Dwikorita: Perubahan Iklim Global itu Nyata, Bukan Hoax

oleh -14 kali dilihat
Memahami Krisis Iklim dan Penyebabnya, Ayo Ambil Peran untuk Bumi!
Ilustrasi perubahan iklim - Foto/Ist

Klikhijau.com – Perubahan iklim semakin nyata. Dampaknya pun semakin mengkhawatirkan. Hal tersebut diakui oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati,

Dampak perubahan iklim menurut Dwikorita, tidak hanya mengintai Indonesia, tetapi juga bagi seluruh komunitas internasional.

Dalam Rapat Nasional Prediksi Musim Kemarau 2024 beberapa waktu lalu, Dwikorita mengatakan, peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, akibat dari pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan praktik industri yang tidak berkelanjutan, telah mendorong perubahan iklim pada kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Perubahan iklim global  bukanlah kabar bohong atau hoax  dan prediksi untuk masa depan. Namun, perubahan iklim adalah realitas yang dihadapi miliaran jiwa penduduk bumi. Karenanya, fenomena tersebut tidak bisa dianggap sebagai sebuah persoalan sepele,” katanya dinukil dari laman resmi BMGK.

KLIK INI:  Sri Mulyani Ungkap Indonesia akan Alami Dampak Perubahan Iklim yang Luar Biasa

Dwikorita juga menerangkan, Badan Meteorologi Dunia (WMO) baru saja menyatakan bahwa tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang pengamatan instrumental. Anomali suhu rata-rata global mencapai 1,40 derajat Celcius di atas zaman pra industri.

Angka ini, kata Dwikorita, nyaris menyentuh batas yang disepakati dalam Paris Agreement tahun 2015 bahwa dunia harus menahan laju pemanasan global pada angka 1,5 derajat Celcius. Pada tahun 2023, terjadi rekor suhu global harian baru dan terjadi bencana heat wave ekstrem yang melanda berbagai kawasan di Asia dan Eropa.

Dwikorita juga menjelaskan, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) baru saja menyatakan tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas berdasarkan pengamatan instrumental.

Suhu rata-rata global meningkat secara tidak normal sebesar 1,40 derajat Celcius dibandingkan dengan periode pra-industri.

KLIK INI:  Analisis Pakar: Selain Kebijakan, 3 Hal Ini Perlu Dilakukan Menangani Hulu Sungai Bermasalah

Dwikorita mengatakan angka tersebut hampir mencapai batas atas yang disepakati dalam Perjanjian Paris 2015 bahwa dunia harus membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius. Pada tahun 2023, suhu global akan mencapai rekor baru, dan banyak wilayah di Asia dan Eropa akan mengalami gelombang panas ekstrem.

“Rekor iklim yang terjadi di tahun 2023 bukanlah kejadian acak atau kebetulan, melainkan tanda-tanda jelas dari pola yang lebih besar dan lebih mengkhawatirkan yaitu perubahan iklim yang semakin nyata,” imbuhnya.

Ia juga menekankan, perlu langkah atau gerak bersama seluruh komponen masyarakat, tidak hanya pemerintah, namun juga sektor swasta, akademisi, media, LSM, dan lain sebagainya.

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, perubahan iklim berdampak besar terhadap bumi dan seluruh makhluk hidup di dalamnya.

KLIK INI:  Perubahan Iklim Gugah Pelaku Musik di Inggris Bersatu

Dikatakannya, berbagai sektor akan sangat berdampak, terutama sektor pertanian sehingga mengancam ketahanan pangan seluruh negara

“Perubahan iklim menjadi tanggung jawab bersama. Karenanya perlu upaya bersama dan berkelanjutan untuk menahan lajunya dan mengurangi dampaknya,” imbuhnya.

Pentingnya akurasi prakiraan iklim yang tepat

BMKG, menurut Dwikorita terus berkomitmen untuk terus menjaga Indonesia dengan sajian informasi iklim yang tepat dan akurat.

Akurasi prakiraan iklim yang tepat, menjadi fondasi banyak kebijakan tepat sasaran pada level nasional maupun level daerah yang telah diterapkan oleh banyak sektor seperti pertanian, sumber daya air, kehutanan, kesehatan, kebencanaan dan lain sebagainya.

KLIK INI:  Ingat, Membuang Sampah di Gowa Hanya 6 Jam, Ini Jadwalnya!

Di tahun 2023, lanjut Dwikorita, BMKG berhasil menginfokan secara dini potensi El Nino yang menyebabkan dampak cukup signifikan secara nasional. Informasi tersebut dijadikan pijakan pemerintah pusat dan daerah dalam mengambil kebijakan guna meminimalisir risiko yang ditimbulkan El Nino tersebut.

“InsyaAllah, kinerja dan capaian-capaian BMKG melalui Kedeputian Klimatologi dan UPT Klimatologi di daerah dapat tetap dipertahankan dan ditingkatkan untuk kemanfaatan masyarakat dan negara,” ujar Dwikorita.

Sementara itu, Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab mengatakan, untuk mencapai target kinerja yang positif, BMKG telah menetapkan sejumlah strategi baru dalam membuat prediksi iklim. Diantaranya, meningkatkan pemahaman ilmiah tentang pengaruh pemanasan global terhadap sistem iklim; penggunaan teknologi terkini; dan kolaborasi global.

Fachri juga menegaskan, bagi BMKG, keberhasilan tidak hanya diukur pada kemampuan membuat prediksi yang akurat, tetapi lebih penting lagi, bagaimana prediksi tersebut dimanfaatkan oleh stakeholder dan masyarakat untuk mendesain kebijakan dan aksi nyata. (***)

KLIK INI:  Peran Nelayan Skala Kecil dalam Mengatasi Dampak Perubahan Iklim