Perempuan yang Berjalan di Gelombang

oleh -26 kali dilihat
Perempuan yang Berjalan di Gelombang
Ilustrasi gelombang-foto/Pixabay
Irhyl R Makkatutu

Perempuan yang Berjalan di Gelombang

 

tibalah daun itu pada kuncupnya. tebarkan hijau. tandai waktu
kita berjalan terus ke rawa-rawa
benamkan kaki dalam lumpur
kita berkejaran ke laut, membaurkan asin keringat
kita terus saja berjalan
kadang tanpa alas kaki
tanpa payung dalam hujan
…….senyummu bulan sabit…..
…….langkahmu pohon-pohon berakar serabut-kokoh…..
…….matamu hijau teduh…..

kini kau berjalan cukup jauh ke belantara-sendiri
memupuk mimpimu
tentang sebuah lembah dengan bebungaan doa-doa
aku tahu kau akan sampai
lalu bercocok cinta di ladang waktu
….…daun-daun menyentuh jidatmu-khusyuk
…….air mengalir basuh kakimu…..
….…gerimis turun sapu peluhmu…..
kau musim dalam musim

langkahmu semakin jauh menuju gelombang
kau tak juga membuang sauh
kau penakluk gelombang
di napasmu ada gemuruh pinisi
pada lakumu ada tarian padduppa
pada tuturmu ada sinrilik pakasalamak

teruslah berjalan
kita akan bertemu pada gelombang yang pasang
ketika terik mengangkasa
mengundang burung-burung berkicau
daun-daun melambai
….…hidup mesti terus bergerak ke depan…..

kini-sekarang kau kembali tiba pada daun yang menguncup di matamu
…….hijau penuh nostalgia…..
sebuah tanda, usia tak pernah berhenti berjalan
mendekat lalu menjauh
benamkan kita dalam rawa-rawa
ajari kita berjalan di gelombang
…….terus saja berjalan, karena berhenti berarti menyerah pada maut…..

usiamu lalu
usiamu kini
usiamu nanti
pohon-pohon terus bertumbuh

2014
KLIK INI:  Ekofeminisme, Perjuangan Perempuan untuk Keseimbangan Ekologis
=====

Dari Gunung ke Laut

 

bau tanah telah sampai ke kamar
kita masih berbaring

tanah di gunung
semalam diangkut ke laut

kita sedang lelap

Juni, 2021

===

Debat

 

di sebatang pohon yang baru di tebang
kita berdebat panjang

galeri lukis menghadap ke mana?

menghadap ke gunung hijau di sana, saranmu

boleh, dindingnya kita lukisi pohon beringin atau rumpun bambu

kau mengangguk
debat kita usai

2021

===

Menunggu Bekas Bibir

 

lelaki itu sedang duduk di atas jembatan
menunggu sampah lewat

“kucari gelas plastik yang menyimpan bekas bibir kekasihku,” katanya

ia terus saja di sana, matahari pergi dari matanya

2021

===

Yang Lebih Awet

 

adakah yang lebih awet dari rindu

ada,
apa?

sampah plastik

2021

KLIK INI:  Kebiasaan Ramah Lingkungan yang Patut Ditiru dari Dua Aktivis Perempuan di Bulukumba
====

Pertarungan Malam

 

seekor jangkrik berjalan jauh ke hutan saat malam
ia ingin menikmati suaranya sendiri
yang telah kalah bertarung dengan bising kendaraan

2021

===

Asing Jauhku

 

aku jadi lupa lorong-lorong di kotamu
lupa berapa detik lampu merah akan berubah hijau

aku telah berubah asing
pada kamu
pada diri sendiri

di kepalaku, hanya tertinggal pohon kopi
dan bukit kecil di seberang jalan

kadang kubayangkan rumahmu
telah berubah warna catnya
dari cokelat tua ke hijau muda

dan selokan depan rumahmu tak lagi berwarna pekat
tapi bening, di mana tende bisa bermain petak umpat dengan telapak tangan yang hendak menangkapnya

di sini, pada jauhku
ingatan akan lorong di kotamu memudar

tapi peta yang pernah kugambar pada tubuhmu dengan tinta dari larre’
masih terang siang

Juni, 2021

====

Girang

 

begitu tiba di ujung tebing
kau berubah jadi anak kecil
girang, tak menyangka di sana
pada jauh.
sungai mengalir
menuju rumahmu

membawa segala yang bisa hanyut

Juni, 2021

KLIK INI:  Menantu yang Diingini Ibu