  penambahan nutrisi dan aerasi. Tujuan dari penambahan itu  untuk meningkatkan aktivitas mikroba.

Tidak hanya itu, tetapi juga harus ada penambahan  sistem pemanas dalam teknologi biopile. Ini bertujuan agar proses biodegradasi senyawa berbahaya dapat berjalan lebih cepat.

  • Land farming

Ini merupakan teknik mencampurkan tanah tercemar dengan nutrisi, guna merangsang aktivitas mikroorganisme.

Ini merupakan teknik yang paling muda dalam teknik ex-situ. Setelah tanah tercampur, campuran tanah tersebut kemudian  dipindahkan ke tanah yang belum terkontaminasi.

Ada beberapa jenis nutrisi yang perlu ditambahkan, di antaranya kalium,  nitrogen, dan fosfor.

KLIK INI:  Saatnya Mengenali 9 Ciri Lingkungan Sehat untuk Ditinggali
  • Bioreaktor

Teknik bioremediasi ini, menggunakan  sebuah tangki besar. Tangki itu sebagai tempat terjadinya biodegradasi.

Tangki besar yang digunakan pun harus memiliki kondisi yang terkendali. Di mana mikroba dapat bertahan hidup.

Banyak hal yang mesti diperhatikan dalam penggunaan teknik bioreaktor, di antaranya suhu, kelembaban, aerasi, hingga nutrisi dikontrol secara berkala.

Tujuannya adalah agar mikroba dapat tetap hidup dengan baik, hal itu akan membuat biodegradasi berjalan lancar dan cepat.

  • Windrow

Tumpukan tanah yang tercemar akan dibalikkan. Pembalikannya pun harus sistematis, tidak bisa sekaligus. Pembalikannya dilakukan secara  berkala.

Pembalikan tanah yang tercemar itu pun harus   dibarengi dengan peningkatan aerasi. Agar laju biodegradasi bisa cepat, maka perlu pula penambahan nutrisi beberapa kali sebagai bahan baku energi bagi mikroba.

KLIK INI:  Mencegah Pandemi dan Menghemat Biaya dengan Cara Melindungi Satwa Liar
Tentang  bioremediasi in-situ

Bioremediasi in-situ merupakan  usaha pemulihan lingkungan. cara kedua ini langsung bersentuhan dengan lokasi pencemaran. Setidaknya ada  tiga tekni dalam bioremediasi ini, yakni:

  • Titoremediasi

Tanaman dalam teknik ini memiliki peran yang penting. karena memang  teknik titoremediasi menggunakan  menggunakan tanaman sebagai media pemulih lingkungan dari polutan.

Bagian tanaman, yakni akar  dimanfaatkan untuk menyerap polutan. Tidak hanya menyerap, tapi jugadan mengeluarkannya dari lingkungan.

Untuk jenis tanaman yang  dapat digunakan dalam fitoremediasi ini. harus disesuaikan dengan zat pencemar yang akan dibersihkan.  Eceng gondok merupakan salah satu jenis tanaman yang  kerap dipakai dalam fitoremediasi.

KLIK INI:  Selama Pandemi Masker dan Sarung Tangan Menjadi Bencana Ekologis
  • Biostimulasi

Teknik bioremediasi yakni dengan merangsang aktivitas mikroba asli. Teknik biostimulasi ini dilakukan dengan cara penambahan nutrisi dan peningkatan kelembapan.

Tidak hanya itu ada pula pengaturan suhu lingkungan. ini bertujuan agar  pertumbuhan mikroba dapat meningkat.

Jika pertumbuhan mikroba meningkat, maka  proses biodegradasi bahan pencemar dapat lebih lekas terjadi.

  • Biosparging

Cara bioremediasi ini dilakukan dengan menyuntikkan oksigen ke dalam tanah. Oksigen yang disuntikkan itu bakal meningkatkan aktivitas bakteri aerob dalam tanah.

Biosparging biasa digunakan untuk membersihkan minyak dan senyawa aromatik seperti naftalena benzene, dan  toluene dalam tanah.

Nah, sahabat hijau, itulah sekilas tentang bioremediasi dan jenisnya, semoga bermanfaat !

KLIK INI:  Tanpa Disadari, Pakaian Kita Mencemari Lautan