Kue Leluhur yang Paling Tinggi itu Bernama Kopi Langi’

oleh -17 kali dilihat
Kue kopi langi'
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Kue apa yang paling tinggi?. Pertanyaan itu kerap mewarnai setiap  permainan tebak-tebakan atau teka-teki di kampung saya.  Dan jawabannya adalah kopi langi’. Alasannya karena ada kata langi’ (langit).

Perihal kopi langi’, beberapa hari yang lalu,  saat kita chatingan. Saat  jarum jam sedang tersendat-sendat menuju angka enam. Kau bertanya apa menu buka puasa yang akan “membatalkan” puasa saya.

“Apa menu buka puasanya hari ini?” tanyamu.

“Kopi langi’,” balasku.

“Apa itu?”

“Ini,” balas saya lagi disertai dengan foto penganan atau kue sederhana.

“Kayaknya enak,” balasmu

“Sudah pasti, ini kue leluhur,” balas saya dengan emoticon ketawa.

Tidak salah jika saya katakan kopi langi’ itu enak. Karena memang  demikian adanya. Pun tidak keliru jika kugelari sebagai kue leluhur.

Kopi langi’ merupakan kue yang mudah dibuat. Bahannya tidak banyak. Begitu pula peralatan yang digunakan.

Bahan yang digunakan jika hendak membuat kopi langi’ sama  dengan onde-onde atau umba-umba, yakni beras ketan, kelapa parut dan gula merah. Namun, untuk kopi langi’,  bisa menggunakan gula pasir.

Penuh kenangan

Saya memiliki kenangan yang cukup kuat perihal kue sederhana ini. Dulu, sewaktu saya Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS) sekarang  Ujian Akhir Nasional di Madrasah Tsanawiyah. Kopi langi’ menjadi sarapan wajib sebelum melangkah ke tempat EBTANAS.

Kue itu  dimasak oleh guru kami,  lalu paginya di hari pertama EBTANAS, semua siswa diwajibkan memakannya.

Itu adalah tradisi turun temurun di sekolah saya dulu. Saat  itu tempat EBTA dan EBTANASnya difokuskan di Bonto Macinna, Kecamatan Gantarang, Bulukumba. Di Bonto Macinna itulah, semua MTs  se Kabupaten Bulukumba berkumpul untuk mengikuti EBTANAS bagi siswa kelas tiga.

Jadi bisa dibayangkan, betapa ramainya masa EBTANAS saya dulu. Dan perihal kopi langi’ yang harus kami makan sebelum berangkat ke medan “perang” di hari pertama. Jujur hingga kini saya belum temukan alasannya. Saya juga tak pernah bertanya.

Saya hanya menduga-duga begini, agar nilai siswa yang mengikuti  EBTANAS bisa setinggi langit atau agar kami para siswa memiliki kenangan yang kental terhadap guru dan sekolah kami, seperti kopi langi’.

Apa pun tujuannya, saya merasa bersyukur pernah mengalami ritus tersebut. Karena saya punya kenangan yang cukup manis, semanis gula yang ditabur di atas kopi langi’ yang masih mengepul.

Proses pembuatan

Membuat  kue, kue apa pun itu dan bagaimana pun bentuknya yang perlu disiapkan dan dibutuhkan adalah bahan. Sama halnya dengan kopi langi’. Namun, kue ini memilki bahan yang minim dan cara membuatnya pun tidaklah rumit.

Bahan yang dibutuhkan adalah beras ketan, gula merah bisa juga gula pasir,  kelapa parut, dan  air secukupnya.

Bagaimana caranya membuatnya? Caranya simple saja, pertama-tama basahi  tepung beras ketan dengan air. Pastikan tidak encer agar mudah dibentuk. Setelah berubah jadi adonan. Ambil secukupnya lalu bentuk bulatan kecil. Setelah itu tekan bagian tengahnya  dengan satu jari. Terserah mau pilih jari yang mana. Namun, yang umum digunakan adalah jari telunjuk atau ibu jari.

Setelah terbentuk, masukkan ke dalam air yang mendidik. Tunggu hingga mengapung, setelah mengapung angkat karena itu tandanya telah masak.

Langkah selanjutnya tiriskan agar airnya bisa hilang. Kemudian tuang pada parutan kelapa. Upayakan agar semua “tubuh” kopi langi tadi tersaput parutan kelapa.

Hal yang perlu dilakukan selanjutnya    adalah mendidihkan  gula merah (tambahkan sedikit air) agar gulanya tida k gosong. Setelah gula mencair, biarkan dingin. Lalu tuang gulanya di atas kopi langi’

Pilihan lainnya adalah cukup mengiris-iris kecil gula merah kemudian taruh di atas kopi langi’ yang telah berbalut kelapa parut dan sudah ditata rapi di atas piring.

Jika  ingin merasakan sensasinya, santap kopi langi’ ketika masih masih hangat. Paling pas jika ditemani segelas kopi.

Tertarik membuatnya? Selamat mencoba!