Leko Kole, Cara Alumni IKAMAYA Membayar Kebaikan Alam

oleh -273 kali dilihat
Leko Kole, Cara Alumni IKAMAYA Membayar Kebaikan Alam
Temu Akbar Alumni IKAMAYA-foto/FYAS

Klikhijau.com Alumni Ikatan Mahasiswa Manggarai Raya Yogyakarta (IKAMAYA) mengadakan kegiatan Akbar Temu Alumni pada tanggal 30 April 2022 sampai dengan tanggal 1 Mei 2022, bertempat di Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Peserta sebanyak 150orang,  berasal dari Manggarai,Manggarai Barat dan Manggarai Timur yang tinggal diberbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan temu akbar alumni IKAMAYA berlangsung meriah. Penuh persahabatan dan air mata, mengenang kasih dan kisah perjuangan selama berada di Yogyakarta. Suka duka dilalui bersama. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing, mewarnai kebersamaan selama di Yogyakarta. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh menjadi fondasi dasar berdirinya IKAMAYA. Di sana para alumni berjuang meraih cita-cita dan cinta.

Agenda pembuka pertemuan Alumni IKAMAYA diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Rm. Charli Krowa Pr. Dalam perayaan ini ucapan syukur, doa dan permohonan serta nyanyian merdu didasarkan kepada Sang Khalik. Berterima kasih kepada  empunya kehidupan yang menyertai para alumni hingga saat ini.

KLIK INI:  Mengintip Cara Keren Pelindo Group Jaga Lingkungan Tetap Hijau

Dalam perayaan Kudus itu, mereka juga berdoa untuk para alumni dan keluarga alumni yang sakit, agar dianugerahi kesembuhan dan yang telah berpulang ke pangkuan ilahi, diberikan peristirahatan kekal.

Usai perayaan Ekaristi tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan acara ramah tamah, mengenang kembali saat bersama di Yogyakarta. Halaman hotel Luansa Labuan Bajo, menjadi saksi merdunya suara para Alumni IKAMAYA, puisi-puisi menggugah nurani, merekatkan rasa persahabatan dan mempererat rasa persaudaraan.

Selanjutnya, pada tanggal 1 Mei 2022, para Alumni IKAMYA melepas penat, mengubur lara dan menuai asa dengan mengunjungi daerah wisata Batu Cermin dan Puncak Waringin.

Agenda penting; Menanama pohon

Satu agenda penting dalam kegiatan temu Akbar Alumni IKAMAYA  adalah kegiatan penanaman pohon di hutan Kota Labuan Bajo. Mereka menanam sebanyak 200 bibit pohon kayu Salam/mes.

Ketua IKAMAYA sekaligus ketua Badan Keahlian DPR RI, Dr.InosentiusSamsul mengapresiasi semangat Alumni IKAMAYA dalam kegiatan reuni Akbar tersebut.

KLIK INI:  4 Fakta Menarik Perihal Hutan Kota sebagai Pengendali Polusi Udara

“Kegiatan ini diharapkan akan memberikan kontribusi positif bagaimana alumni IKAMAYA dan masyarakat secara umum tetap menghargai,menghormati dan mencintai lingkungan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, IKAMAYA memiliki tanggung jawab dalam merawat dan melestarikan lingkungan, dengan cara menanam pohon. “Semoga kegiatan tanam pohon ini menjadi gerakan bersama semua pihak dalam rangka mengantisipasi perubahan iklim dan pemanasan global,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Ketua Panitia Ibu Ondik Ndagu, menurutnya, penanaman pohon merupakan wujud nyata kepedulian IKMAYA terhadap lingkungan.

Ia berharap, alumni IKAMAYA menjadi penyelamat lingkungan dengan menanamkan pohon di tempat tinggalnya masing-masing.

Tentang leko kole

Sementara itu, Seksi Kegiatan Penanaman pohon, Yuvens Janggat menjelaskan, IKAMAYA merupakan ikatan keluarga pelajar dan mahasiswa Manggarai Raya(Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur) yang pernah menempuh pendidikan di Yogyakarta. IKAMAYA berdiri sejak tahun 1950.

Dikatakannya, bertepatan dengan diselenggarakannya reuni Akbar 2022 , IKAMAYA menentukan satu sikap dalam mendukung pengurangan pemanasan global dan mengantisipasi perubahan iklim dengan cara menanam pohon.

“Untuk itu semua peserta sepakat melakukan aksi nyata menanam pohon. Setelah mendapat persetujuan dari pemerintah Manggarai Barat, maka lokasi penanaman pohon dilaksanakan di Hutan kota Labuan Bajo,” jelas Yuvens.

KLIK INI:  WEA Gelar Pemilihan Perempuan Pejuang Lingkungan 2020, Ayo Daftar!

Ketua LSM Sejahtera Desaku itu memaparkan, para alumni IKAMYA sepakat bahwa gerakan menanam pohon mengusung tema dalam bahasa Manggarai yaitu “Leko Kole”, Leko= Membayar, bayar, dibayar, sedangkan Kole=Kembali, mengulang, ulang, sehingga  Leko Kole berarti membayar kembali atau dalam konteks kegiatan alumni IKAMAYA berarti membayar kembali, membalas jasa alam dan lingkungan dengan menanam pohon.

Yuvens mengatakan, Leko Kolemerupakan hasil refleksi para alumni IKAMAYA. “Banyak pohon yang ditebang untuk membuat rumah para alumni, sudah saatnya di bayar kembali ke alam dengan cara menanam pohon,” tegasnya.

Alasan di balik penanaman pohon salam

Dijelaskannya, para alumni memilih menanam sebanyak 200 bibit pohon salam.   Mengapa harus pohon salam?, Pohon salam memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Selain  menghasilkan oksigen, kayu dan daun salam, dijadikan bumbu dapur, bahkan daunnya bisa dibuat teh, sedangkan kulit pohonnya bisa digunakan untuk mewarna tekstil.

“Buah pohon salam juga merupakan sumber makanan bagi burung dan beberapa binatang hutan,” ujar Yuvens.

Ia melanjutkan, dalam pelaksanaan penanaman pohon. Para alumni menggunakan teknologi tanam hemat air. Bahan yang digunakan ialah popok bayi atau pampers atau biasa dikenal dengan sebutan diapers. Popok bekas pakai ini, kata dia, sebagai medium untuk merubah sifat air dari mudah mengalir menjadi  tidak mudah mengalir.

KLIK INI:  Lelaki yang Berjalan di Atas Air, Adakah?

Yuvens memaparkan, Popok yang sering digunakan adalah popok sekali pakai. Karena sekali pakai maka setelah dipakai dibuang di tempat sampah. “Semakin tinggi angka kelahiran maka semakin tinggi popok bayi yang digunakan, semakin tinggi popok yang digunakan maka semakin tinggi juga sampah yang dihasilkan,” jelasnya.

Selanjutnya, kata dia, untuk mengurangi  jumlah sampah dari popok bayi, maka popok bayi harus dimanfaatkan sebagai alternatif media tanam. “Kandungan yang ada pada limbah popok bayi, bisa kita olah kembali agar limbah popok bayi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alternatif media tanam,” ucapnya.

Popok bayi, kata dia, memiliki kandungan hydrogel, yaitu gel yang dapat menyerap air atau menyimpan air. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai alternatif media tanam, agar lebih lembap atau mampu menyimpan air, dalam waktu cukup lama dan baik untuk tanaman.

KLIK INI:  Bantuan Perawatan Satwa Mengalir ke Lembaga Konservasi