Mengintip Cara Terbaik Menumbuhkan Kembali Hutan Tropis dengan Cepat

oleh -94 kali dilihat
Hari Hutan Sedunia, Saat Tepat Merawat Kesadaran akan Pentingnya Peran Hutan
Ilustrasi hutan/foto-Ist

Klikhijau.com – Hutan tropis telah terancam hilang. Pada tahun 2020 saja, World Resources Institute (WRI) melaporkan jika dunia telah kehilangan hutan tropis seluas negara Belanda.

Laporan dari WRI itu tentu saja mengkhawatirkan. Kehilangan berhektare-hektare hutan telah jadi salah satu pemicu perubahan iklim.

Mirisnya lagi, hutan yang telah terlanjur hilang itu. Tidak bisa secara instan berganti. Ia butuh waktu yang panjang, itu pun jika tak direcoki oleh campur tangan manusia.

Karena menurut studi terbaru  yang dipublikasikan di jurnal Science bahwa hutan tropis dapat tumbuh kembali secara alami dan relatif cepat.

KLIK INI:  Negara akan Beri Kompensasi pada Jasa Lingkungan, Begini Penjelasannya!

Namun, agar waktu yang dibutuhkan relatif lama untuk kembali bangkit. Menurut studi tersebut, dibutuhkan sekitar 20 tahun lamanya.

Membiarkan saja

Itu masih tergolong cepat, dan jika ingin agar tetap alami saat bertumbuh. Ada syarat yang harus dipenuhi, yakni  dibiarkan begitu tak tersentuh oleh tangan-tangan manusia.

Klaim itu tentu memberi memberi dunia harapan dalam upaya memulihkan hutan yang bermasalah selama ini. .

Para peneliti meninjau data hutan dari tiga benua dalam pendekatan multidimensi. Menariknya penelitian tersebut tidak dilakukan satu orang atau atau tim. Namun, dilakukan oleh tim ilmuwan dari seluruh dunia.

Berkat pemodelan presisi tinggi, mereka menentukan bahwa sebagian besar aspek hutan tropis, termasuk tanah , pohon, dan organisme hidup, dapat dipulihkan ke keadaan alaminya seiring waktu.

Mereka (para peneliti) mengatakan bahwa temuan tersebut membuktikan belum terlambat untuk memperbaiki kesalahan yang menyebabkan perubahan iklim.

KLIK INI:  Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kesehatan Anak?

Lourens Poorter yang merupakan seorang profesor ekologi fungsional di Universitas Wageningen di Belanda dan juga penulis utama studi tersebut menuturkan, waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan hutan-hutan ini realistis dan praktis. Berita terbaik? Hutan tropis dapat kembali ke 78 persen dari status pertumbuhan lama mereka dalam 20 tahun.

“Tentu menjadi kabar baik karena implikasinya adalah 20 tahun. Hal itu adalah waktu yang realistis yang dapat saya pikirkan, dan putri saya dapat pikirkan, dan bahwa pembuat kebijakan dapat memikirkannya,” ujar Poorter.

Para peneliti mencatat bahwa membiarkan hutan tumbuh kembali akan bermanfaat dalam banyak hal. Selain mengurangi efek samping deforestasi, ini juga membantu memulihkan dan mempertahankan keanekaragaman hayati asli hutan.

Poorter juga mengungkapkan bahwa jika dibandingkan dengan menanam pohon baru, maka dengan membiarkannya, kinerjanya jauh lebih baik dalam hal keanekaragaman hayati , pemulihan nutrisi, dan mitigasi perubahan iklim.

KLIK INI:  British Council Luncurkan “The Climate Connection”, Dukung Upaya Atasi Perubahan Iklim
Data dari 77 situs

Para ilmuwan melihat data dari 77 situs di tiga benua di zona tropis. Lebih dari 2.275 bidang tanah di Amerika dan Afrika Barat dianalisis. Para peneliti mengamati area hutan tertentu untuk menentukan waktu yang dibutuhkan untuk pemulihannya.

Dalam analisis mereka, para ahli menemukan bahwa tanah dapat pulih dalam 10 tahun atau kurang. Keanekaragaman hayati tumbuhan dan hewan dapat pulih dalam waktu sekitar 60 tahun.

Secara keseluruhan, mereka menemukan bahwa dibutuhkan waktu hingga 120 tahun untuk memulihkan biomassa di beberapa daerah.

Para peneliti sekarang mendesak para pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan pilihan untuk melindungi kawasan hutan dan membiarkan lahan terdeforestasi untuk diremajakan.

Menurut Poorter, tak ada yang harus diadvokasi, yang dibutuhkan adalah menghargai hutan sekunder itu, dan di area yang kita bisa dengan membiarkan hutan tropis  tumbuh kembali secara alami, tanpa perlu ada ikut campur tangan manusia.

KLIK INI:  SMK Kehutanan Makassar Mewisuda 97 Siswa Berwawasan Lingkungan

Sumber: inhabitat