Kebiasaan Ramah Lingkungan yang Patut Ditiru dari Dua Aktivis Perempuan di Bulukumba

oleh -243 kali dilihat
Kebiasaan Ramah Lingkungan yang Patut Ditiru dari Dua Aktivis Perempuan di Bulukumba
Basma dan Rifa, aktivis perempuan di Bulukumba - Foto/Ist
Uni Kurnia

Klikhijau.com – Perempuan dan bumi merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Mungkin bukan kebetulan pula sehingga hari Kartini berdekatan dengan hari bumi.

Dengan berbagai keunikannya, perempuan dalam rumah tangga memiliki pengaruh dalam mewujudkan kebahagiaan dan keutuhan keluarga. Perempuan dengan label istri dan ibu dalam keluarga, mengemban amanah yang sangat besar.

Mereka harus menjadi parnert bagi suami dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Juga akan menjadi madrasah pertama bagi keturunannya. Mereka akan menjadi pendidik abadi untuk generasi-generasi baru, demi kehidupan mendatang.

Bukan hanya di dalam rumah tangga, perempuan juga memiliki peran penting dalam lingkungan sosialnya. Peran perempuan dalam masyarakat tidak boleh dianggap sepele, mereka memiliki kedudukan yang setara dalam segala aspek kehidupan, termasuk di bidang lingkungan.

Singkat kata, peran perempuan dalam perubahan sangat penting. Mereka dapat menjadi contoh untuk komunitasnya, bahkan dalam masyarakat. Di Bulukumba Sulawesi Selatan, ada sejumlah aktivis perempuan yang sekaligus menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dalam keseharian.

Siapa mereka dan apa aksinya?

KLIK INI:  2 Inovasi KLHK Raih Penghargaan Inovasi Pelayanan Publik 2019
Rifa Kinanggi, Ketua Komunias Sepedawati

Rifa Kinanggi (38), seorang perempuan aktif yang juga ketua komunitas Sepedawati di Kabupaten Bulukumba. Bagi Rifa, bumi yang dihuni adalah warisan bagi anak cucu.

Olehnya itu, perwujudan dari semangat emansipasi wanita yang diperjuangkan oleh RA Kartini di masa kini khsususnya terkait isu lingkungan adalah agar segenap kaum perempuan dapat turut berpartisipasi secara aktif pada berbagai upaya pelestarian alam.

“Dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut membantu memperbaiki ekosistem alam ini, bisa diimulai dari diri sendiri. Sebisa mungkin setiap individu mampu menjaga kebersihan lingkungan,” tuturnya.

Rifa juga menyarankan pentingnya perempuan ikut andil dalam mengurangi atau bahkan menghindari penggunaan barang non reusable yang berbahan dasar plastik. Kegiatan ini bisa menjadi kebiasaan yang positif jika dilakukan secara intens.

Terpenting kata Rifa adalah mengupayakan membiasakan diri melakukan gerakan penghijauan. Tak harus dengan tanah yang luas dan lapang. Selagi ada niat dan tekad yang bulat demi melestarikan alam, kita bisa membuat penghijauan di pekarangan rumah.

Paling utama, sebagai perempuan yang memiliki waktu dan keahlian khusus dalam rumah tangga, agar dapat sebisa mungkin melakukan upaya-upaya pemilahan sampah. Agar dapat menemukan limbah yang bisa didaur ulang.

“Kalau kak Rifa sih terbiasa bawa tumbler saat keluar rumah. Selain itu, saya mulai menggunakan pembalut kain yang dapat digunakan berulang kali. plus membiasakan diri membawa kantong belanja sendiri,” jelasnya saat diwawancarai via whatsapp.

KLIK INI:  Kisah Ambo Dalle di Sinjai, Meraup Untung Selama Pandemi dengan Berburu Madu Hutan
Basmawati Haris, Pegiat Literasi dan Pendiri Osoji Club

Satu lagi, perempuan inspiratif dari Bulukumba. Namanya Basmawati Haris (27). Pendiri Bulukumba Osoji Club ini, selain aktif dalam visi literasi juga tangguh dalam ragam kegiatan lingkungan.

Baginya peran perempuan sangat penting dalam menjaga lingkungan. Hal ini, tak harus dilakukan diluar rumah, demi tujuan mengajak orang lain untuk ikut dalam mencintai lingkungan.

Namun, hal dasar yang paling dekat dan mudah dilakukan adalah memulai segalanya dari diri sendiri. Dengan membiasakan diri memilah sampah dari rumah. Sebab sampah dapur yang setiap hari diproduksi oleh perempuan atau kebanyakan ibu rumah tangga, pasti memiliki ragam jenisnya.

Dari yang basah hingga sampah kering. Dari limbah berbahan kaca, hingga yang berbahan dasar plastik sekali pakai.

Tugas perempuan adalah bagaimana memilah, mendaur ulang dan menjadikan sampah rumah tangga bisa menghadirkan nilai jual. Tindakan ini terdengar sederhana tapi tanpa sadar, perilaku ini berdampak besar dan luas dimasa depan elak. Jika dilakukan secara konsiten.

KLIK INI:  Inovasi Alat Makan dari Gandum, Sebuah Upaya Selamatkan Lingkungan

Menurut perempuan kelahiran, Bulukumba 23 Maret 1994 itu, perempuan masa kini harus mengadopsi semangat militan Kartini.

Selain memilah sampah, kata Basma, perempuan juga dapat aktif berkebun atau menanam bunga di pekarangan rumah. Ini sangat baik untuk akses pangan keluarga.

Basma juga termasuk aktivis perempuan yang banyak kampanyekan penggunaan pembalut kain yang ramah lingkungan. “Kita tak mesti lagi membeli pembalut plastik setiap bulannya. Selain itu, kita juga bisa menjadi garda terdepan mengurangi jumlah pasokan sampah plastik yang bersumber dari pembalut,” katanya.

Dalam hal ini, setiap tahunnya, perempuan menyumbang ribuan sampah plastik di TPA. Dimana telah kita ketahui bersama bahwa sampah plastik merupakan limbah yang butuh waktu bertahun-tahun agar bisa terurai.

“Pembalut kain bisa dipakai berulang kali. Keputusan mempersembahkan pembalut kain yang ramah lingkungan ini adalah simbol komitmen cinta kasih. Membantu sesama perempuan juga menjadi langkah menyelamatkan bumi,” jelas leader World Clean Up Day (WCD) Bulukumba itu.

KLIK INI:  Cerita Rahmawati, Menyulap Eceng Gondok Jadi Aneka Kerajinan Berharga