Mengubah Kebiasaan Makan agar Apa yang Dimakan Tak Jadi Bencana bagi Bumi

Publish by -90 kali dilihat
Penulis: Anis Kurniawan
Mengubah Kebiasaan Makan agar Apa yang Dimakan Tak Jadi Bencana bagi Bumi
Ilustrasi - Foto/Pixabay

Klikhijau.com – Demi keberlanjutan hidup di planet ini, saatnya mengubah cara pandang pada segala hal termasuk pada kebiasaan makan. Bila selama ini, urusan makanan meluluh soal kesehatan diri, saatnya lebih progresif lagi dengan memikirkan agar apa yang kita makan juga baik planet ini.

Makanan atau lebih tepatnya kebiasaan makan kita sangat berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya. Tanpa sadar, penduduk bumi seolah membuat kesalahan fatal dengan fenomena massifnya sisa makanan yang terbuang setiap harinya.

Faktanya, di belahan lain ada krisis makanan dan kelaparan yang mengancam. Makanan yang terbuang juga telah jadi beban serius bagi lingkungan.

“Makanan yang kita makan dan bagaimana kita memproduksinya menentukan kesehatan manusia dan planet ini, dan saat ini kita salah besar,” kata Tim Lang, Profesor kebijakan pangan di University of London, dikutip dari laman Treehugger.com.

Lang adalah bagian dari sebuah proyek bernama EAT-Lancet, yang menyatukan hampir 40 ahli dari 16 negara dengan keahlian di bidang kesehatan, nutrisi, kelestarian lingkungan, sistem pangan, ekonomi dan pemerintahan politik.

KLIK INI:  7 Tanaman yang Paling Sering Jadi Suvenir Pernikahan

“Kita berada dalam situasi bencana,” kata Lang tentang temuan proyek tersebut.

Menurut Lang, meskipun kita telah membangun apa yang disebut dengan sistem pangan berkelanjutan, sebenarnya ada tiga hal yang perlu dibangun secara bersamaan.

Pertama, kita perlu mengurangi sisa makanan; kedua, kita perlu meningkatkan produksi pangan; ketiga, kita perlu mengubah pola diet kita. Di atas semua itu, lanjut Lang, kita perlu bekerja bersama secara global untuk membuat ketiga hal itu menjadi kenyataan.

***

Jadi, bukan hanya planet kita yang dirusak oleh pilihan makanan kita. Saat ini, 3 miliar orang kekurangan gizi, dan satu miliar dari mereka bahkan kelaparan.

Dua miliar orang di bumi makan terlalu banyak makanan tidak sehat, yang mengarah pada apa yang oleh para peneliti kesehatan disebut tingkat “epidemi” diabetes dan penyakit jantung.

KLIK INI:  Ahli: Konsumsi Makanan Tinggi Protein Bisa Berbahaya bagi Jantung

Menurut laporan Global Burden of Disease, pola makan yang salah telah memicu terjadinya kematian dini pada jutaan orang. Menurut laporan tersebut, apa yang kita makan ternyata jauh lebih berisiko daripada hubungan seks yang tidak aman, alkohol, narkoba, dan tembakau.

Pada saat yang sama, sistem pangan global kita saat ini juga turut berkontribusi besar terhadap Gas Rumah Kaca, hingga hilangnya keanekaragaman hayati.

Masalah berikutnya adalah limbah makanan yang seolah sulit terhindarkan. Profesor Lang mengajukan perlunya efisiensi makanan agar tak ada lagi sisa makanan yang dibuang setiap saat. Efisiensi makanan alias diet sehat yang selalu mempertimbangkan ketersediaan sumber daya dan keberlanjutan.

“Menyimpan daftar di bagian depan lemari es dan freezer membantu saya mengingat apa yang sudah saya miliki,” kata Lang.

KLIK INI:  Lebih Bahagia Luar Dalam dengan Eco Life, Begini Penjelasannya!
Diet sehat
makanan
Dengan mengonsumsi beragam makanan nabati utuh, Anda akan dapat memenuhi kebutuhan protein Anda. (Foto: zi3000 / Shutterstock)

Lang merekomendasikan perlunya memulai pengurangan konsumsi daging. Lalu, memulai konsumsi sayuran dan kacang-kacangan.

“Ketika saya mengubah diet saya bertahun-tahun yang lalu, saya fokus pertama hanya mendapatkan lebih banyak sayuran di piring saya. Itu tidak hanya membuat saya kenyang, tetapi saya melihat perubahan positif langsung pada pencernaan saya,” cerita Lang.

Laporan EAT-Lancet menyarankan agar konsumsi daging kita tidak lebih dari 98 gram (3,5 ons) daging merah (babi, sapi atau domba), 203 gram (7,1 ons) unggas dan 196 gram (7 ons) ikan per minggu.

Selain itu, mengurangi konsumsi gula juga sangat penting. Gula dapat diganti dengan madu atau buah.

Pola diet sehat ini bagi Profesor Lang memang tidak mudah, tapi bila dianggap sebagai sebuah eksplorasi, kita akan lebih menikmatinya dan bersenang-senang mencari tahu apa yang kita sukai. Faktanya, ada lebih dari 30.000 tanaman yang dapat dimakan sebagai pilihan alternatif dan menarik dijelajahi seumur hidup.

Kita sudah terbiasa dengan kebiasaan makan yang tak memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan. Tidak ada salahnya pelan-pelan mengubah kebiasaan lama. Terkesan berat, namun tak ada salahnya dipertimbangkan untuk planet ini.

KLIK INI:  Deretan Rutinitas Sederhana dari Rumah yang Ramah Lingkungan
Editor: Ahmad Fikri

KLIK Pilihan!