Pasang Surut Gravitasi Pengaruhi Perilaku Semua Makhluk Hidup

oleh -18 kali dilihat
Ini Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021
Ilustrasi - Foto/Autocar Profesional

Klikhijau.com – Pasang surut gravitasi rupanya mempengaruhi ritme aktivitas di semua makhluk hidup. Hanya saja fenomena ini sebagian besar telah diabaikan dalam bidang penelitian ilmiah.

Terlepas dari dari faktor-faktor lain seperti terang atau gelap. Para ahli telah mengkonfirmasi bahwa pasang surut gravitasi, khususnya yang dihasilkan oleh bulan dan matahari mempengaruhi perilaku tumbuhan dan hewan.

Klaim itu diungkapkan dalam sebuah studi baru dari University of Campinas (UNICAMP). Dan dipublikasikan dalam Journal of Experimental Botany .

Para peneliti studi itu menjelaskan bahwa mekanika selestial matahari, bulan, dan bumi. Ketiganya mendominasi variasi gaya gravitasi yang dialami oleh semua materi, hidup atau lembam di Bumi.

KLIK INI:  Mengenal Hutan Rawa, Fungsi, Karateristik, dan Sebarannya di Indonesia

Hal itu dinyatakan sebagai pasang surut gravimetri, variasi ini meresap dan selamanya menjadi bagian dari ekologi fisik yang dengannya organisme berevolusi.

“Di sini, pertama-tama kami menawarkan tinjauan singkat dari penjelasan yang diusulkan sebelumnya, yakni bahwa pasang surut gravimetri merupakan kekuatan nyata dan kuat yang membentuk aktivitas berirama organisme. Melalui meta-analisis, kami kemudian menginterogasi data dari tiga studi kasus dan menunjukkan hubungan erat antara pasang surut gravimetri yang ada di mana-mana dan aktivitas siklik,” tulis penulis penelitian tersebut.

Para peneliti juga menjelaskan bahwa semua organisme menunjukkan variasi siklus dalam tingkat aktivitas mereka yang diperlukan untuk bertahan hidup. Siklus ini selaras dengan variasi siang dan malam, atau pergantian musim.

“Semua materi di bumi, baik yang hidup maupun yang tidak bergerak. Mengalami efek gaya gravitasi matahari dan bulan yang diekspresikan dalam bentuk pasang surut,” kata  Cristiano de Mello Gallep, salah satu rekan penulis studi.

Osilasi periodik menunjukkan dua siklus harian dan dimodulasi setiap bulan dan setiap tahun oleh gerakan dua benda langit ini. Semua organisme di planet ini telah berevolusi dalam konteks ini.

KLIK INI:  Ekonomi Inggris Bisa “Terjun Bebas” karena Perubahan Iklim

“Apa yang kami coba tunjukkan dalam artikel ini adalah bahwa pasang surut gravitasi. Menjadi kekuatan yang terlihat dan kuat yang selalu membentuk aktivitas berirama organisme ini,” tambahnya.

Ada tiga kasus

Ada tiga kasus yang dipublikasikan sebelumnya yang menganalisis lalat. Penelitian ini difokuskan pada aktivitas berenang isopoda yang muncul setidaknya 300 juta tahun yang lalu, reproduksi di antara karang, dan modulasi pertumbuhan pada bibit bunga matahari yang disimpulkan dari autoluminesensi.

“Data menunjukkan bahwa tanpa adanya pengaruh ritmik lain seperti pencahayaan atau suhu, pasang surut gravitasi lokal cukup untuk mengatur perilaku siklus organisme ini,” kata Gallep.

Gallep juga menegaskan bahwa bukti tersebut mempertanyakan validitas yang disebut eksperimen bebas. Di mana beberapa faktor lingkungan dikendalikan tetapi osilasi gravitasi tidak dipertimbangkan. Osilasi ini terus ada, dan dapat memodulasi perilaku organisme hidup.

KLIK INI:  Mikroplastik, Ancama Baru dan Nyata bagi Terumbu Karang

Banyak pola ritmik seperti ritme sirkadian terkait dengan siklus siang-malam atau terang-gelap. Namun, beberapa siklus berirama dipertahankan bahkan di bawah kondisi laboratorium yang terkendali.

Para peneliti menganggap organisme pesisir seperti krustasea, di antaranya pengaruh siklus pasang surut tetap ada ketika mereka dipindahkan dari habitat aslinya.

“Hewan-hewan ini memodulasi perilaku mereka selaras dengan pasang surut. Dalam siklus sekitar 12,4 jam yang berasal dari dinamika lunisolar. Bahkan ketika mereka dipindahkan ke laboratorium dengan kondisi perairan yang stabil dan terkendali,” jelas Gallep.

Menurutnya, polanya tetap bertahan selama beberapa hari. Itu cocok dengan waktu pasang surut lunisolar di lokasi di mana organisme dikumpulkan di alam.

KLIK INI:  Selain Swiss, 6 Negara Ini Memiliki Kualitas Air Terbaik di Dunia

“Analisis singkat yang disajikan di sini menyoroti kemungkinan peringatan dalam signifikansi fenomenologis dari apa yang disebut eksperimen bebas di laboratorium,” terang Gallep.

“Berlari bebas tampaknya mengasumsikan bahwa cahaya konstan, kegelapan konstan, atau kelembaban atau suhu konstan menyiratkan kondisi konstan secara keseluruhan dan tidak adanya isyarat temporal pada organisme yang diuji. Ini jelas tidak terjadi, karena beberapa besaran fisika lain dan berbeda dapat bervariasi, dan melakukannya dengan pola siklusnya sendiri,” tutupnya.

KLIK INI:  Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kesehatan Anak?

Sumber: Earth