Melacak Kesehatan Terumbu Karang dengan Suara

oleh -45 kali dilihat
Terumbu karang
Terumbu karang/foto-ppid.menlhk.go.id

Klikhijau.com – Melacak kesehatan terumbu karang. Kini jauh lebih enteng. Para peneliti tidak perlu lagi menyelam ke laut memeriksanya.

Terumbu karang adalah biota laut dengan peran yang tidak sepele. Meski berperan penting terhadap kelangsungan hidup makhluk laut, terumbu karang tidak lepas dari ancaman kepunahan.

Ancaman yang menggorogoti kelangsungan hidup karang bukan hanya satu, tapi banyak. Dominan penyebabnya adalah manusia.

Berdasarkan laman dlh.semarangkota. Ada tujuh ancaman utaman karang, yakni pengambilan terumbu karang secara ilegal, pembangunan di pesisir pantai, pencemaran limbah, penambangan, penangkapan ikan secara ilegal, penebangan hutan mangrove, dan pestisida.

KLIK INI:  Anda Peminum Berat Kopi? Klik dan Ketahui Risikonya

Tidak hanya itu saja ancamannya, tetapi karang juga harus menerima ancaman dari pemanasan global yang dapat memicu pemutihan karang, ditambah dengan penyakit dan hama karang.

Karena itu, berbagai cara telah dilakukan, khususnya para peneliti untuk menyelamatkan terumbu karang. Namun karena berada di dalam air, maka untuk mendeteksi karang yang sehat dan kurang sehat tentu tidak mudah.

Mengukur kesehatan karang dengan suara

Selalu ada kemudahan di balik kesulitan. Begitu pula nasib terumbu karang dalam hal melacak mana yang sehat dan mana yang sakit.

Karena saat ini tim peneliti yang dipimpin oleh University of Exeter telah melatih algoritme komputer menggunakan beberapa rekaman terumbu karang yang sehat dan yang rusak. Alat ini memungkinkan mesin mempelajari perbedaannya.

Saat memasukkan data baru, algoritme ini berhasil mengidentifikasi kesehatan karang sebanyak 92 persen.

Perlu diketahui bahwa terumbu karang memiliki bentang suara yang kompleks – yang diciptakan oleh ikan dan makhluk lain yang hidup di sana.

Suara itu dapat digunakan oleh para ilmuwan untuk mengukur kesehatan karang . Namun, survei akustik tradisional terumbu bergantung pada metode padat karya yang menghadapi kesulitan yang signifikan dalam menilai kesehatan terumbu melalui penggunaan rekaman individu.

“Terumbu karang menghadapi berbagai ancaman termasuk perubahan iklim, jadi pemantauan kesehatan mereka dan keberhasilan proyek konservasi sangat penting,” kata penulis utama studi Ben Williams, seorang mahasiswa doktoral di Soundscape Ecology di University of Exeter.

KLIK INI:  Mengenal Unsur Hara Tanah Beserta Fungsinya bagi Tumbuhan

“Salah satu kesulitan utama adalah bahwa survei visual dan akustik terumbu biasanya mengandalkan metode padat karya. Survei visual juga dibatasi oleh fakta bahwa banyak makhluk karang menyembunyikan diri, atau aktif di malam hari, sementara kerumitan suara karang menyulitkan untuk mengidentifikasi kesehatan karang menggunakan rekaman individu,” tambahnya.

Lebih cepat dan akurat

Pendekatan para ilmuwan untuk masalah ini adalah dengan menggunakan pembelajaran mesin untuk melatih komputer dalam mempelajari  suara karang.

Temuan mereka yang dipublikasikan dalam jurnal Ecological Indicators menunjukkan bahwa komputer dapat mengambil pola yang tidak terdeteksi oleh telinga manusia. Itu dapat mereka gunakan untuk menilai kesehatan terumbu karang dengan lebih cepat dan akurat.

Sementara arti dari banyak panggilan individu dari penghuni terumbu masih belum diketahui. Namun, metode baru ini tetap dapat membedakan antara suara keseluruhan terumbu yang sehat dan tidak sehat.

KLIK INI:  Benarkah Anda Butuh Waktu Tidur 8 Jam? Klik Ini!

“Ini adalah perkembangan yang sangat menarik,” kata rekan penulis studi Timothy Lamont, ahli biologi kelautan di Universitas Lancaster . “Perekam suara dan AI dapat digunakan di seluruh dunia untuk memantau kesehatan terumbu karang, dan menemukan apakah upaya untuk melindungi dan memulihkannya berhasil.”

“Dalam banyak kasus, lebih mudah dan lebih murah untuk memasang hidrofon bawah air di terumbu dan membiarkannya di sana daripada meminta penyelam ahli mengunjungi terumbu berulang kali untuk mensurvei – terutama di lokasi terpencil,” katanya menyimpulkan.

Sahabat hijau, dengan adanya temuan tersebut, menjadi kabar baik untuk menyelamatkan karang dari ancaman kepunahannya.

KLIK INI:  Studi: Ban Bekas Kini Dikembangkan Jadi Beton

Sumber: Earth