5 Puisi Goenawan Monorharto tentang Virus Corona yang Menggugah

oleh -29 kali dilihat
5 Puisi Goenawan Monorharto tentang Virus Corona yang Mengugah
Goenawan Monoharto-foto/Ist

Klikhijau.com – Awal kedatangan virus Corona di Indonesia. Menghadirkan rasa cemas yang dalam. Semua aktivitas di luar rumah terjeda.

Berbagai cara dilakukan masyarakat menghadapinya. Banyak yang stres, namun tidak sedikit pula yang menyikapinya dengan kreatifitas, penyair dan teaterawan, Goenawan Monorharto salah satunya.

Goenawan menghadapi dan menyikapi virus corona dengan cara kreatif, yakni dengan menciptakan puisi dan menerbitkannya menjadi sebuah buku, judulnya Dansa Bersama Corona.

Kumpulan puisi Dansa Bersama Corona itu terbilang unik, karena disertai dengan sketsa yang dibuat oleh Ishakim.

Buku tersebut diterbitkan oleh lelaki kelahiran Makassar, 21 Maret itu, pada Mei 2020 lalu. Berikut 5 puisi lelaki yang juga berprofesi sebagai seniman fotografer dan penenerbit serta mantan jurnalis tersebut:

KLIK INI:  Meneguk 5 Puisi M Anis Kaba dari Nyanyian Alam

Hari Jadi Dewi di Tahun Corona

 

dari lantai atas
jendela terbuka
matahari telanjang
melihat kota bersih
sunyi jalan-jalan pernah kau lalu

kuingatmu di dapur
bergelut dengan katombo selat makassar
asam dari dataran bukit camba
kunyit buluk dua
garam jeneponto
berpadu dalam kuali
biar kupanggilmu
pallumara

mana luna usi
katakan padanya
jumpa-jumpa ditunda
sampai waktu belum ditentukan

12 april 2020
Hal 34

KLIK INI:  Corona Ubah Perilaku Berkendara Warga Filipina Jadi Ramah Lingkungan

Gugus 1

; pemedis di garis depan

 

mengunyah takut
sepotong-sepotong
masuk pada paru
sesak hati sungguh
seperti tiada asa
sampai pada tepi
mengguncang jiwa
raga terperagah
saat debar melihat
korban runtuh membujur

apa kan terjadi esok
bila matahari masih terbit di timur
muram buram duka dipandang
sesempat detak detik
tiada tanya tentang lelah
bertahan di gunung batu perlindungan
tempat selamat orang-orang percaya
sebagai rajawali penunggang topan
atas petaka kehancuran

jadi laki-laki
laki-laki berperisai
satria penunduk wabah
corona virus

22 maret 2020
Hal: 10

KLIK INI:  Mencegah Pandemi dan Menghemat Biaya dengan Cara Melindungi Satwa Liar

Dansa Bersama Corona

 

di lantai dansa aku bersamamu berputar
saling dekap dalam musik romansa
betapa melupa prahara petaka wabah
mendera waktu seakan tak pernah selesai
kesunyian masa baru saja usai

pintu-pintu terbuka lebar
pemandangan tampak indah di luar
langit biru awan kapas tanpa asap
sungai-sungai mengalir air
pohon-pohon hijau basah
lereng-lereng penuh gairah
sehabis hujan jelang petang
pertengahan tahun sungguh mempesona
musim mulai kemarau

perempuan jelita corona namamu
kutemukan semalam tanpa piama
tak tahu pulang sesat dalam lelap tidur
sepakat ini bukan mimpi
kelak terang tanah kuantar pulang

di lantai dansa aku memelukmu
bergerak tiada henti saling membisik
dengan kata rahasia

12 mei 2020
Hal: 62

KLIK INI:  Patok di Tengah Petak Sawah

 Berita Akhir Pekan

 

gerimis memburu burung-burung
sampai ke sarang di bukit-bukit batu
sebelum melihat matahari redup
pagi enggan mengusai mimpi

kaukah itu tuan?
di meja tanpa sarapan
duduk dengan mata kosong
koran tak terbit hari ini
kertas kabar habis dirakus
debu virus

berita terkini
udara keder
melihat lalu lalang
orang-orang kota
tidak takut pada dingin jenazah
basah tanah makam

25 april 2020
Hal: 34

KLIK INI:  Juli Tak Mengirim Penanda

 Paranoia

 

corona mata kecoa raksasa
berbulu belati tajam mengiris tipis jiwa
corona mesin pembunuh nomor 1
di masa kepongahan hedonis milineal
corona ada di setiap sudut nafas
menyusut tubuh memutasi menuju tiada

berjam-jam menonton diri sendiri
corona membegal habis
depan para pencinta
di ruang-ruang virtual

mati
sebelum kematian

14 mei 2020
Hal: 63

Nah, itulah 5 puisi tentang virus Corona dari Goenawan Monoharto yang terangkum dalam buku Dansa Bersam Corona. Jika sahabat hijau ingin menikmati bukunya, bisa langsung menghubungi penulisnya atau penerbit Garis Katulistiwa Makassar yang menerbitkannya.

KLIK INI:  Menikmati Pepuisi Syahriar Tato tentang Salju dalam Dua Bahasa