Mengenal 3 Cagar Alam dari Tanah Sulawesi Selatan

oleh -162 kali dilihat
Mengenal 3 Cagar Alam yang Terdapat di Tanah Sulawesi Selatan
Ilustrasi-foto/BBKSDA Sulsels

Klikhijau.com – Sulawesi Selatan, dalam hal kekayaan alam kelimpahannya tak perlu diragukan. Bahkan di daerah ini, terdapat tiga cagar alam yang menyimpan beragam kehidupan yang khas.

Cagar alam adalah suatu kawasan suaka alam, dikarenakan keadaan alamnya mempunyai kekhasan tersendiri, baik itu tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya, sehingga perlu dilindungan dan perkembangannya pun berlangsung secara alami.

Itu artinya tak semua tempat bisa menjadi cagar alam, beruntunglah Sulawesi Selatan (Sulsel) bisa memiliki tiga cagar alam.

Ketiga cagar alam itu adalah Pegunungan Faruhumpenai, Ponda-Ponda, dan Cagar Alam Kalena. Berikut ulasan singkat ketiganya:

KLIK INI:  Saatnya Berkenalan dengan Beberapa Jenis Kerang Penghasil Mutiara
  •    Cagar Alam Pegunungan Faruhumpenai

Cagar alam ini terletak  Luwu, Sulawesi Selatan. Luasnya  90.000,00 hektare. Secara admnistratif  cagar alam ini terletak di wilayah Kabupaten Luwu Timur.

Sejarah panjang mengiringi cagar alam ini, pertama berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 274/Kpts/Um/4/79, 24 April 1979.

Dan pada tahun 1997 ditunjuk menjadi kawasan hutan berdasarkan SK. Mentan No. : 45/Kpts/ Um/1/1978 tanggal 25 Jan 1978.

Kemudian menjadi kawasan konservasi  dengan keluarnya  SK. Mentan No. 274/Kpts/Um/4/1979 tanggal 24 April 1979. Luasnya kurang lebih 90.000 ha.

Lalu pada tahun 2014 berdasarkan Kepmenhut No. SK. 6590/Menhut-VII/KUH/2014 tgl 28 Oktober 2014 seluas 90.931,63 ha.  Ditetapkan menjadi kawasan konservasi dengan fungsi cagar alam.

Cagar alam ini terdiri dari areal rawa hingga tanah kering dan lapangan yang berbatu cadas.  Faruhumpenai  memiliki topografi mulai dari datar, berombak berbukit-bukit  hingga bergunung. Di beberapa bagian  kawasan terdapat tebing-tebing yang berbatu dan terjal.

KLIK INI:  Fakta Tak Terduga dari Pahlawan Penyerbuk yang Bernama Serangga

Cagar alam ini memiliki potensi ekosistem berupa hutan  hujan tropis pegunungan bawah dan hutan hujan tropis pegunungan atas, hutan rawa air tawar, hutan pamah primer.

Sementara untuk potensi floranya cukup banyak, di antaranya jambu-jambu, pakis, paku hutan, rumah semut, paku layang, sarre, cina-cina, damar, uru, cempaka, kenanga, ponto, polio, kule, kenduruan, waru sirih, muntura, dengen/bolusu, kayu ledang, pude, kayu sanru, manggis hutan, bayur, , kelumpang, durian, salin-salin, terap, hingga beringin.

Sedangkan untuk potensi fauna terdapat  rusa timor, musang sulawesi, babirusa, anoa,  babi hutan, hingga srigunting

  •  Cagar Alam Kalaena

Cara alam ini terletak di Luwu. Luasnya  110.000,00 ha. Lokasi ini menjadi CA berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 428/ Kpts-II/1987, 29 Desember 1987.

Awalnya kawasan ini adalah hutan lindung sebelum menjadi kawasan konservasi yang berfungsi sebagai cagar alam berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan nomor 428/Kpts-II/1987 tanggal 29 September 1987. Kemudian ditetapkan berdasarkan Kepmenhut No. SK. 6590/Menhut-VII/KUH/2014 tgl 28 Oktober 2014 seluas 90.931,63 ha.

KLIK INI:  Setiap 6 Detik Dunia Kehilangan Hutan Seluas Lapangan Bola

Secara  admnistratif cagar alam ini terletak di wilayah Desa Margolembo Kecamatan Mangkutana Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Cagar alam ini memiliki potensi ekosistem berupa hutan pamah sekunder dengan kekayaan flora yang melimpah, di antaranya damar, uru, kenanga, ponto, manggis hutan, jambu-jambu, durian, hingga waru

Sedangkan potensi faunanya juga tak kalah melimpahnya, di cagar alam ini bisa ditemukan  kuskus, boti, , bluwok, musang, kucing hutan, gosong filipina, babi hutan, kuntul kerbau, bangau, belibis,  ayam hutan merah, hingga gajahan.

  •  Cagar Alam Ponda-Ponda

Cagar alam ini bermula dari Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 201/Kpts-II/1999, 14 April 1999. Ponda-ponda terletak  Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Luasnya  77,22 hektare,

Kawasan ini diusulkan menjadi kawasan konservasi oleh Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Propinsi Sulawesi Selatan melalui surat nomor 238/Kwss-6/3/1988 tanggal 2 Maret 1988.

KLIK INI:  Meresahkan, Dunia Ratusan Spesies Capung Terancam Tamat

Usulan tersebut mendapat dukungan dari Gubernur Sulawesi Selatan melalui suratnya yang bernomor 522.02/2641/BKPMD. Surat itu tertanggal 5 Agustus 1988 dan ditujukan kepada Menteri Kehutanan.

Kawasan ini memiliki topografi dari datar hingga bergelombang, dan memiliki kelerengan antara 30 persen hingga 60 persen dengan ketinggian antara 350 hingga  442 meter di atas permukaan laut.

Cagar alam ini memiliki potensi ekosistem berupa hutan pamah sekunder. Ponda-ponda juga memiliki kekayaan flora berupa waru, damar, uru, kenanga, kassa, ponto, manggis hutan, jambu-jambu, durian, dengen/ songi, beringin/nuncu, jabon, bintangur, pude, bonuk, , kume, hingga kayu hitam

Semenara untuk kekayaan fauna cagar alam ini memiliki gosong filipina, kucing hutan, babi hutan, , ayam hutan merah, cekakak, kaleda, gajahan, junai mas, dara laut, cekakak suci, layang-layang, gagak, jalak, isap madu, hingga ular sawah.

Itulah sekilas tentang cagar alam yang terdapat di Sulawesi Selatan, kehadirannya menjadi kebanggaan dan kekayaan tersendiri bagi provinsi ini. Karenanya harus tetap dijaga agar tetap lestari.

KLIK INI:  Pertanian Dapat Berkontribusi Positif pada Perubahan dan Mitigasi Iklim