Mangrove sebagai Pelindung Alami Garis Pantai

oleh -49 kali dilihat
Mangrove sebagai Pelindung Alami Garis Pantai
Proses penyulaman bibit mangrove-foto/Ist
Dr Abdul Motalib Angkotasan

Klikhijau.com – Perubahan garis pantai terjadi karena adanya tekanan dari lautan dan daratan. Garis pantai berubah karena adanya pengikisan atau abrasi, dan adanya sedimentasi. Abrasi mengurangi masa daratan sedangkan sedimentasi berpotensi menambah masa daratan ke arah laut.

Tumpukan sedemina dapat menciptakan pendangkalan, dalam jangka waktu yang lama akan muncul sebagai masa daratan. Untungnya, ada ekosistem terumbu karang, ekosistem lamun dan ekosistem mangrove yang menjadi pemecah gelombang alami (nature break wave).

Energi gelombang yang bergerak dari laut lepas menuju pantai mampu diredam secara perlahan, sehingga tidak membahayakan kerusakan wilayah pesisir.

Ekosistem utama wilayah pesisir dan laut terdiri dari ekosistem terumbu karang, ekosistem lamun dan ekosistem mangrove (bakau). Ketiga eksositem ini saling terkait satu sama lain, memiliki konektvitas buat membangun ekosistem wilayah pesisir dan laut secara bersamaan. Punya fungsi dan peran yang sangat penting ditengah dinamika perubahan iklim.

Sayangnya dewasa ini banyak sekali tekanan yang mengakibatkan kehancuran ekosistem. Pasalnya, kesadaran akan pentingnya peran dan fungsi ketiga ekosistem ini terabaikan dalam berbagai diskursus pengambilan kebijkana. Alhasil, mangrove ditebang untuk alifungsi kawasan industri, pertambakan, reklamasi pantai dan lain-lain. Padahal vegetasi mangrove ini selain sebagai penyedia flasmanutfah, juga sebagai penyerap karbon buat menekan dampak pemanasan global berupa efek gas ruma kaca (GRK).

KLIK INI:  Meriah, Pengurus Filatelis Indonesia Sulsel Tanam Mangrove di Lantebung

Vegetasi mangrove merupakan ekosistem hutan di wilayah pesisir. Memiliki berbagai macam jenis, mulai dari Avicenia spp (api-api), Bruguiera spp, Ceriops spp, Soneratio spp, Rhizopora spp, Xilocarpus dan Nypa.

Terdapat 12 spesies bakau dengan bentuk perakaran yang berbeda-beda. Setiap sistem perakran memiliki fungsi yang berbeda, akar nafas (pneomatofora) misalnya berfungsi sebagai suplay oksigen bagi mangrove Bruguiera spp. Avicenia, Soneratia dan Xilocarpus dengan akar cakar ayam sangat efektif sebagai peredam energi gelombang.

Pertanyananya, apa peran dan fungsi vegetasi mangrove di pesisir pantai? Seberapa penting vegetasi mangrove untuk kehidupan manusia?

Fungsi ekologi mangrove

Prof. Dr. Dietriech G Bengen, DEA (2004) dalam bukunya sinopsis ekosistem dan sumberdaya alam pesisir dan laut serta prinsip pengelolaannya menjelaskan bahwa ekosistem mangrove punya empat fungsi utama. Sebagai tempat pemijahan (Spawning ground), tempat pengasuhan dan tumbuh besar (nursery ground), dan tempat mencari makan (feeding ground) bagi beragam biota yang berasosiasi di dalam ekosistem mangrove.

Mangrove menyediakan berbagai jenis biota laut seperti ikan, udang, kepting dan kimah yang dapat dipanen buat pemenuhan kebutuhan manusia. Noor et al (2006) menjabarkan dalam bukunya panduan pengenalan mangrove di Indonesia bahwa hutan bakau menjadi tempat berlindung dan berkembang biak ikan, udang dan kepiting.

Di pepohonan mangrove tumbuh berkembang berbagai satwa seperti burung, monyet dan lain-lain. Sistem perakaran mangrove menjadi pengumpul lumpur dan pencegah erosi pantai.

Vegetasi mangrove mampu melindungi perairan dari ancaman sedimentasi yang tinggi dan masuknya material dari daratan (run off). Masuknya material daratan ke perairan berpotensi menyebabkan pencemaran perairan yang berakibat pada kehancuran ekosistem lamun dan mangrove.

KLIK INI:  Manggala Agni dari Sulawesi Menuju Bali-Tanggerang, Merah Putih tetap Berkibar

Fungsi mitigasi

Noor et al (2006) menjelaskan bahwa Mangrove memiliki peranan penting dalam melindungi pantai dari gelombang, angin dan badai. Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman, bangunan dan pertanian dari angin kencang atau intrusi air laut. Mangrove juga terbukti memainkan peran penting dalam melindungi pesisir dari gempuran badai.

Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur, pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus, sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen (Davies and Claridge, 1993 dan Othman, 1994).

Kemanfaatan untuk manusia

Batangnya digunakan sebagai bahan bangunan dan kayu bakar. Meskipun pemanfaatan ini tidak disarankan, karena jika diambil secara berlebihan akan merusak dan menghilankan fungsi utama ekosistem mangrove. Degradasi vegetasi tidak terhindarkan dan berujung pada menurunnya berbagai peran dan fungsi mangrove.

Masyarakat pesisir memanfaatkan daun Nypa sebagai bahan baku pembuat atap untuk kebutuhan pembangunan rumah. Industri tekstil juga butuh bahan pewarna yang bersumber dari mangrove (bakau). Sementara masyarakat pesisir di pulau kecil memanfaatkan beberapa jenis magrove sebagai bahan obat-obatan. Nypa juga diolah sebagai minuman berupa tuak dan menjadi bahan baku pembuatan gula dari nypa.

KLIK INI:  Jangan Pulihkan Ekosistem Mangrove Hanya dengan Menanam!

Masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan budidaya, memanfaatkan kawasan mangrove sebagai tempat budidaya kepiting rajungan, udang dan ikan. Jika proses pemanfaatan ini mau dilakukan, perlu memperhatikan daya daukung ekosistem mangorve sehingga tidak berdampak pada kerusakan ekosistem. Pasalnya, alih fungsi lahan mangrove untuk budidaya di berbagai lokasi di Indonesia terbukti memberikan dampak negatif terhadap keberlanjutan ekosistem mangrove.

Artikel singkat ini diharapkan menjadi referensi bagi pengambil kebijakan terutama kepala daerah di seantero Maluku Utara. Mari bersama membangun gerakan meletarikan ekosistem mangrove untuk keberlanjutan sumberdaya pesisir dan laut.

Gerakan ini butuh turun tangan semua pihak, pemerintah bersama LSM dan masyarakat sipil perlu punya cara pandang yang sama. Ekosistem mangrove harus diselamatkan. Jika ada industri ekstraktif tambang yang masuk, maka pemerintah harus memastikan bahwa ekosistem mangrove tidak ditebang untuk kepentingan industri tersebut. Pasalnya, tambang akan berhenti beroperasi pada batas waktu tertentu, akan tetapi kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung pada ekosistem mangrove akan terus berlanjut dari generasi ke generasi. Artinya, kehancuran ekosistem mangrove hari ini adalah alaram bagi kehancuran masa depan generasi pesisir.

KLIK INI:  Merancang Transisi Teratur Dunia Nol Bersih 2050